YOGYAKARTA – UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kabupaten Bantul sebagai ujung tombak pelaksana program Upaya Khusus Sapi Induk Wajib Bunting (Ubsus Siwab), pesimis program pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian itu bisa tercapai pada 2018 ini.
Kabupaten Bantul selama 2017 mampu memenuhi target pelaksanaan tahap awal program Upsus Siwab, dengan melakukan 20 ribu kali inseminasi buatan (IB) pada populasi ternak di wilayah Bantul, dari target yang hanya 18 ribu saja. Dibandingkan Kabupaten lain di DIY, seperti Sleman, Kulonprogo, maupun Gunungkidul, pelaksanaan IB di Kabupaten Bantul jelas paling tinggi.

Namun, Kepala UPT Puskeswan Bantul, Sri Ida Sulistyorini, mengatakan, tingginya jumlah Inseminasi Buatan yang dilakukan itu belum tentu menjamin tercapainya program Upsus Siwab, yakni terjadinya kebuntingan pada ternak, terlebih penambahan populasi ternak, dengan adanya kelahiran ternak baru.
Apalagi, dalam pelaksanaannya di lapangan, angka 20 ribu inseminasi buatan tersebut tidak diketahui digunakan untuk berapa ekor pupulasi sapi. Hal itu terjadi karena tidak validnya proses pendataan jumlah sapi yang diberikan IB akibat mekanisme dari pusat yang seolah kurang matang.
“Ketentuannya, IB secara gratis itu maksimal hanya diberikan 2 kali untuk tiap 1 ekor sapi indukan. Tapi, prakteknya di lapangan, 1 ekor sapi milik peternak bisa mendapatkan program IB gratis hingga berkali-kali,” katanya.
Menurut Ida, hal itu terjadi karena penandaan yang dilakukan pada sapi yang telah diberikan IB gratis hanya berupa kalung. Sehingga sangat mungkin dimanipulasi oleh peternak, dengan kembali mengajukan sapi yang sama untuk mendapatkan IB gratis dari petugas Puskeswan.
“Semestinya setiap sapi yang sudah diberikan IB diberi kode tertentu. Sehingga bisa jelas mana sapi yang sudah mendapatkan IB gratis mana yang yang belum,” katanya.
Sebagai dokter hewan, Ida juga mengetahui betul, pemberian IB pada ternak bukan menjadi satu-satunya penentu sapi akan bisa bunting dan melahirkan anakan ternak. Pasalnya, faktor asupan pakan bermutu dan kondisi kesehatan hewan ternak, justru menjadi hal yang lebih penting dalam upsus siwab.
“Tapi, program upsus siwab ini hanya berupa pemberian IB saja. Tidak ada program lain, seperti misalnya pemberian makanan tambahan konsentrat atau pemberian obat penambah hormon. Jadi, menurut saya, tingkat keberhasilan sapi untuk bisa bunting dan melahirkan semakin kecil,” katanya.
Menurut Ida, kepastian berhasil atau tidaknya program upsus siwab pada tahap awal 2017 dengan pemberian IB di wilayah Bantul, baru akan bisa diketahui pada 2018 ini. Yakni dengan melihat berapa jumlah sapi induk yang bunting dan melahirkan.