Silaturahmi Muhammadiyah ke NU, Haedar Nasir: Komitmen Kita untuk Indonesia Satu Nafas
Editor: Irvan Syafari
JAKARTA — Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir beserta Sekertaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti melakukan kunjungan silaturahmi ke Kantor PN NU, Jakarta. Mereka diterima oleh Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj dan Sekjen PBNU Helmy Faishal Zaini.
Silaturahmi kedua petinggi ormas Islam terbesar di Indonesia ini, selain untuk memperat persaudaraan, juga membahas berbagai persoalan kebangsaan.
“Ahlan wa sahlan, kunjungan saudara tua kita, lebih senior daripada NU. Muhammadiyah lahir pada 1912. Jadi kakak sulung sebenarnya Muhammadiyah ini,” kata Said membuka suasana pertemuan di lantai 5 kantor PBNU, Jakarta, Jumat (23/3/2018) sore.
Menurut Said, pertemuan ini merupakan rekonsilidasi antara dua organisasi Islam selama kurun waktu yang cukup lama. Maka dengan jalinan silaturahmi harus ditindaklanjuti dengan menyamakan persepsi. Karena itu, kata Said, NU dan Muhammadiyah perlu memiliki cara berpikir yang sama tentang kebangsaan.
Dikatakan Said, perbedaan pandangan dalam berbangsa tidak masalah sepanjang itu membangun.”Beda dikit tidak apa-apa, tapi garis besar atau tujuan sama,” kata Said.
Menurutnya, sejak dulu kedua organisasi ini sudah menyetujui, Indonesia merupakan negara kebangsaan. Itu artinya, Indonesia bukan negara agama atau suku.
“Silatul afkar harus ditindaklanjuti dengan kerja sama. Mari membangun organisasi silaturahmi dan membangun jaringan silatul amal,” ujarnya.
Bahkan, kata Said, Nabi Muhammad sudah mencontohkan dengan membangun jaringan yang luas. Beliau berhasil membangun jaringan ekonomi dan sosial. Maka pada pertemuan ini, Said berharap mampu melahirkan kerja sama ekonomi dan sosial.
“Puncak dari silaturahmi ini, yaitu adanya komunikasi spiritual. Itu yang paling penting, saling mendoakan,” papar Said.
Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir membalas sambutan Said. Haedar mengatakan, dirinya berlima mewakili PP Muhammadiyah memang datang mengunjungi adik bungsu yaitu Nahdlatul Ulama (NU).
“Adik bungsu itu nakal-nakal biasa. Kalau tidak nakal bukan adik bungsu. Jadi kami silaturahmi, dan memang sejak awal tidak pernah terpisah,” kata Haedar.
Alhasil pertemuan itu bergelora tawa para tamu yang hadir di ruangan itu termasuk awak media.
Haedar mengatakan, dalam satu keluarga adalah kita sebut keragaman. Bisa dikatakan kalau pertemuan ini antara Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan.
Apalagi kata Haedar, Muhammadiyah dan NU memiliki peran besar terhadap berdirinya Indonesia lewat dua pendirinya, KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asy’ari. Kiai Ahmad Dahlan dan Kiai Hasyim mempunyai guru yang sama.
Selain KH Ahmad Dahlan bersahabat dengan KH Hasyim Asy’ari. Menurut Haedar, KH Ahmad Dahlan juga bersahabat dengan tokoh-tokoh pendiri Sarikat Islam dan Taman Siswa. Ini suatu kekayaan dari para tokok Islam, bahwa mereka sejak awal sudah menyatu di dalam Keindonesiaan dan Kenusantaraan untuk perjuangan kemerdekaan.
Tapi juga di saat yang sama ada nuansa yang sangat gentar di mana cita-cita Islam sebagai agama yang rahmatanlilalamin. Juga memang Islam yang memang menyatu dan memiliki visi kebangsaan yang dibelakang hari baru kelihatan ada momen yang kritis.
“Tapi komitmen kita untuk Indonesia satu napas. Karena itu bukan satu yang spesial kalau sore ini kita silaturahmi. Cuma momennya ini, saya tidak tahu seperti ada yang spesial,” pungkas Haedar.