Punya Penangkaran, Pemprov Kaltim Optimis Penuhi Kebutuhan Bawang Merah

Editor: Satmoko

BALIKPAPAN – Meski baru mampu memenuhi kebutuhan sebesar 10 hingga 20 persen, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur optimis secara bertahap akan memenuhi kebutuhan daerah sendiri ke depan. Mengingat pengembangan budidaya bawang merah terus digencarkan oleh Kaltim, dan petani mulai tertarik untuk menanam bawang merah.

Kepala Dinas Pangan, Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, H Ibrahim menjelaskan, ketertarikan petani untuk membudidayakan bawang merah menambah pasokan kebutuhan bawang merah untuk masyarakat, sehingga ke depan Kaltim bisa menjadi sentra produksi bawang merah yang menjadi target daerah.

“Kita kalau bisa berdiri di kaki sendiri, artinya mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan. Makanya kita terus gencarkan ke petani, pemerintah juga kasih stimulus bantuan bibit. Tapi tak hanya pemerintah. Bagaimana peran swasta dalam membantu petani,” ucapnya saat ditemui Senin (5/3/2018).

Adapun daerah yang melakukan penanaman bawang merah yaitu Kecamatan Babulu Kabupaten Penajam Paser Utara, Kabupaten Paser, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Balikpapan dan Samarinda.

“Jumlah daerah yang membudidayakan bawang merah juga bertambah. Teknologi juga kita terus tingkatkan. 1 hektare lahan bisa menghasilkan 8-10 ton bawang merah, dan Kaltim memiliki ratusan hektare yang bisa ditanami bawang merah,” terang Ibrahim.

Kendati sudah banyak petani yang menanam bawang merah, pihaknya mengaku persoalan yang ditemui saat ini adalah anjloknya harga apabila panen tiba. Apalagi jika panen bersamaan dengan daerah produsen yang memasok kebutuhan bawang merah.

“Masalah harga ini juga berpengaruh, seperti sekarang panen tapi harga anjlok. Masalah harga ini tergantung produsen di nasional, karena pemasok terbesar ada di Brebes dan Sulawesi. Jadi kalau mereka panen, otomatis harga bisa anjlok, karena panen bersamaan,” ujarnya.

Menurut Ibrahim, masalah anjloknya harga ini dapat diantisipasi dengan kehadiran gudang penangkaran bawang merah yang dibangun Bank Indonesia di beberapa kabupaten dan kota. Karena waktu bertahan bawang akan lebih lama sehingga penjualan juga bisa dilakukan secara bertahap.

“Karena itu dengan adanya rumah penangkaran bawang bisa menyimpan, jadi bisa bertahan enam bulan. Sehingga petani tak perlu khawatir saat panen karena sudah tersedia tempat penyimpanan. Kualitas tetap terjaga,” tandasnya.

Ilustrasi. Dokumentasi CDN

Dia berharap, Kaltim mampu menjadi sentra produsen bawang merah untuk masyarakatnya sehingga kemandirian pangan dapat terus dilakukan tanpa berharap dari daerah lain. Mengingat saat ini pasokan bahan pangan masih dari pulau Jawa dan Sulawesi.

“Petani sekarang sudah banyak yang menanam bawang meski untuk bawang tanamnya agak rumit juga. Pengaruh embun juga bisa mempengaruhi tanaman. Kita kalau bisa berdiri di kaki sendiri, artinya mandiri untuk memenuhi kebutuhan pangan,” tandas Ibrahim.

Lihat juga...