Kemesraan Pariwisata Halal-Konvensional NTB Tekan Angka Pengangguran

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

Ketua PHRI BPD Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Abdul Hadi Faesal. Foto; Sri Sugiati

JAKARTA — Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia ( PHRI) Badan Pariwisata Daerah (BPD) Nusa Tenggara Barat (NTB), Lalu Abdul Hadi Faesal menilai, mesranya persandingan pariwisata konvensional dan halal di daerah tersebut mampu menekan angka pengangguran.

Dikatakan, hadirnya wisata halal mampu meningkatkan derajat perekonomian masyarakat bawah. Kontribusinya dapat dilihat dari angka pengangguran dan kemiskinan yang bisa ditekan.

“Seperti di desa Mangsit Lombok, itu pengangguran hampir 0 persen,” ujar Hadi dalam seminar bertajuk “Perkembangan Wisata Halal NTB” pada rangkaian Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Forum Jurnalis Muslim (Forjim) di Aula Islamic Center Mataram, NTB, Rabu (21/2/2018).

Ini jelas dia, karena seluruh hotel yang ada di sekitar desa tersebut memperkerjakan masyarakat Mangsit, dari mulai staf hotel hingga tukang taman.

Dikatakan, sepuluh tahun perkembangan NTB dengan pariwisata halal, sebut dia, sangat luar biasa banyak sekali acara nasional maupun international yang digelar di Pulau Seribu Masjid ini.

Bahkan target wisatawan pun tercapai setiap tahunnya. Pada 2017, 3, 5 juta yang terinci yaitu 1,5 juta wisatawan mancanegara (wisman) dan 2 juta wisatawan domestik, sebutnya.

Menurutnya, capaian target tersebut adalah kontribusi nyata yang dirasakan dengan hadirnya pariwisata halal. Ada pun target 2018 sebanyak 4 juta wisatawan, yaitu 1,5 juta wisman dan 2 juta domestik.

Ia menambahkan, pariwisata halal ini soal market saja. Terbukti kedua jenis pariwisata tersebut tidak ada benturan di NTB.

Pada umumnya, hotel-hotel di Lombok itu sudah hilal satu dengan adanya mushola, tempat wudhu, arah kiblat serta sejadah. Ada beberapa hotel yang akan menuju hilal dua. Bahkan, wisatawan non Muslim menilai bahwa makanan halal adalah higienis. Sehingga mereka merasa nyaman berada di zona-zona halal.

“Artinya halal sesungguhnya tidak menjadi persoalan bagi wisatawan,” pungkas Hadi.

Terkait pantai Gili Trawang dan pantai Sengigi yang indentik wisman berbusana mini. Dijelaskan Hadi, memang pihaknya memfasilitasi tempat itu untuk pariwisata konvensional.

Namun demikian, wisman itu akan diberikan pemahaman bahwa berbusana itu punya batas-batas tertentu. Apalagi NTB dijuluki sebagai daerah Seribu Masjid, yang memang secara historis karakteristik daerah dan suku sangat religius.

“Ini jadi daya tarik terutawa wisatawan Timur Tengah dan Asia Tenggara, serta negara lainnya,” tuturnya.

Menurut Hadi, pariwisata halal NTB menjadi pasar potensial. Diharapkan wisata halal ini bisa mendongkrak pendapatan daerah apalagi kontribusinya sudah dirasakan sejak beberapa tahun lalu.

Lihat juga...