Korban Banjir Way Sekampung Berangsur Pulang
Editor: Satmoko
LAMPUNG – Sebanyak 120 kepala keluarga pengungsi korban banjir luapan Sungai Way Sekampung Desa Bandar Agung Kecamatan Sragi Lampung Selatan mulai kembali ke rumah masing-masing dan meninggalkan tenda pengungsian pada Minggu sore (18/3).
Sebanyak 120 kepala keluarga yang mengungsi, disebut Asikin selaku Sekretaris Desa Bandar Agung, masih bertahan sebanyak 10 keluarga di tenda pengungsi terbuat dari terpal di tanggul penangkis. Puluhan warga yang masih bertahan merupakan warga Dusun Umbul Besar yang bagian dalam rumahnya masih terendam banjir.
Selain sebanyak 10 kepala keluarga di Dusun Umbul Besar, sebanyak 8 kepala keluarga di Dusun Bunut Utara masih mengungsi di masjid Manbaul Huda. Asikin menyebut, pasca-banjir selama dua pekan air perlahan surut.
Posko kesehatan juga telah dipindah ke Puskesmas, termasuk beberapa petugas yang siaga di lokasi banjir. Meski demikian, sejumlah bantuan masih mengalir di antaranya berupa bahan makanan, sebagian besar berupa mie instan dan beras.
Meski posko kesehatan sudah tidak berada di lokasi banjir, Asikin mengaku petugas kesehatan tetap siaga di Puskesmas desa. Bagi warga yang mengalami keluhan penyakit dianjurkan mendatangi Puskesmas desa. Bagi korban banjir akan tetap mendapat pelayanan pengobatan gratis seperti saat posko kesehatan siaga di lokasi banjir.
“Sebagian besar warga sudah kembali untuk membersihkan bagian dalam rumah di antaranya membersihkan lumpur dan juga mencuci perkakas di dalam rumah yang terendam banjir selama dua pekan,” terang Asikin, selaku Sekretaris Desa Bandar Agung saat dikonfirmasi Cendana News, Minggu sore (18/3/2018).
Sebagian warga yang mulai kembali bahkan sudah membersihkan sebagian rumah dan memperbaiki beberapa bagian rumah terutama rumah yang terbuat dari geribik bambu.

Selain kerusakan rumah, juga kerusakan infrastruktur jalan desa yang terbuat dari aspal dan rigid beton. Akses jalan yang terendam banjir dari aspal dan rigid beton mengalami kerusakan akibat bagian tanah amblas dan saat dilintasi kendaraan semakin rusak. Sebagian warga yang sudah bisa melintas di akses jalan desa bahkan masih harus melewati jalan yang tergenang air.
Udin, salah satu warga yang rumahnya sudah mulai tidak terendam banjir menyebut, kerusakan akses jalan desa terjadi pada beberapa titik. Selain berlubang dan masih digenangi air, akses jalan utama di desa tersebut masih tidak bisa dilintasi sehingga warga masih mempergunakan jalan alternatif di tanggul penangkis.
“Warga masih belum bisa melintas di akses jalan desa karena sebagian masih terendam, bahkan akibat pasang air laut,” beber Udin.

Hasim, salah satu warga yang rumahnya mulai surut dari genangan banjir menyebut masih kesulitan menggembalakan ternak kambing miliknya. Selama dua pekan ia bahkan mengaku masih mengandangkan ternak miliknya dan belum bisa digembalakan. Selama banjir ia mencari pakan dari sejumlah tanggul tambak karena ladang penggembalaan masih tergenang air.
“Ternak milik saya sebagian mengalami sakit masuk angin karena berada dalam kondisi berada di atas genangan air dan kerap hujan,” beber Hasim.
Hasim berharap, kondisi banjir bisa segera surut agar aktivitas warga bisa kembali berjalan dengan normal. Selain bisa melakukan kegiatan budidaya tambak udang vaname ia juga bisa kembali menggembakan ternak kambing miliknya.
Selain itu aktivitas anak-anaknya yang masih bersekolah bisa berjalan dengan normal karena selama ini masih harus berjalan kaki akibat kendaraan tidak bisa masuk ke permukiman warga.