Aktivitas Peti Kemas Kariangau Dongkrak Ekonomi Kaltim
Editor: Mahadeva WS
BALIKPAPAN – Aktivitas pelabuhan peti kemas Karingau di 2017 mengalami pertumbuhan hingga 10 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian, aktivitas peti kemas ekspor tersebut diyakini mampu mendongkrak produktivitas perekonomian di Kalimantan Timur (Kaltim).
Saat ini kegiatan ekonomi di Kalimantan Timur belum sepenuhnya pulih setelah sektor andalan tambang batubara mengalami penurunan. Oleh karenanya, aktivitas peti kemas di Karingau ini bisa menjadi harapan untuk menggerakan perekonomian di Kalimantan Timur.

Pelabuhan peti kemas Kariangau dikelola PT Pelindo IV cabang Balikpapan bersama dengan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. “Dengan resesi ekonomi secara global juga berdampak ke daerah. Pertumbuhan ada sekitar 10 persen di 2017 kemarin. Tahun lalu kami mencoba dongkrak pasar dengan pengangkutan barang di daerah lain Kaltim dapat melalui pelabuhan Kariangau,” terang Direktur PT Kaltim Karingau Terminal (KKT) M Basir, Selasa (20/2/2018).
Pertumbuhan aktivitas peti kemas itu disebabkan pertambahan kegiatan dengan terlayaninya kebutuhan kegiatan peti kemas di Kaltim melalui pelabuhan tersebut. Pelaksanaan program baru yang dijalankan di 2017 tersebut pendorong pertumbuhan.
“2017 mengalami pertumbuhan tujuh hingga 10 persen. Artinya ada perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kami menggagas trasimen misal kargo tujuan berau, tarakan transit di pelabuhan Kariangau agar ramai sehingga memacu produktivitas. Ukurannya apabila bongkar muat ramai maka pertumbuhan ekonomi jalan,” tandas Basir.
Setelah kegiatan transit di pelabuhan Balikpapan, mulai Maret 2018 nanti KKT akan membuka layanan direct call untuk lebih mendongkrak pertumbuhan bongkar muat pelabuhan. “Selama ini barang kita (peti kemas) setiap bulannya mencapai 1.600 tius. Pengirimannya selama ini harus melalui luar Balikpapan seperti Surabaya dan daerah lainnya. Kalo semua lewat pelabuhan kita, dampakanya akan luar biasa, akan banyak dampak yaitu perluasan lapangan kerja baru, pendapatan daerah bertambah,” tutur Basir lebih lanjut.
Operasionalisasi direct call menurutnya, dapat dilakukan segera, untuk mendorong percepatan dalam pengangkutan ataupun pengiriman barang melalui Kalimantan Timur. “Percepatan pengiriman pastinya akan berdampak. Seperti ekspor ke China hanya memakan waktu 14 hari dari sebelumnya 30 hari. Nanti direct call nya tak hanya china tapi juga ke Vietnam dan lainnya sesuai dengan komoditasnya,” tandasnya.
Adapun komoditi yang diekspor melalui Kalimantan Timur diantaranya adalah hasil laut seperti udang, ikan. Saat ini Pelabuhan Kariangau mampu menampung 300 ribu tius pertahunnya. “Apabila ada direct call dan depo kontainer pastinya pertumbuhan kegiatan bongkar muat akan bertumbuh terus. Karena kami mohon dukungannya dari pemprov dan kota,” pungkasnya.