Wijaya Sukses Budi Daya Semut

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Memanfaatkan kondisi lingkungan alam di sekitar desanya, seorang pemuda di Dusun Soronanggan, Tawangsari, Pengasih, Kulonprogo berhasil mengembangkan usaha budi daya semut Ngangrang atau Rangrang. 

Berawal dari mencari kroto (telur semut Ngangrang) di alam untuk dijual sebagai pakan burung berkicau, ia berinisiatif membudidayakan sendiri kroto tersebut dengan cara membuat sarang semut menggunakan toples plastik. Siapa sangka, usahanya itu pun berhasil, hingga banyak ditiru dan diikuti pembudidaya kroto lainnya dari berbagai daerah.

Adalah Priyo Sugiharto Wijaya (34), lelaki yang mulai mencoba budi daya kroto sejak 2012 lalu. Saat itu, usaha budi daya kroto atau telur semut Ngangrang memang masih sangat jarang. Mayoritas kroto didapat dari hasil tangkapan alam.

“Awalnya, saya juga mencari kroto di alam. Tapi, kendalanya saat musim hujan, kroto susah didapat. Kemudian saya berpikir, kenapa tidak dibudidayakan sendiri, jadi bisa dipanen setiap saat tanpa perlu mencari,” katanya, Rabu (21/03/2018).

Bermodal membaca referensi tata cara budi daya kroto di luar negeri dengan memanfaatkan internet, Wijaya pun nekat memulai usaha budi daya kroto. Ia mencari sarang semut yang banyak terdapat di pohon sekitar desanya untuk kemudian dipindahkan di rak khusus berisi toples yang berfungsi sebagai sarang.

“Awalnya hanya coba-coba. Paling susah itu membiasakan semut yang sudah terbiasa hidup liar di alam, lalu dipindah ke tempat baru yang disediakan. Seringkali gagal, karena semut tidak mau makan, tidak mau bersarang, apalagi bertelur,” katanya.

Namun, berkat ketelatenannya, sekitar satu tahun Wiyaya akhirnya mulai berhasil membudidayakan semut-semutnya. Ia mengaku harus mempelajari pola atau kebiasaan semut yang hidup secara berkoloni.

“Inti budi daya kroto adalah memindahkan koloni semut ke tempat yang kita kehendaki. Yang terpenting adalah menciptakan kondisi lingkungan budi daya semirip mungkin dengan kondisi di alam. Selain itu menjaga jumlah koloni, agar tetap stabil,” katanya.

Kini, Wijaya mengaku memiliki 300-500 toples sarang kroto yang ditempatkan di dua kandang berbeda. Satu toples sarang dikatakan bisa menghasilkan 0,5 – 1 ons kroto sekali panen, dengan jangka waktu setiap 20-25 hari. Sementara harga jual krotoi berkisar antara Rp150-200 ribu per kilogramnya.

“Perawatannya cukup mudah, hanya diberi makan sehari dua kali. Yakni, berupa jangkrik, ulat hongkong, cicak, belalang atau semua macam jenis serangga. Semua bisa dicari di alam. Sedangkan untuk minumnya air gula manis,” katanya.

Agar kandang tetap dalam kondisi sedikit lembab dan sejuk, Wijaya biasa menyemprot kandang beberapa kali sehari. Sementara untuk pemasaran sendiri ia banyak mendapat pelanggan dari promosi di internet.

“Pelanggan biasanya adalah para penghobi dan peternak burung berkicau seperti murai, dan sebagainya. Selain juga para penghobi mancing. Selama ini saya biasa kirim ke berbagai daerah, baik Jawa, Bali, Sumatera, Batam, hingga Kalimantan,” katanya.

Selain menjual kroto, Wijaya juga masih bisa mendapatkan hasil dari menjual bibit semut koloni dan ratu. Biasanya, pembeli adalah mereka yang ingin terjun atau berniat menjadi pembudidaya kroto.

Wijaya mengaku biasa menjual satu toples sarang dan koloni semut seharga Rp30 ribu. Sementara satu ekor ratu semut dihargai Rp50 ribu.

Lihat juga...