Beri Harapan Anak Berkebutuhan Khusus, Ursula Dirikan PAUD Karya Ilahi
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
MAUMERE — Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang melayani anak-anak berkebutuhan khusus sulit sekali ditemui di negeri ini. Bahkan sekolah PAUD Karya Ilahi di Maumere ini mungkin satu-satunya sekolah yang lahir dan eksis di Nusantara.
PAUD Karya Ilahi yang beralamat di jalan Adi Sucipto kelurahan Waioti kota Maumere tersebut mulai ramai diperbincangkan setelah 4 April 2018, Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan rombongan istri para menteri Kabinet Kerja berkunjung ke sekolah ini.
“Saya mendirikan sekolah ini tahun 2009 dan izin operasional baru dikeluarkan tahun 2013. Bukan karena dinas Pendidikan Kepemudaan dan Olahraga (PKO) tidak mau sekolah ini didirikan tetapi mereka meminta kami untuk bersama-sama mencari regulasinya,” sebut Urslua Maria, Kamis (26/4/2018).
Dinas PKO ucap Urslua bertanya, apakah boleh dan ada regulasinya mendirikan PAUD untuk anak-anak berkebutuhan khusus?. Sebab mungkin PAUD ini yang pertama ada di wilayah timur Indonesia bahkan disampaikan oleh isteri Gubernur NTT bahwa di Indonesia baru satu sekolah saja.
Berpengalaman menjadi guru Sekolah Luar Biasa Bhakti Luhur, perempuan kelahiran Lela 19 Juli 1973 ini merasa miris melihat anak berkebutuhan khusus. Kalau mereka diterima bersekolah mulai jenjang Sekolah Dasar (SD) maka itu sudah terlambat.
“Usia keemasan itu juga dimiliki oleh mereka sehingga bisa memaksimalkan kemampuan mereka. Ini juga satu dorongan bagi saya mendirikan sekolah ini dengan segala keterbatasan memanfaatkan tanah milik saya untuk dibangun sekolah,” tuturnya.
Nekat Karena Ditentang
Nama Karya Ilahi berangkat dari kenekatan Ursula yang berkeinginan agar anak berkebutuhan khusus harus memiliki sekolah khusus. Perempuan sederhana ini memiliki pengalaman saat menjadi guru di SLB yang membuatnya miris karena merasa anak-anak tersebut tidak dihargai.
Saat peringatan Hari Pendidikan Nasional, sebutnya, SLB tempatnya mengajar tidak diudang dan dilibatkan sementara sekolah formal lainnya diundang dan anak-anak berprestasi diberikan penghargaan oleh pemerintah.
“Saat hari Disablitas Internasional, 3 Desember kami ingin membuat kegiatan. Saya menghadap seorang pejabat pemerintah periode sebelumnya untuk meminta bantuan dana tetapi dijawab kenapa mau membuat kegiatan kalau tidak mempunyai uang,” ucapnya mengenang.
Saat mendirikan lembaga ini jelas Ursula, dua teman lainnya yang namanya tercatat di akta notaris memilih mundur sebab tidak tahan dengan tekanan. Dirinya tetap melangkah sebab menurutnya kekuatan Tuhan paling sempurna dan tidak bisa dilawan. Campur tangan Tuhan sangat utama.
Untuk membangun gedung sekolah di lahan miliknya, ia menggaji enam guru dan saat ini sedang membangun rumah singgah. Ibu anak perempuan semata wayang berumur lima tahun ini mendapat bantuan dana dari orang tua murid yang peduli terhadap sekolahnya.
“Saya juga kasihan melihat para guru yang mau mengajar meski terkadang tidak mendapat gaji. Namun saat saya meminta mereka untuk mencari pekerjaan lain yang lebih menjanjikan, tapi mereka tetap rela bekerja walau tidak digaji,” tuturnya.
Mungkin secara legal ujar Ursula, pihaknya salah tetapi untuk kemanusiaan dirinya tetap berani melanggar sebab tidak ada pilihan lain. Ini juga dia sampaikan ke Hj. Mufidah Jusuf Kalla dan isteri menteri Pendidikan dan Kebudayaan sata mengunjungi sekolah ini.
Lepas Peluang Emas
Ursula memang perempuan langka di negeri ini sebab dirinya rela mengundurkan diri dari jabatan guru SLB tahun 2014 padahal saat itu sedang ada proses penerimaan guru PNS. Banyak pihak menyesalkan keputusan yang diambilnya untuk fokus mengelola PAUD Karya Ilahi yang dia dirikan.
“Saya tidak bisa membiarkan sekolah ini berkembang atau melemparnya ke tangan orang lain. Saya harus sepenuh waktu mengelola sekolah ini dan konsekuensinya harus total,” tegasnya.
Orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, tutur Maria, merasa seperti vonis mati. Mereka tidak mempunyai harapan sehingga hanya memprioritaskan anaknya yang terlahir seperti anak pada umumnya termasuk soal pendidikan.
Sadar atau tidak sadar, sesalnya, orang tua sendiri membuat diskriminasi dan kenyataannya memang ada kejadian seperti itu. Ini yang membuat dirinya ingin tetap memulai lembaga ini dengan visi yang besar guna memberi harapan kepada anak-anak berkebutuhan khusus.
“Kurikulum kalau di sekolah formal walaupun ada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang katanya otonomi sekolah melakukan itu, tetapi sangat menggeneralisir. Pengalaman saya bertahun-tahun menjadi guru SLB sangat tepat kalau kurikulumnya individu,” ungkapnya.
Ketika berada di lembaga formal seperti SLB, jelas isteri Edward Emilson ini, dia tidak bisa berkata lain selain mentaat. Apalagi pihaknya dikejar dengan daya serap, target, kurikulum dan lainnya.
Ursula berpikir itulah hal-hal yang memotivasi memulai sekolah ini dan dalam perjalanan visi ini bisa diwujudkan. Ada anak yang masuk PAUD Karya Ilahi dengan usia 2 atau 3 tahun dan tidak bisa berbicara sesuai diagnosa dokter, ternyata setelah dididik mereka bisa berbicara.
“Kami membuat suatu langkah yang lain dimana pendidikan anak usia dini di sekolah ini ada dua kategori yakni dini secara umur dan dini secara kemampuan. Sebenarnya ada lima ruang kelas tetapi kami tidak memiliki kantor sehingga dua ruang kelas disekat menjadi empat ruangan dan dua lainnya tidak disekat,” terangnya.
Bekerja dalam Diam
Awal mendirikan sekolah sempat ada usulan dinas PKO Sikka agar kalau bisa sekolah didirikan setelah jumlah muridnya minimal 20 anak. Ursula berpikir terlambat kalau begini sehingga dia tetap memulainya.
Baginya jumlah jangan menjadi tuntutan karena rasio perbandingan guru dan murid di sekolah PAUD Karya Ilahi saja beda. Di TK atau PAUD umum satu guru bisa menangani 8 atau 10 anak anak tapi di sini satu guru menangani satu anak dengan waktu belajar satu jam hingga dua jam.
“Kami mulai 07.30 WITA sampai 19.00 WITA hari Kamis dan Jumat sementara hari Senin, Selasa, Rabu dan Sabtu selesai belajar 18.00 WITA. Ada saatnya anak harus ke kelas transisi dimana dua murid ditangani satu guru untuk persiapan masuk ke sekolah regular,” bebernya.

Beberapa tahun ini, setiap tahun, sebut Ursula, ada satu dua anak yang kembali bersekolah di sekolah umum. Ada yang bertanya kenapa jumlahnya sedikit sekali dan dia katakan, kita jangan melihat jumlahnya tetapi lihat juga betapa sulitnya mendidik anak-anak berkebutuhan khusus.
Tantangan terbesar sekolah ini, sebut perempuan 44 tahun ini, adalah pola pikir dari orang tua sendiri. Kalau orang tua tidak mempunyai harapan kepada anak, pesannya, jangan menyekolahkannya di sekolah miliknya.
“Makanya setiap hari Sabtu kami mengadakan pertemuan antara guru dan orang tua. Anak tidak pernah minta dilahirkan dan Tuhan Yang Maha Kuasa tidak pernah menciptakan sesuatu yang gagal. Meyakinkan orang tua murid tersebut tidak gampang,” paparnya.
Ursula merenung dan bertanya, dengan situasi dan kondisi keuangan sekolah yang tidak pasti, sampai kapan sekolah ini akan tetap bertahan. Guru-guru pun mengajar tanpa diberi gaji.
Setelah kunjungan Hj. Mufidah Jusuf Kalla, tandasnya, nama sekolahnya sering disebut orang sehingga pihaknya sangat bersyukur sekali. Dengan nama sekolahnya disebut saja dia sudah bersyukur. Selain itu tiga guru pun dibiayai kuliah ke jenjang Strata Satu oleh Rotary Club.
“Kami mencari dana dengan menjual kalender yang disumbang oleh orang tua murid. Dananya kami pergunakan untuk membiayai pelatihan bagi guru-guru. Kami juga masih memerlukan tenaga ahli untuk memberikan pendampingan bagi guru dan juga anak-anak,” bebernya.
Ursula tidak pernah mempromosikan sekolah ini dimana-mana dan kaget dengan adanya kunjungan Hj. Mufidah Jusuf Kalla ke sekolahnya. Dalam keterbatasan dirinya masih bersemangat seraya lantang berujar akan tetap berkarya dalam diam. Hal ini sesuai misi sekolah ini yakni “Mengabdi dalam Keterbatasan dan Sempurna karena Karya Ilahi”.