Gubernur Papua: Jangan Ada Konflik Karena Agama
JAYAPURA — Gubernur Papua Lukas Enembe menegaskan jangan ada konflik yang disebabkan oleh perbedaan agama atau keyakinan di wilayah kepemimpinannya, karena hanya akan merusak persatuan dan kesatuan dalam kehidupan bermasyarakat.
“Tidak dibolehkan hadirnya ajaran-ajaran yang bersifat radikalisme di antara pemeluknya, karena semenjak dahulu sampai sekarang masuknya agama-agama di Papua, selalu berlangsung secara aman, damai penuh toleransi dan kekeluargaan, sesuai dengan corak masyarakat lokal di Bumi Cenderawasih,” kata Lukas di Jayapura, Sabtu.
Sehari sebelumnya Lukas mengukuhkan pengurus Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ), Lembaga Pembinaan Pengembangan Pesparani (LP3K) bagi umat Katolik, Lembaga Pengembangan Tripitka (LPTG) bagi umat Budha dan Lembaga Pengembangan Paduan Suara Daerah (LPPD), di Kota Jayapura.
Penegasan agar jangan ada konflik yang disebabkan oleh perbedaan agama itu, juga disampaikan pada momentum pengukuhan tersebut.
Lukas mengatakan pihaknya juga mengajak pengurus lembaga-lembaga keagamaan dan tokoh-tokoh agama agar bersama-sama pemerintah secara terus menerus menyadarkan generasi muda.
“Hal ini terkait larangan minuman keras, bahaya narkoba serta penyakit HIV/AIDS yang kini tersebar hampir di seluruh pelosok Tanah Papua, mari semua bersatu menabuh tifa sebagai pertanda perang dengan penyakit-penyakit masyarakat ini, demi menyelamatkan generasi muda sebagai masa depan Papua,” ujarnya.
Menurut dia, pembangunan di bidang keagamaan, merupakan dasar dari semua bidang pembangunan yang dilaksanakan di Provinsi Papua, di mana prinsip Kasih Menembus Perbedaan menjadi landasan filosofinya.
“Kasih menembus perbedaan menjadi jawaban untuk merekatkan semua elemen di Provinsi Papua,” kata Gubernur Papua periode 2013-2018 yang maju lagi dalam pilkada 2018 itu.
Dia menambahkan, apa yang dilakukan itu merupakan salah satu implementasi dari upaya melaksanakan misi keduanya bersama Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal yakni meningkatkan sumber daya manusia Bumi Cenderawasih yang sehat, berprestasi dan berakhlak mulia.
“Karena melalui membaca, memahami dan mengaktualisasikan ajaran dalam setiap kitab suci oleh masing-masing umat beragama diyakini mampu melahirkan sumber daya manusia yang berkualitas sebagaimana harapan bersama,” ujarnya.[ant]