Dampak Bandara, 40 Hektare Lahan Tambak Hilang
KULON PROGO – Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, kehilangan seluas 40 hektare lahan budi daya tambak udang di kawasan Pantai Glagah hingga Congot karena adanya pembangunan Bandara “New Yogyakarta International Airport”.
Kepala Bidang Perikanan Budi Daya Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulon Progo, Leo Handoko di Kulon Progo, Sabtu, mengatakan tambak seluas itu mampu memproduksi 1.000 ton udang dengan harga Rp70 ribu per kg.
Akibat terdampak pembangunan bandara, lanjut Leo, petambak udang mengembangkan kembali di wilayah sabuk hijau sepanjang Pantai Congot hingga Glagah. Berdasarkan pengecekan Satpol PP Kulon Progo luasnya telah mencapai sekitar 20 hektare.
“Meskipun tambak udang hilang seluas 40 hektare, kini tumbuh lagi di sebelah timur jalan yang berada di kawasan sabuk hijau seluas 20 hektare,” katanya.
Terkait rencana penertiban tambak udang di sabuk hijau Pantai Glagah-Congot, Leo mengatakan hal itu menjadi kewenangan Satpol PP. Kebijakan pemkab mendahulukan pembangunan bandara setelah itu baru ditertibkan.
“Kalau Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) memaksa petani menutup tambaknya dikhawatirkan menimbulkan situasi keamanan terganggu. Untuk itu, kami mengupayakan kawasan sentra budi daya air payau seluas 100 hektare-200 hektare di Banaran untuk merelokasi petambak Pantai Glagah-Congot,” katanya.
Kepala DKP Kulon Progo, Sudarna mengatakan, pihaknya tidak bisa langsung menertibkan atau melarang budi daya udang di sepanjang kawasan hijau Pantai Glagah-Congot meski melanggar sempadan pantai.
Saat ini, DKP sedang mengupayakan lahan khusus berupa zona budi daya air payau di Kawasan Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, seluas 100 hektare-200 hektare.
“Saat ini rencana tersebut masih dibahas dalam meninjau ulang Perda RT/RW yang diharapkan bisa merelokasi pembudi daya udang di kawasan Pantai Glagah-Congot,” katanya. (Ant)