Rindukan Pak Harto, Semarak UMKM Jaya Digelar di TMII

Editor: Satmoko

JAKARTA – Kerinduan akan kepemimpinan Bapak Pembangunan Indonesia HM Soeharto yang sukses menjaga stabilitas negara dan pertumbuhan ekonomi dituangkan dalam gelaran bertajuk “Semarak Membangun UMKM Jaya”.

Gelaran dalam rangkaian peringatan Bapak Pembangunan ini dilaksanakan di Plaza Tugu Api Pancasila Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, pada 10–11 Maret 2018.

“Semarak Membangun UMKM Jaya ini penghormatan untuk Pak Harto ‘Bapak Pembangunan Indonesia’ yang telah menorehkan tinta emas menciptakan swasembada pangan Indonesia yang diakui dunia,” kata Ketua Pelaksana Semarak Membangun UMKM Jaya, Rudy Cahyadi kepada Cendana News, Sabtu (10/3/2018).

Selama kepemipinan tiga puluh dua tahun, kata Rudy, sumbangsih Pak Harto untuk pembangunan bangsa Indonesia tak terbantahkan. Terbukti, pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur hingga sektor pertanian melaju pesat.

Bahkan, kata Rudy, gejolak ekonomi pada tahun 1966 yang menghantam bangsa ini diwarnai dengan tingkat inflasi menyentuh angka 650 persen, berhasil dipulihkan berkat kepemimpinan Pak Harto.

“Pak Harto telah menorehkan sejarah mengubah status Indonesia sebagai sebuah negara pengimpor beras di dunia kala itu, berubah menjadi negara pengekspor beras nomor 2 di dunia. Kita mencapai swasembada pangan beras,” ungkap Rudy.

Menurut dia, peran Pak Harto sangat besar dalam mewujudkan perubahan ekonomi yang dirasakan sangat signifikan oleh rakyat Indonesia.

Ini, tak dipungkiri, kata Rudy, membuat rakyat Indonesia kini merindukan sosok Bapak Pembangunan Indonesia. Yang tak hanya sukses meningkatkan pertumbuhan ekonomi tapi juga menjaga stabilitas keamanan dan kerukunan bangsa.

Ratusan UMKM memeriahkan acara Semarak Membangun UMKM Jaya dalam rangka mengenang Bapak Pembangunan Indonesia “Pak Harto” di Plaza Tugu Api Pancasila TMII, Jakarta, Sabtu (10/3/2018). Foto: Sri Sugiarti.

“Strategi kepimpinan Pak Harto sangat luar biasa, baik dalam bidang ekonomi dan kemiliteran hingga tercipta keamanan dan kerukunan. Tidak seperti sekarang carut-marut, arahnya nggak jelas,” kata Rudy.

Kembali Rudy menegaskan, bahwa acara ini digelar untuk melawan lupa akan sumbangsih Pak Harto pada negeri ini di masa keemasan pemerintahannya.

Rudy berharap berbagai program swasembada pangan bisa dikibarkan oleh para pelaku UMKM di bawah binaan TMII maupun HIMPIKONDO (Himpunan Pengusaha Mikro Kecil Menengah Indonesia) dan mitra lainnya yang bergabung dalam acara ini.

“UMKM ini bagian yang tak bisa dilepaskan dari peran Bapak Pembangunan Indonesia membangun ekonomi bangsa,” ujarnya.

Satu kegiatan Kelompencapir, contohnya, kata Rudy, Pak Harto mampu menumbuhkan komunikasi dengan para petani. Sehingga tercipta komunikasi dua arah yang berhasil membangun wirausaha-wirausaha kecil yang akhirnya berdampak di era sekarang, hadirnya para pelaku UMKM.

Disampaikan Rudy, misi yang diemban penyelenggara acara ini adalah untuk memperkuat pasar UMKM, mengoptimalkan jejaring kemitraan lintas sektoral-regional maupun mancanegara. Selain itu, mengakselerasi pengembangan UMKM ke seluruh penjuru negeri dan meningkatkan kompetensi produktivitas.

Selebihnya, lanjut Rudy, memberikan perlindungan usaha dan advokasi sampai terwujud peluang kerja ataupun tenaga kerja dalam rangka pencapaian swasembada pangan yang berkelanjutan.

Tentu, ungkap Rudy, kegiatan ini tidak dengan semarak bazar saja. Tapi juga memberikan program-program sosialisasi bagaimana membangun wirausaha lewat seminar terkait hak cipta, sertifikasi halal, pembiayaan, dan pencatatan keuangan akuntansi berbasis android.

Menurutnya, UMKM saat ini masih belum sepenuhnya menyadari proses manajemen bisnis secara terukur dan memiliki standar. Fakta di lapangan, pelaku UMKM masih banyak menjalankan usaha secara konvensional.

Yakni, sebut dia, belum memiliki satu pencatatan yang terukur serta profesional. Mereka hanya menggunakan pembukuan yang sangat tradisional, sehingga di mata pihak perbankan dianggap masih jauh dari bankable yang notabene sulit memperoleh kucuran dana.

Rudy berharap, UMKM bisa tumbuh dan berkembang hingga bisa naik kelas. “Kalau UMKM naik kelas, bangsa berdaulat. Sehingga UMKM itu bisa mandiri membangun peluang unggul dan kuat,” imbuhnya.

Saat ini, kata Rudy, UMKM naik kelas baru mencapai 1 juta. Sedangkan target dari Kementerian Koperasi dan UKM adalah UMKM naik kelas itu 5 juta.

Untuk mewujudkan target tersebut dibutuhkan pencatatan data pelaku UMKM. Apalagi, kata dia, karena UMKM itu salah satu aspek yang tidak kena dampak ekonomi global. Maka strategi bisnisnya harus ditingkatkan dengan pembinaan dan pencatatan yang terstandarisasi.

“Acara ini kan diikuti 150 UMKM, saya harapkan mereka semua bisa naik kelas mampu menghadapi era globalisasi,” ujarnya.

Rudy berharap acara ini bisa digelar setiap tahun di beberapa tempat sebagai wujud penghormatan kepada HM. Soeharto, Bapak Pembangunan Indonenesia yang sumbangsihnya benar-benar dirasakan oleh rakyat Indonesia.

Lihat juga...