MI Darussalam Jembrana, Sekolah Pinggiran Banyak Prestasi
Editor: Irvan Syafari
JEMBRANA — Menjadi sekolah pinggiran berlokasi di tengah-tengah masyarakat pesisir tidak lantas membuat minim prestasi akademik. Meski dengan keterbatasan baik sarana dan prasarana sekolah maupun di bidang lainnya, ternyata mampu membuat peserta didiknya lebih mandiri dengan torehan berbagai prestasi.
Hal inilah yang di dialami oleh sebuah Madrasah Ibtidaiyah (MI) Darussalam yang beralamat di di Jalan Pelabuhan Nusantara Pengambengan, Dusun Kelapa Balian, Desa Pengambengan Kecamatan Negara, Jembrana Bali.
Sekolah ini ternyata mampu mencetak siswa dan siswinya berprestasi baik di bidang akademik maupun dibidang lainnya baik ditingkatkan Kabupaten, Provinsi bahkan tingkat Nasional.
Prestasi itu antara lain, pada 2017 siswa MI Darussalam juara 1 Olimpiade Bahasa Inggris tingkat Kabupaten, juara 1 Olimpiade di bidang agama tingkat Kabupaten. Juara 1 bidang agama tingkat Provinsi.
Sementara pada 2016, sekolah ini memperoleh juara 1 bidang agama tingkat Kabupaten, juara 2 catur pa/pi tingkat Kabupaten. Juara 1 Lari pa/pi tingkat Kabupaten. Bahkan pada 2015 silam ada yang menjadi juara 3 lari 80 meter tingkat nasional (AKSIOMA).
“Alhamdulillah, semua itu kami peroleh berkat usaha keras kami terutama usaha yang dilakukan kami sebagai dewan guru. Dan tidak lupa pula kami juga memberikan pendidikan karakter bagi murid kami,” ucap Alfina Laila, salah seorang guru di MI tersebut saat ditemui Kamis, (8/2/2018).
Alfina sapaan akrabnya, menceritakan lebih jauh, MI Darussalam Pengambengan merupakan salah satu sekolah dasar pertama yang ada di Desa Pengambengan. Sebagian besar orang tua dari siswa bermata pencarian sebagai nelayan.
Berlokasi di ditengah-tengah masyarakat nelayan sudah barang pasti segala kebutuhan termasuk kebutuhan pendidikan tidak terlepas dari hasil tangkap di laut, sehingga terkait kebutuhan biaya pendidikan juga tergantung dari penghasilan yang diperoleh dari laut.
“Jika musim ikan mereka hampir tidak ada kendala dalam menyekolahkan anak, tetapi jika di laut tidak ada penghasilan, di sinilah kesulitan orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka,” imbuh wanita berjilbab ini.
Namun, lanjut Alfina, Madrasah Ibtidaiyah Darussalam yang dikelola di bawah Yayasan Darussalam hadir di tengah masyarakat nelayan untuk menjawab keresahan mereka tentang pendidikan.
Oleh karenanya untuk tetap mencetak generasi pendidik, pihak sekolah menggratiskan biaya sekolah seperti seragam,buku LKS dan biaya administrasi lainnya yang ada disekolah. Hal tersebut dilakukan agar masyarakat tidak lagi bingung untuk menyekolahkan anak-anak mereka.
“Selain MI,kami juga ada jenjang RA/TK, dan MTS dengan sistem yang sama,” pungkas guru dengan dua anak ini.
Ada kendala lain juga dihadapi oleh sekolah yang memiliki jumlah siswa dan siswi sebanyak 160 murid dan 15 dewan guru ini. Sekolah ini hanya punya lima ruangan kelas. Seharusnya dengan jumlah siswa tersebut, idealnya membutuhkan sebanyak tujuh ruang kelas. Hal hasil, pihak sekolah menikmatinya dengan cara menggunakan ruang UKS dan ruangan Perpustakaan sekolah.
“Kami sudah mengajukannya ke pihak pemda Jembrana melalui Dinas Pendidikan,” ucap Hidayah selaku Kepala sekolah MI Darussalam Pengembangan.
Ia berharap semua cepat terealisasi sehingga bisa mendukung aktivitas belajar-mengajar di sekolahnya. Selain itu harapan lain ke depan, dengan adanya pendidikan terpadu di bawah naungan Yayasan Darussalam masyarakat pesisir tidak ada yang putus sekolah, meskipun mereka tidak mempunyai biaya.