Air Terjun Cijuet Penuh Warna Kesejukan Sekaligus Edukasi
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
LAMPUNG — Barisan dataran tinggi di kaki Gunung Rajabasa menjadi sebuah potensi alam yang menciptakan sejumlah air terjun salah satunya terletak di Desa Cugung Kecamatan Rajabasa Kabupaten Lampung Selatan.
Air terjun Cijuet menurut salah satu pengunjung, Sugeng Hariyono merupakan destinasi yang mudah dicapai melalui jalan lingkar pesisir. Berjarak sekitar lima belas kilometer dari pelabuhan Bakauheni dan tiga puluh kilometer dari Kalianda dengan waktu tempuh satu hingga dua jam.
“Pembenahan akses jalan beberapa tahun ini sangat menunjang sehingga saya bisa membawa kendaraan lebih dekat sekaligus menghemat tenaga untuk menuju ke air terjun,” ungkap Sugeng Hariyono salah satu pengunjung.
Kunjungan pada awal Januari hingga Maret juga merupakan pilihan tepat karena pada bulan tersebut menjadi masa panen beragam jenis buah diantaranya langsat, durian, rambutan, duku ditambah kelapa muda nan menyegarkan.
Setelah melintasi suasana alam persawahan, perkebunan dan sesekali bisa melihat pemandangan Selat Sunda dengan kapal kapal melintas dari ketinggian, pengunjung disambut dengan suasana artistik penataan destinasi wisata alam pegunungan tersebut.
Ban ban bekas warna warni, kayu dan bambu yang dibuat menjadi pagar sekaligus gubuk gubuk dari bambu dan kayu yang menjadi lokasi berjualan warga, mushola dan lokasi bersantai berupa saung saung.
“Bagi yang ingin merasakan kesegaran air terjun bisa mandi di dua air terjun,”terang Sugeng Hariyono.
Bagi pecinta wisata alam kekinian berkunjung ke destinasi air terjun Cijuet akan semakin lengkap dengan keberadaan sejumlah spot untuk berswa foto dengan latar belakang saung saung unik, batu batu besar artistik yang sudah dimodifikasi menggunakan cat warna warni sekaligus latar belakang air terjun yang menyerupai kapas melayang.
Semua keindahan tersebut diakuinya cukup ditebus dengan membayar tarif masuk untuk setiap pengunjung sebesar Rp5.000 perorang termasuk biaya parkir yang lokasinya cukup memadai.
Selain sejuk dan dominan suara gemericik air terjun sesekali di wilayah tersebut juga kerap terdengar suara satwa berupa burung hutan dan kera kera bergelantungan di pepohonan untuk mencari buah buahan.
Saat bersantai pengunjung pada akhir pekan juga bisa mudah memperoleh makanan dan minuman bahkan buah-buahan seperti durian yang bisa dibeli dengan harga mulai Rp25.000 hingga Rp30.000 pergandeng.
“Bagi pecinta fotografi air terjun cijuet bisa menjadi media praktek tekhnik low exposure memperoleh kesan air terjun seperti kapas,” terang Sugeng Hariyono.
Fungsi Ekologis Air Jadi Sarana Edukasi

“Kreasi para pemuda di Desa Cugung sekaligus dari para mahasiwa yang pernah melakukan pengabdian masyarakat di sini semakin menjadi daya tarik untuk wisata air terjun Cijuet,” terang Ali Muhaimin.
Keberadaan air terjun yang dipergunakan sebagai destinasi wisata tirta tersebut bahkan diakuinya kini menjadi sumber pendapatan asli desa dari sektor wisata mulai dari sumber tiket masuk dan memberi penghasilan bagi warga yang berjualan makanan dan minuman ringan serta buah buahan hasil kebun.
Promosi akan wisata alam pegunungan yang gencar sekaligus diimbangi penataan akses jalan bahkan disebut Ali Muhaimin membuat air terjun tersebut kerap menjadi pilihan setiap akhir pekan selain mengunjungi destinasi wisata bahari di pesisir Rajabasa.
Lokasi yang mudah diakses dengan kendaraan roda dua disebutnya sangat nyaman bagi anak anak sekaligus bisa menjadi sarana edukasi dalam fungsi ekologis air dan tekhnik fisika.
Ia menyebut keberadaan aliran air dengan beberapa saluran air dari bambu dan dibentuk menjadi kincir yang mengalir melalui bambu menciptakan ritme musik dan bunyi kentongan bambu. Aliran air terjun yang lestari menjadi salah satu bukti manfaat menjaga hutan yang ada di atasnya dalam mempertahankan fungsi ekologis air.