Usaha Pengolahan Ubur-ubur Bantu Nelayan Lamsel di Musim Cuaca Buruk

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG — Keberadaan ubur-ubur (jellyfish) yang memiliki nama ilmiah aurelia aurita di wilayah perairan timur Lampung Selatan, menjadi salah satu sumber mata pencaharian bagi warga pesisir timur, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan tangkap.

Sapardi (40), menyebut ubur-ubur kerap mencapai puncak perkembangannya di pesisir laut wilayah Kecamatan Ketapang sekitar bulan Desember hingga Februari, meski pada bulan-bulan lain hasil perikanan tersebut masih bisa diperoleh.

Di wilayah tersebut, kata Sapardi, penangkapan ubur-ubur mulai dilakukan sejak 1991, seiring dengan adanya usaha pengolahan yang dilakukan oleh perusahaan pemasok ubur-ubur kering (dried jelly fish), yang diekspor ke Malaysia, Amerika Serikat, Singapura dan Jepang, melalui Pelabuhan Tanjung Priok.

Bagi sejumlah nelayan, proses penangkapan ubur-ubur menggunakan pengait dari kawat, menjadi sumber penghasilan dengan harga jual ubur-ubur bagian kepala Rp14.000 dan bagian kaki Rp12.000 per keranjang atau basket.

Sapardi, salah satu warga Desa Ketapang Laut membersihkan lendir ubur-ubur pada bagian kepala dan tentakel [Foto: Henk Widi]
“Mata rantai usaha pencarian ubur-ubur hingga ke pembersihan sebelum diolah di pabrik untuk ekspor, memberi penghasilan bagi nelayan dan sejumlah wanita yang bekerja membersihkan ubur-ubur,” terang Sapardi, warga Desa Ketapang Laut, Kecamatan Ketapang, saat ditemui Cendana News tengah membersihkan ubur-ubur, Selasa (6/2/2018).

Lapangan kerja dari sektor perikanan, disebut Sapardi yang menjadi sumber penghasilan warga pesisiri Ketapang. Selain membersihkan ubur-ubur, juga membuat ikan asin, ikan teri dan usaha pengeringan rumput laut.

Sebagai sumber mata pencaharian, pemilik usaha ekspor ubur-ubur yang mengumpulkan bahan baku ubur-ubur dari nelayan, memberi penghasilan tambahan saat kondisi cuaca laut tidak bersahabat, sehingga nelayan berhenti melaut.

Bagi nelayan, beber Sapardi, dengan harga jual ubur-ubur per basket mencapai Rp26.000, gabungan dari kaki atau tetangkel seharga Rp12.000 dan bagian kepala Rp14.000, dalam kondisi tangkapan melimpah rata-rata per seratus basket nelayan bisa memperoleh penghasilan Rp2,6 juta dari binatang laut yang kerap dianggap berbahaya, karena bagian lendirnya membuat gatal meski jenis ubur-ubur tersebut tidak menyengat.

Usaha penangkapan ubur-ubur diakui Sapardi, sempat berhenti pada 1998, saat terjadi krisis moneter, sehingga ekspor uburpubur ikut tumbang dan mengakibatkan usaha ubur-ubur kering tidak beroperasi.

Dengan harga per basket hanya sekitar Rp500 hingga kini mencapai Rp14.000, usaha tersebut mulai beroperasi kembali sejak 2016, dengan bahan baku dari wilayah Tanggamus dan Pesisir Timur Lampung.

Sementara itu, Sri Nurohmah (33)  pengawas pengepakan (packing) ubur-ubur yang dipercaya salah satu perusahaan ekportir dari Jakarta menyebut, usaha padat karya pada proses pembersihan kerap membutuhkan tenaga kerja 30 hingga 50 orang, dengan bahan baku ubur-ubur sekitar 5 hingga 10 ton.

Ia menyebut, para pekerja dibagi dalam tiga tugas, di antaranya mulai proses perendaman dengan garam dan tawas menghilangkan lendir, pembersihan hingga proses pengepakan.

“Sistem kerja harian menjadi usaha bagi warga, terutama kaum wanita dan nelayan yang sedang tidak melaut,” terang Sri Nurohmah.

Setelah proses pembersihan lendir dilakukan pada bagian kepala dan kaki, ubur-ubur akan dimasukkan dalam ember khusus masing-masing berisi sekitar 25 kilogram, dipisahkan bagian kepala dan kaki atau tetangkel. Ubur-ubur yang merupakan invertebrata bisa menjadi bahan pangan dengan kandungan gizi tinggi tersebut masih kerap diekspor dan menjadi bahan pangan asinan dan kerupuk, sehingga diekspor ke Amerika Serikat, Jepang, Singapura dan Malaysia.

Dalam sehari, dengan pekerja yang banyak ia bisa membersihkan sekitar  100 basket ubur-ubur dengan total 1.000 kilogram, yang selanjutnya dikemas dalam ember.

Setelah pembersihan tahap pertama, akan dilakukan proses penyortiran di perusahaan ekpsortir, sehingga dikirim dalam kondisi ubur-ubur kering. Harga untuk ubur-ubur kering saat ini mencapai Rp900 ribu per ember bagian kepala atau topi dan bagian kaki Rp700 ribu dalam kondisi kering.

Dalam satu pekan, ia bisa mengirim hampir 100 hingga 200 ember ke pabrik, tergantung jumlah bahan baku.

Usaha pembersihan ubur-ubur termasuk proses pencarian di laut, diakui Romli (50) sangat menguntungkan bagi nelayan seperti dirinya, terutama saat kondisi cuaca buruk.

Romli yang kerap ikut mencari ubur-ubur mengaku masih terhalang ombak besar, sehingga memilih sementara menjadi pekerja bagian pencampuran garam untuk pembersihan.

Dengan sistem kerja harian, dirinya memperoleh upah Rp70.000  dan untuk para wanita mendapatkan upah sekitar Rp50.000 per hari, ditambah uang lemburan Rp5.000 per jam.

Selain bekerja dalam usaha pembersihan ubur-ubur, sebagian warga terutama kaum wanita di Desa Ketapang Laut juga kerap bekerja dalam usaha pembuatan teri dan pengupasan kerang bulu pada musim tangkapan ikan teri dan kerang melimpah.

Belum adanya pabrik pengolahan ubur-ubur hingga proses pengeringan, membuat warga hanya sebatas bekerja dalam proses pembersihan untuk hasil laut bernilai ekspor tersebut, meski keberadaan usaha tersebut memberi penghasilan rata-rata Rp1 juta per bulan.

Lihat juga...