Hama Tikus Serang Penangkaran Benih Padi Petani di Tapsel
TAPANULI SELATAN — Sekitar lima hektare luas areal penangkaran benih padi Kelompok Tani Menanti di Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, rusak diserang hama tikus.
“Penangkaran benih dirusak hama tikus,” kata Ketua Kelompok Tani Menanti, Ahmad Zubeir, di Tapanuli Selatan, Sabtu.
Ia mengatakan varietas benih inpari 33 ditanam di areal persawahan di desa Pangaribuan dan umur benih sudah mencapai 3,5 bulan atau 14 minggu.
Benih tersebut merupakan bantuan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara melalui program kegiatan seribu desa mandiri benih musim tanam Oktober-Maret (2017- 2018).
“Tujuan pemerintah melalui program tersebut sebagai upaya peningkatan produktivitas petani tambah persediaan benih lokal atau untuk masyarakat setempat,” katanya.
Rencana semula, jika berhasil, benih akan ditampung pihak pemerintah yang dihargai Rp8.700/kg, dan oleh pemerintah selanjutnya menjual benih itu kembali ke tingkat petani seharga Rp2.400/kg atau subsidi Rp6.300/kg.
“Namun sayang, rencana benih lokal untuk menolong petani ternyata di luar dugaan akibat penangkaran benih dirusak hama tikus,” katanya.
Menurut dia, benih padi yang sudah terkena hama tikus kualitasnya sudah tidak baik untuk dibudidayakan kembali, karena diyakini hasilnya kelak tidak maksimal.
Target kelompok tani Menanti dari lima hektare hamparan penangkar akan menghasilkan benih sekitar 35 ton dengan hasil rata-rata 7 ton/hektare.
Sisi lain, musim tanam 2018 petani khususnya di desa Pangaribuan/Pargumbangan, Kecamatan Batang Angkola terpaksa mengisolasi persemaian masing-masing lahannya mewaspadai hama tikus itu.
“Rata-rata areal persemaian petani di daerah itu terpaksa membuat pagar-pagar dari plastik agar tikus tidak masuk sekaligus merusak semai petani. Sepasang tikus di satu tahun dapat berkembang biak mencapai 2048 ekor anak tikus. Artinya, begitu cepatnya populasi tikus jika lalai membasminya,” katanya.[ant]