Penambahan Utang Lebih Cepat dari Output, Gerogoti Stabilitas

Editor: Koko Triarko

Peneliti INDEF, Ahmad Heri Firdaus pada diskusi bertajuk "Menggugat Produktivitas Utang" di kantor INDEF, Jakarta, Rabu (21/3/2018). -Foto: Sri Sugiarti.

JAKARTA – Produktivitas utang terbukti belum mampu mendorong pertumbuhan investasi sektor produktif secara signifikan, sehingga output perekonomian relatif stagnan. 

Demikian disampaikan Peneliti Institute for Development of Economic and Finance (INDEF), Ahmad Heri Firdaus, pada diskusi bertajuk “Menggugat Produktivitas Utang” di kantor INDEF, Jakarta, Rabu (21/3/2018).

Menurutnya, dampak utang dalam rangka percepatan pembangunan infrastruktur memang tidak serta-merta terjadi dalam jangka pendek. Namun, setidaknya akan menumbuhkan optimisme perekonomian, terutama investasi.

Pasalnya, kata Heri, Indeks Tendensi Bisnis (ITB) dan berbagai survei tentang ekspektasi perekonomian tidak mengalami akselerasi pertumbuhan.

“Akibatnya, output pertumbuhan ekonomi tak beranjak dari 5 persen. Ini menggambarkan produktivitas utang dalam mendorong perekonomian relatif rendah. Karena utang tumbuh double digit, ekonomi tumbuh single digit,” ujarnya.

Ini tergambar dengan perhitungan Produk Domestik Bruto (PDB) harga berlaku. PDB Indonesia dalam tiga tahun terakhir 2015-2017 meningkat dari Rp11.526,33 triliun pada 2015 menjadi Rp12.406,77 triliun, di 2016. Dan, Rp13.588,80 triliun pada 2017 , atau rata-rata naik 8,74 persen per tahun.

Baca: INDEF: Utang Indonesia Tumbuh Pesat

Sementara itu, lanjut dia,  total utang pemerintah pada periode yang sama sebesar Rp3.165,13 triliun atau USD229,44 miliar di 2015 ke posisi Rp3.515,46 atau USD261,64 miliar pada 2016. Sedangkan 2017, sebesar Rp3.938,45 triliun atau USD290,7 miliar atau rata- rata naik 14,81 persen. Ini dengan denominasi Rupiah atau 11,52 persen dengan denominasi USD.

Dia menegaskan, jika tidak segera dikendalikan, maka laju penambahan utang yang lebih kencang dari laju peningkatan output perekonomian, akan semakin menggerogoti stabilitas perekonomian.

“Stabilitas rupiah terombang-ambing dominasi asing,” ujarnya.

Ini, menurutnya, berdampak utang pemerintah yang komposisinya sebagian besar berupa penerbitan obligasi 81 persen didominasi oleh porsi kepemilikan asing sekitar 40 persen. Ini trennya meningkat dari tahun ke tahun telah membuka ruang peningkatan volatilitas nilai tukar rupiah.

“Saat perekonomian global mengalami tekanan seperti saat ini, maka potensi arus modal keluar akan meningkat,  dan selanjutnya membuat rupiah semakin berfluktuasi,” ungkap Heri.

Heri menegaskan, dominasi utang jangka panjang tidak berarti aman jika produktivitas perekonomian stagnan. Karena pada prinsipnya, optimisme perekonomian jangka panjang juga ditentukan oleh rangkaian kinerja ekonomi dalam jangka pendek.

“Jika Indonesia tidak segera keluar dari stagnan pertumbuhan 5 persenan, lalu bagaimana mungkin prospek ekonomi jangka panjang akan secerah harapan, sehingga utang dapat terbayarkan?” katanya, mempertanyakan.

Lihat juga...