Keturunan India Padang Tabur Lima Ton Gula Pasir di Halaman Masjid Muhammadan

Editor; Irvan Syafari

PADANG — Wajah-wajah yang terlihat di depan Masjid Muhammadan yang berada di Jalan Pasar Batipuh, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Sumatera Barat, sangat khas dengan wajah-wajah orang India. Berhidung mancung, memiliki kulit agak gelap, suasana di sana terasa berada di Mumbai, India.

Di sana, tepatnya menjelang petang tadi, ada ratusan warga keturunan India berkumpul di halaman Masjid Muhammadan. Mereka berkumpul untuk mempersiapkan memperingati hari lahir Souhul Hamid pada 1 Jumadil Akhir penanggalan kalender hijriyah, dengan melangsungkan sebuah budaya bagi keturunan India yakni serak gulo (menaburi gula pasir).

Souhul Hamid adalah salah seorang penyebar agama Islam di Padang pada ratusan tahun yang lalu. Maka dari itu, cukup banyak keturunan India yang tinggal di Padang.

Gula pasir yang ditaburkan itu bukanlah ditaburkan langsung dari karung gulanya. Tapi dibungkus dengan kain paco atau kain bekas berwarna warni, yang ukurannya tidak ditentukan. Namun, rata-rata gula pasir yang dibungkus itu memiliki berat sekitar 250 gram hingga 500 gram.

Gula pasir itu, bukanlah didapatkan atau dibeli oleh kelompok keturunan India tersebut. Tapi gula pasir itu dikumpulkan dari pemberian-pemberian keturunan India yang ada di Padang. Gula pasir yang diberikan itu memiliki jumlah yang berbeda dari masing-masing warga keturunan India.

Untuk itu, khusus hari ini dari laporan Ketua Himpunan Keluarga Muhammadan Padang, Ali Khan Abu Bakar, pada serak gulo tahun 2018 ini ada sekira 5 ton lebih gula pasir yang ditaburi kepada warga.

Ia menjelaskan terkait budaya serak gulo itu, sudah dilakukan oleh keturunan India di Padang sudah sejak ratusan tahun yang lalu. Serak gulo sendiri disebut juga dengan membagikan manisan. Sehingga dalam memperingati hari lahir Souhul Hamid itu, warga keturunan India membagikan manisan yakni gula pasir.

“Jadi yang menerima gula pasir yang diserakan itu boleh masyarakat lainnya dan tidak harus orang keturunan India,” jelasnya, Jumat (16/2/2018).

Akan tetapi, sebelum tradisi tebar gula itu dimulai, ada beberapa hal yang dilakukan oleh para keturunan India. Pertama memasang bendera berwarna hijau yang memiliki gambaran bulan sabit dan bintang. Bendera itu dipasang dari kiri dan kanan sisi Masjid Muhammadan.

Setelah itu selesai, dilanjutkan dengan memindahkan gula-gula pasir yang dibungkus itu ke atas atap teras masjid dan dua panggung yang ada di sisi kiri dan kanan masjid.

Apabila telah selesai memindahkan gula ke tempat panggung, maka langkah selanjutnya ada seseorang ditunjuk untuk membaca shalawat dan pembacaan doa.

“Di saat semuanya selesai, barulah dilakukan penaburan gulanya. Saya tegaskan gulanya di taburi atau diserakan, bukan di lempar,” ujarnya.

Ketika tebar gula pasir berlangsung suasana di halam Masjid Muhammadan terlihat seakan ricuh untuk memperebutkan gula pasir yang ditaburi oleh keturunan India tersebut. Tak dipungkiri, ada warga yang terkena bungkus gula pasir hingga menimpa kepala, wajah, dan perut.

Meski terlihat ricuh, tidak terjadi adanya orang-orang yang bertengkar atau bahkan terluka. Tapi, warga yang berebut gula itu seakan terlihat senang dan bergembira. Sebab semakin banyak gula pasir yang didapatkan, maka akan semakin banyak stok gula di rumah.

Bahkan ada sekelompok anak-anak yang sengaja mengingat kain sarung untuk menampung gula pasir yang berjatuhan. Namun mengingat cukup banyak warga yang berebut, kain sarung sepertinya bukanlah cara yang tepat untuk mendapatkan gula pasir yang banyak.

Sementara itu seorang warga yang ikut berebut gula pasir itu, Al Yasin mengatakan, tahun ini ia mendapat jumlah gula pasir yang cukup banyak. Sehingga gula-gula itu ia simpan di dalam bajunya seakan seperti orang hamil.

“Gula-gula ini nantinya akan simpan di rumah dan juga dibagikan ke tetangga di rumah,” sebutnya.

Selain itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Padang Medi Iswandi mengatakan, budaya serak gulo yang dilakukan oleh keturunan India di Padang sempat menjadi pembicaraan yang hangat di media sosial.

“Saya sempatkan membagikan informasi serak gulo ini. Ternyata banyak warga yang senang datangnya acara serak gulo ini, buktinya informasi itu terus disebarkan,” katanya.

Menurut Medi, Pemkot Padang sangat mendukung adanya acara kebudayaan yang demikian, karena turut menjadi wisata bagi masyarakat. Tidak hanya di Kota Padang, tapi juga datang luar dari Kota Padang.

Lihat juga...