Toha Idris Sekolahkan Dua Anaknya Lewat Souvenir Khas Kaltim
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BALIKPAPAN — Mengawali dari pintu ke pintu rumah untuk menawarkan pruduk usahanya berupa souvenir dan barang antik dari Kalimantan Timur, Toha Idris (60) berhasil bertahan mengembangkan usahanya selama 26 tahun.
Tahun 1991, ia terus melakukan ekspansi usahanya dari barang antik yang dijual warga Kaltim dan membuat kerajinan tangan dari anyaman rotan maupun manik. Bermodalkan tenaga dan uang yang tidak banyak, dirinya pun optimis usahanya dapat bertahan dan bersaing dengan produk usaha lainnya.
“Tahun 1991 mulai berusaha dengan usahanya, dari satu kantongan menjadi dua kantongan, menawarkan dengan door to door. Barangnya cari di Melak, Wahau, langsung orang Dayak,” ungkapnya saat ditemui Selasa, (20/3/2018).
Toha mengaku mengawali bisnisnya tidak dengan modal yang besar namun yang terpenting dari setiap harinya berjualan kemudian disimpan untuk menambah modal selanjutnya. Perlahan, pihaknya mulai menemukan perusahaan BUMN yang bisa memberikan modal usaha untuk mengembangkan usahanya.
“Modal pinjaman dari salah satu perusahaan Minyak di Balikpapan, dan sudah tiga kali saya mengajukan pinjaman. Alhamdulillah usaha saya mampu bertahan 26 tahun, bahkan saya suka diajak mempamerkan produk souvenir dan barang antik,” kata pria yang tinggal di Kelurahan Graha Indah, Balikpapan Utara.
Hasil yang diperoleh dari usahanya tak tanggung-tanggung, dalam sebulan Toha bisa merauh Rp15 juta hingga Rp50 juta. “Dulu bisa segitu, tapi sekarang karena ekonominya lagi sulit sudah berkurang yang cari barang antik. Banyak dicari souvenir khas Kaltim seperti kalung, gelang, topi dan lainnya,” sebut bapak yang telah berhasil menyekolahkan dua anaknya hingga Perguruan Tinggi.
Sejak tiga tahun ini dikatakannya, hasil penjualan menurun sebagai dampak dari lesunya ekonomi daerah khususnya tambang.
“Sekarang itu satu bulan alhamdulillah bisa dapat Rp3-5 juta sangat bersyukur. Dan harapannya usahanya akan tetap bertahan, karena selain suka dengan barang antik, juga suka dengan kerajinan tangan khas Kaltim yang banyak diminati pengunjung,” beber pria Kelahiran Bone, Sulawesi Selatan.
Toha berharap produk UKM miliknya akan tetap bertahan di tengah persaingan bisnis yang semakin ketat dan tetap berpenghasilan untuk menghidupi keluarganya.
“Sekarang sovenir aksesoris yang disukai, kalau barang antik sudah kurang. Harapannya tetap jalan usaha, dan tetap jadi pilihan pengunjung,” tutupnya.