Warga Gunungkidul Ini Manfaatkan Bonsai Raih Puluhan Juta Rupiah

Editor: Irvan Syafari

YOGYAKARTA — Seorang warga Dusun Gebang, Girisubo, Panggang, Gunungkidul, dengan cermat memanfaatkan kondisi lingkungan alam sekitarnya untuk memulai bisnis tanaman bonsai. Masih banyaknya aneka jenis tanaman yang tumbuh liar di daerahnya, mampu ia kemas hingga memiliki nilai seni tinggi dan harga jual yang sangat menguntungkan.

Ialah Rudi Wiyono (39) lelaki tersebut. Bapak dua anak yang sebelumnya bekerja sebagai buruh bangunan ini, tergiur terjun ke bisnis tanaman bonsai sejak dua tahun lalu, setelah mengetahui keuntungan yang bisa diperoleh dari hobi ini.

“Awalnya saya tahu tentang bonsai itu dari teman. Karena ternyata hasilnya menggiurkan, saya kemudian belajar memulai bisnis ini,” ujarnya Senin (19/02/2018).

Rudi mengaku selama dua tahun terakhir ia tak pernah berhenti mencari berbagai tanaman atau pohon yang bisa dibuat menjadi bonsai. Berbagai lokasi ekstrem ia jelajahi untuk menemukan pohon unik yang memiliki nilai seni tinggi. Sejumlah pohon yang ia cari di antaranya seperti pohon serut, prih, bintaos, lo, waung, hugianti, dan sebagainya.

“Kalau cari biasanya di hutan, luweng (gua), tebing bibir pantai dan sebagainya. Untuk menemukan pohon yang dicari itu tidak mudah. Sangat sulit sekali. Saya bahkan sempat jatuh dari tepi jurang setinggi 10 meter, untung tidak apa-apa,” ujar dia.

Selain harus menggali tanah untuk mengambil batang pohon beserta akarnya, tak jarang Rudi juga harus memecah batu kapur yang sangat keras agar bisa membawa pulang sebuah bonsai yang diinginkan. Itupun belum tentu semua tanaman yang ia bawa mampu hidup dan laku dijual.

“Banyak pohon yang saya bawa pulang, setelah ditanam kembali justru mati. Ada hampir satu truk. Karena dari 5 pohon itu paling hanya 1 yang bisa hidup dan laku dijual,” katanya.

Namun berkat kegigihan dan kerja kerasnya selama dua tahun itulah, Rudi kini mulai memetik hasilnya. Ratusan pohon bonsai yang ia pelihara mulai banyak diminati penghobi. Terlebih setelah ia membuka tempat penjualan sendiri di kawasan jalur wisata Jalan Panggang-Imogiri.

“Kalau dulu saya setelah dapat bonsai langsung saya jual ke pengepul. Tapi sekarang saya olah dulu baru saya jual langsung ke konsumen atau penghobi. Jadi jauh lebih untung,” katanya.

Jika menjual ke pengepul satu pot tanakan bonsai hanya dihargai Rp50-100 ribu, dengan membuka kios dan menjual langsung ke penghobi, Rudi bisa mengantongi uang Rp100-500 ribu per pot bonsai. Bahkan selama membuka kios sekitar 22 hari terakhir, ia bisa mengasilkan pemasukan mencapai Rp10 juta.

“Kelebihan bonsai yang didapat asli dari alam itu bentuknya unik dan tidak mungkin dibuat manusia. Karena dibuat langsung oleh Tuhan. Meskipun kita sendiri yang harus bisa menemukan keunikannya dan nilai seninya. Karena itu tetap butuh sentuhan manusia,” katanya.

Sebagai informasi, wilayah perbukitan kars Gunungkidul sendiri dikenal sebagai salah satu daerah yang masih memiliki keberagaman jenis flora yang beragam. Tak heran sejak lama Gunungkidul dikenal sebagai daerah penghasil tanaman bonsai. Hanya saja, potensi ini masih belum ditangkap dan dikembangkan oleh pemerintah setempat.

Lihat juga...