Anggaran Pertahanan Peluru Kendali Amerika Melonjak
WASHINGTON – Badan Pertahanan Peluru Kendali Amerika Serikat (MDA) mendapatkan lonjakan anggaran di 2018. Alokasi anggaran sebesar Rp158 triliun tercatat menjadi alokasi tertinggi yang diperoleh lembaga tersebut.
Ketua MDA Letnan Jenderal Samuel Greaves menyebut, kenaikan alokasi tersebut berkaitan dengan rencana penggunaan pesawat nirawak bersenjata guna menghadapi Korea Utara. Di tengah peningkatan ketegangan atas program peluru kendali nuklir Korea Utara. Rancangan undang-undang di parlemen AS meningkatkan pendanaan pertahanan dan memberi MDA kenaikan hingga 40 persen. Jumlah tersebut Rp45,5 triliun lebih banyak daripada anggaran di 2017 lalu.
Parlemen Amerika Serikat menyetujui rancangan undang-undang pengeluaran sebesar 1,3 triliun dolar AS untuk membiayai agen federal dan mencegah penutupan pemerintah menjelang tenggat Jumat (23/3/2018) tengah malam waktu setempat. Senat AS belum memberikan suara pada rancangan undang-undang tersebut.
Rancangan undang-undang itu membantu mendanai perluasan pranata Pertahanan Lintas Batas (GMD) berbasis darat terdiri dari jaringan radar, rudal anti-balistik, dan peralatan lain yang dirancang untuk melindungi AS dari rudal balistik antar benua. Pada saat yang sama, RUU itu akan meningkatkan pendanaan untuk pengembangan dan penggunaan perangkat penghancur yang dirancang ulang, yaitu sebuah hulu ledak yang dirancang untuk mencegat dan menghancurkan rudal yang tengah terbang.
Selama dengar pendapat, Komite Angkatan Bersenjata Senat kepala MDA Letnan Jenderal Samuel Greaves mengatakan, MDA masih terus mengeksplorasi penggunaan drone untuk menembak jatuh rudal segera setelah mereka diluncurkan.
Senator dari Partai Republik Tom Cotton dalam kesempatan tersebut mempertanyakan apakah rencana itu merupakan prioritas MDA untuk menciptakan jaring udara yang efektif di atas Semenanjung Korea dengan UAV? Jaring penangkal baik berupa sensor dan senjata, di perairan internasional yang berpotensi mencegah rudal Korea Utara meninggalkan landasan peluncuran.
Greaves mengatakan, program tersebut adalah prioritas tinggi tetapi mereka masih mengembangkan teknologinya. Upaya semacam itu akan mendorong AS untuk terus membuat drone di berbagai negara yang mengancam AS dengan potensi serangan rudal balistik. Setelah peluru kendali balistik diluncurkan ke wilayah AS, pesawat nirawak akan berada dalam kedudukan untuk menembak jatuh setelah peluncuran peluru kendali itu dan sebelum keluar dari atmosfer Bumi. (Ant)