Inayah Wahid: Saya Kangen Suasana Zaman Dahulu
Editor: Irvan Syafari
JAKARTA — Inayah Wahid menyampaikan keprihatinannya sekarang sedang masa segregasi, yaitu pemisahan suatu golongan dari golongan lainnya secara paksa dengan pengasingan maupun pengucilan. Indonesia saat sekarang sedang chaos, tapi ia tetap memandang Indonesia masih ada harapan jauh lebih baik ke depan.
Ia merasa beruntung menjadi anaknya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Gus Dur adalah orang yang selalu memelihara harapan dan selalu mengupayakan hal itu. Terlepas nanti berhasil atau tidak, Gus Dur tidak memikirkan itu. Yang lebih penting itu kita harus terus selalu mengupayakan harapan.
“Saya kangen sekali dengan suasana zaman dulu di mana kita menertawakan sesuatu itu biasa-biasa saja, bahkan untuk menertawakan diri sendiri,” kata Inayah kepada Cendana News seusai pementasan ‘Romantisme dan Kegilaan Agus Noor’ di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.
Lebih lanjut, putri bungsu Presiden Indonesia ke-4 Abdurrahman Wahid, itu menerangkan, bahwa sekarang kita dalam kondisi kegilaan, bukan satu pihak tertentu tapi secara keseluruhan, termasuk kita juga.”
Menurut Inayah, kondisi kita sekarang sudah semakin bertambah parah, sekarang sedikit-sedikit senggol bacok. Indonesia sekarang chaos karena tumbuh secara sosio politik dari puluhan tahun lamanya.
“Yang jadi problem, kondisi itu dikapitalsasi untuk kepentingan politik-politik tertentu. Buat saya itu adalah kekejaman, “ ungkap pemeran Naya, tukang ojek di serial sitkom (komedi situasi) sinetron ‘OK-JEK’ yang juga aktif berteater sejak kuliah.
Inayah menyampaikan kondisi sekarang ini bisa diistilahkan kita ada dalam satu kapal bersama-sama. “Mereka sedang membolongi kapalnya sendiri. Kalau kapalnya bolong kan yang tenggelam kita-kita juga. Itu jahat, “ bebernya.
Bukan hanya konspirasi, tapi lebih mendahulukan kepentingan politik mereka, syahwat politik mereka, untuk mendapatkan kekuasaan, untuk mendapatkan mungkin kekayaan juga.
“Mereka lebih memprioritaskan itu dibanding yaudah ayo kita kerja bareng-bareng. Kita sudahi itu semua. Si Politik Identitas dan Si Segregasi ini. Sekarang kita dalam masa segeregasi, itu yang menurut saya sangat menyedihkan, “ simpulnya.
Inayah memandang Indonesia masih ada harapan jauh lebih baik ke depan. “Harapan harus selalu ada, “ tegasnya.
Inayah merasa beruntung jadi anaknya Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Di matanya, Gus Dur adalah orang yang selalu memelihara harapan dan selalu mengupayakan hal itu. Terlepas nanti berhasil atau tidak, Gus Dur tidak memikirkan itu.
“Yang lebih penting itu kita harus terus selalu mengupayakan harapan. Harapan harus selalu ada, “ tandasnya.