Perkuat Toleransi Antar Umat Beragama dengan Perbanyak Dialog
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
SOLO — Toleransi antar umat beragama masih menjadi persoalan serius yang harus mendapat perhatian bagi pemerintah maupun pemangku tokoh agama. Pasalnya, meski sikap toleransi selama ini telah digaungkan, namun kasus intoleransi masih saja terjadi.
Hal inilah yang coba diangkat Lembaga Kh@lifah dengan menggelar Srawung Kebangsaan, dengan menghadirkan berbagai tokoh antar umat beragama di Solo dan sekitarnya. Dalam diskusi lintas agama itu dikemukakan sikap intoleran masih saja terjadi di Indonesia, bahkan sesama umat beragama masih terjadi gesekan.
“Secara sadar atau tidak sadar, gesekan antar kelompok agama masih terjadi. Mereka saling menunjukkan indentitasnya. Bagaimanapun toleransi masih menjadi tantangan hingga saat ini,” ungkap Katib Syuriah PCNU Sukoharjo, Sulhani Hermawan dalam Srawung Kebangsaan yang digelar Lembaga Kh@lifah di Hotel Ommaya Sukoharjo, Jumat (2/3/2018).
Toleransi kian menjadi tantangan disaat adanya pihak-pihak yang mencoba membuat keruh persatuan dan kesatuan serta kerukunan antar umat beragama. Sehingga ancaman yang muncul adalah konflik sosial yang melebar dan berkepanjangan. Sebagai antisipasi adanya konflik sosial, dirinya memberikan sejumlah langkah untuk memupuk sikap toleransi.
“Salah satu langkah yang harus digalakkan adalah seperti dialog lintas agama seperti ini. Selain itu bisa juga dikembangkan pertemuan lintas tokoh agama, dialog sosial kemasyarakatan, dialog theologis dan spiritual,” terangnya.
Berbagai kegiatan itu, imbuh Sylhani, dapat menumbuhkan sikap positif dari masing-masing ajaran agama. Tumbuhnya sikap toleransi perlu campur tangan negara sebagai wujud adanya pemerintah di Indonesia.
“Campur tangan negara dalam membina dan memberi kesempatan masyarakat untuk hidup harmonis sebagai implementasi toleransi ini sangat penting. Karena negara memiliki Pancasila yang mampu menciptakan kerukunan umat beragama. Baik suku, ras maupun kepercayaan,” tambah Magabudhi Surakarta, Pmd. Ir. Virajayo Johny Chandra dalam dialog tersebut.
Pancasila, lanjutnya, akan berjalan beriringan dengan sikap NKRI dan Kebhinekaan. Sikap toleransi harus ditumbuhkan dan dimulai dari diri sendiri. Dengan menumbuhkan sikap toleransi akan mampu menumbuhkan sikap nasionalisme sekaligus menghilangkan sifat mengkultuskan diri sendiri maupun kelompok.
“Oleh karena itu, Srawung Kebangsaan diharapkan mampu menumbuhkan wawasan kebangsaan sebagai jatidiri bangsa. Bagi generasi muda, sikap toleransi ini sangat penting agar tidak terjebak dalam faham radikal yang dapat merusak persatuan dan kesatuan,” tandasnya.