Sarah Sany Nurjanah: Paling Mengeselkan Lihat Murid SD Merokok
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
Menjadi Duta Anti Narkotika bagi Sarah Sany Nurjanah memiliki tantangan tersendiri. Ada yang meremehkan ketika dirinya melakukan penyuluhan, tapi ada juga yang benar-benar mendengarkan.
Tidak hanya itu, terkadang ia juga merasa miris kalau sudah dimewanti-wanti namun masih kedapatan anak-anak muda yang terkena narkoba.
“Paling mengeselkan itu kita melihat anak-anak SD sudah mulai merokok,“ beber Sarah Sany Nurjanah, Duta Anti Narkotika Jakarta Utara kepada Cendana News, di Sunter, Senin (26/2/2018).
Dara kelahiran Jakarta, 15 April 2000 itu menceritakan, menjadi Duta Anti Narkotika Jakarta Utara ia harus melewati beberapa tahapan. Mulai dari mengikuti seleksi di organisasi SIAP Jakarta (Satuan Instruktur dan Aksi Pemuda Jakarta), kemudian melewati seleksi-seleksi yang sangat ketat.
“Ternyata SIAP Jakarta ini dinaungi oleh BNN, KPAI dan Benteng Budaya. Dari situ ada seleksi lagi di BNN, sampailah saya menjadi Duta Anti Narkotika sekarang ini,“ terangnya.
Menurut Sarah, sapaan akrabnya, ia diajari berbagai hal mengenai narkotika yang dapat membantu saat menjalankan tugas memberikan penyuluhan di sekolah-sekolah.
Sementara itu, pandangan Sarah sebagai Duta Anti Narkoba terhadap artis-artis sekarang yang terjerat kasus, ia berpendapat seharusnya mereka sebagai public figur itu harus menjaga image mereka.
Harapan Sarah terhadap kegiatan ini, banyak orang tua yang datang kesini. Jadi ia bisa memberikan informasi tentang bahaya narkotika.
“Kita memberikan wawasan. Jangan menerima apapun dari orang asing. Setidaknya kalau orangtua sudah menanamkan pada anak-anak dari kecil. Anak-anak akan hati-hati untuk tidak ikut-ikutan. Sekarang banyak anak kecil yang sudah mulai merokok karena menganggap kalau merokok itu keren. Harapan saya semoga orangtua lebih memperhatikan dan memberikan wawasan tentang bahaya narkoba,“ paparnya panjang lebar.
“Karena public figur itu banyak masyarakat, terlebih yang anak-anak muda, yang mengidolakan mereka, “ pendapatnya.
Seharusnya public figure itu mencontohkan yang baik. “Kalau mereka memberikan contoh yang jelek, bagaimana orang-orang yang mengidolakannya?, “ ujarnya penuh kekhawatiran.