Sherly Hasilkan Rp30 Juta dari Kain Perca

Editor: Koko Triarko

MAUMERE –  Sisa kain tenun ikat biasanya hanya dikumpulkan di karung dan dibuang atau dijadikan kain lap. Tetapi, sejak diolah menjadi suvenir, kain perca ini mampu memberikan penghasilan yang lumayan besar.

“Sejak 2015, saya mulai tertarik, sebab pada waktu itu saya membuat baju dari kain tenun dan sisa kainnya saya minta. Saat mempunyai waktu luang di toko, saya coba-coba membuat aksesoris dan jadi seperti gelang, terus saya mulai berpikir ini hanya saya yang jahit pakaian kain tenun, kalau banyak orang yang jahit sisa kain tenunnya diapakan?” kata Sherly Irawati, Selasa (20/2/2018).

Ditemui di tokonya, yang juga menjual aksesoris serta sebuah gerai khusus di bagian depan, Sherly berceritra, dirinya  mulai melakukan survey kecil-kecilan di kalangan para penjahit, ternyata sisa kain tenun ikat tersebut dikumpulkan dan dibuang.

Dari situ dirinya  mulai mencoba memanfaatkan, dan pada 2015 ada lomba suvenir dari kain tenun ikat tingkat provinsi NTT. Saat lomba di Kupang tersebut pesertanya lumayan banyak, sementara dari Flores hanya dirinya sendiri dan produk suvenirnya laku keras.

Sherly Irawati, perajin suvenir berbahan baku kain perca tenun ikat di gerai miliknya. -Foto: Ebed de Rosary

“Saya juga mendapat juara dua dan hadiah uang lima juta rupiah, sehingga saya mempergunakannya untuk membeli bahan. Sepulang lomba saya mengumpulkan sekitar 50 orang dan saya ajarkan membuat suvenir dari bahan kain tenun ikat dan  ternyata produk yang mereka jual juga laku,” ungkapnya, bangga.

Perempuan kelahiran Maumere, 24 April 1971, ini menyebutkan, pada 2016 dirinya juga ikut lomba tingkat nasional, Expo Nasional di Kupang dan juga memasarkan produk suvenirnya. Ternyata, respon pasar bagus. Selama tiga hari produknya laku terjual 16 juta rupiah dan dalam lomba tersebut dirinya pun meraih juara dua.

Setiap kali ada pameran, kata Sherly, dirinya  selalu membawa anak didik agar mereka bisa melihat seberapa besar produk yang mereka hasilkan diminati pasar, bagaimana reaksi pasar, maunya pembeli dan cara melayani pembeli, sehingga mereka bisa paham.

“Dinas Pariwisata Sikka juga mengajak ikut pameran di Bali, tapi saya memberikan kesempatan kepada anak didik saya sambil membawa produk untuk dijual dan ternyata produk kami sangat diminati,” ucapnya.

Berbagi Ilmu

Meski memiliki keterampilan dan hasil karyanya menghasilkan pendapatan yang lumayan, Rp30 juta sebulan, Sherly tidak sungkan berbagi ilmu dengan selalu mengajarkan kepada orang lain untuk menekuni kerajinan tangan membuat produk berbahan perca tenun ikat.

Pada 2016, Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT meminta dirinya untuk memberikan pelatihan bagi perajin dari 8 kabupaten di Flores dan Lembata dengan peserta masing-masing 5 orang setiap kabupaten. Pesertanya pun sangat antusias.

“Dari situ semakin banyak orang yang mulai membuat suvenir dari bahan tenun ikat, apalagi pada 2017 PKK kabupaten Sikka juga meminta saya melatih 24 peserta dari 21 kecamatan di kabupaten Sikka, sehingga semakin banyak orang yang tertarik membuat suvenir ini,” ungkapnya.

Sherly mengaku, tak khawatir dengan adanya pesaing, karena justru membuat dirinya semakin berkembang dan produk yang dihasilkan tidak monoton. Dirinya akan terpacu untuk menciptakan produk baru.

Namun, istri dari Chrisnam Kuntani ini mengatakan, saat ini setelah perkembangan waktu, perca tenun ikat semakin langka, sebab sudah banyak yang membuat suvenir ini.  Ia pun memanfaatkan sarung bekas di mana selama ini peredaran penjualan kain tenun bekas di Sikka sangat besar dan harga belinya juga murah.

“Saya selalu sarankan jangan menjual kain tenun bekas dengan harga murah, sebab bisa dipergunakan untuk membuat suvenir dan harga jualnya lebih tinggi. Selama ini yang kita buat seperti aksesoris gantungan kunci, gelang, kalung dan lainnya,” paparnya.

Harus Terus Produksi

Pada umumnya, anak didik Sherly juga sudah mahir dan hasil produksinya mulai laku terjual ke luar daerah, dan mereka juga terus menggeluti kerajinan suvenir ini. Banyak juga yang hanya produksi musiman saja, tidak setiap hari karena terkendala pemasaran produknya.

Banyak perajin suvenir dari kain tenun anak didik ibu tiga orang anak ini terkendala pemasaran, sehingga dirinya menyarankan  untuk membentuk koperasi.

Saat ini, juga sudah terbentuk Iwapi (Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia) cabang Sikka dan setiap hari Sabtu dan MInggu selalu membuat  bazar untuk memasarkan produk secara bersamaan.

“Produksi saya sudah ada banyak yang pesan dan menjualnya lewat online juga, bahkan pembeli datang dari Makasar, Bandung, Jakarta dan beberapa daerah lain. Juga ada gerai di Flores Timur dan Kupang yang  sering pesan dan kalau ada teman yang berpameran ke Jakarta sering membawa produk saya,” terangnya.

Dalam sebulan, produk yang dihasilkan Sherly bisa laku hingga 30 juta rupiah bahkan lebih. Dirinya bangga sudah bisa memberi penghasilan bagi banyak orang, walau produksi dan pemasaran sekarang belum maksimal, sehingga dirinya berharap semoga ke depan bisa lebih berkembang.

Pada dasarnya, dirinya senang membuat produk yang cantik, apalagi bila produknya banyak diminati, maka kepuasan yang dia peroleh. Pemerintah juga sering membantu pihaknya dengan mengikutsertakan mereka saat ada pameran.

“Motto saya kalau orang lain bisa, maka saya juga harus bisa dan kalau saya bisa orang lain juga harus bisa. Dari sekolah saya selalu berpegang pada motto ini dan itu saya tanamkan ke anak-anak saya, agar mereka juga harus bisa,” pungkasnya.

Lihat juga...