Hama Cabuk dan Lalat Buah Ancaman Bagi Petani Jeruk di Malang

Editor: Irvan Syafari

Jupri di kebun miliknya/Foto: Agus Nurchaliq.

MALANG — Hama lalat buah dan cabuk masih menjadi momok yang menakutkan bagi para petani, tak terkecuali petani jeruk. Bagaimana tidak? Akibat dari serangan dua jenis hama tersebut buah Jeruk menjadi rusak dan rontok. Seperti yang dirasakan Jupri, salah satu petani Jeruk di Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Menurut Jupri, perawatan tanaman Jeruk yang paling banyak membutuhkan biaya adalah obat-obatan pestisida untuk membasmi hama cabuk dan lalat buah.

Setiap sepuluh hari sekali, Jupri harus mengeluarkan biaya minimal 5 juta rupiah untuk keperluan membeli obat pestisida dan membayar tenaga kerja.

“Uang 5 juta rupiah itu sudah pasti harus dikeluarkan untuk membeli obat-obatan dan membayar tenaga kerja. Jadi sebulan biaya untuk membeli obat dan tenaga kerja kurang lebih 15 juta rupiah,” akunya.

Dikatakan Jupri, saat ini hama yang paling sering menyerang adalah hama cabuk hijau dan cabuk merah yang biasanya menyerang pada saat buah masih muda. Tapi saat buah menjelang tua, hama yang menyerang adalah lalat buah.

“Kalau terlambat menyemprotnya, bisa dipastikan kurang lebih 50 persen tanaman buah jeruknya tidak bisa dipanen. Karena buah jeruk akan rusak dan kemudian jatuh,” terangnya.

Buah jeruk kalau terkena lalat buah, satu atau dua hari buah jeruknya pasti jatuh. Hama lalat buah ini tidak mengenal musim, mau musim hujan maupun musim kemarau tetap saja hama lalat buah menyerang, sebutnya.

Menurutnya, hama yang paling sulit di basmi adalah cabuk merah. Karena apabila obatnya tidak cocok, maka cabuk merahnya tidak bisa hilang. Oleh sebab itu untuk mengendalikan cabuk merah, obatnya harus dicampur dengan pupuk sedikit. Takarannya kira-kira 1500 liter pestisida dicampur dengan pupuk seberat 3 Kg dan sabun cuci piring.

Lebih lanjut Jupri yang memiliki kebun jeruk seluas empat hektare tersebut menyampaikan buah jeruk merupakan buah musiman yang biasa di panen pada Juni-Oktober, sehingga perlu perawatan berkala untuk bisa menghasilkan produksi yang maksimal.

Pada musim kemarau, rumput-rumput harus dibersihkan sampai bersih, lalu menjelang musim hujan sekitar November diberi pupuk kandang.

Menurutnya, dalam perawatan tanaman jeruk yang paling penting adalah pemberian pupuk kandangi, karena jika tidak diberi pupuk kandang maka tanaman akan menjadi kurang subur.

“Pada musim kemarau agak panjang biasanya produksi buahnya lebih bagus dan banyak daripada musim hujan,” terangnya.

Tapi jika kemaraunya terlalu panjang, biasanya produksi buah terlalu lebat, sehingga pada musim panen berikutnya tidak berbuah. Selain itu kalau buahnya terlalu lebat pada satu pohon, biasanya pohon rawan tumbang, kalau tidak diberi penyanggah dan ukuran buahnya juga tidak terlalu besar.

Jenis jeruk yang ditanam Jupri di antaranya jenis jeruk keprok Mandarin, keprok siem pontianak, jeruk batu 55 serta beberapa jenis jeruk yang lainnya.

Jupri mengaku saat ini hasil panen jeruknya tersebut ia jual ke tengkulak seharga 10 ribu rupiah pada saat panen raya. Sedangkan jika tidak pada panen raya, ia bisa menjualnya minimal 12,5 ribu rupiah per kilogramnya.

Buah jeruk yang terserang hama/Foto: Agus Nurchaliq.

Akan tetapi sayangnya, akibat banyaknya serangan hama pada tanaman jeruknya, Jupri hanya bisa merasakan keuntungan 50 persen dari hasil panennya, karena sisanya habis untuk biaya perawatan.

 

Lihat juga...