Pupuk Bersubsidi di Sejumlah KUD Kulon Progo, Kosong
YOGYAKARTA – Keberadaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Kulon Progo diketahui mulai sulit didapatkan sejak beberapa hari terakhir. Hal itu dibuktikan dengan kosongnya stok pupuk bersubsidi di sejumlah agen penyalur seperti KUD.
Seperti terlihat di KUD Harapan Temon, Kulon Progo. Stok pupuk di gudang KUD Harapan Temon nampak melompong Senin (8/1/2012). Gudang seluas kurang lebih 60 meter persegi itu nampak hanya terdapat dua sak pupuk jenis ponska.
Itupun merupakan pupuk bersubsidi yang telah terbeli petani setempat, hanya saja belum sempat diambil.
“Biasanya kita punya stok pupuk bersubsidi minim 1 ton di gudang. Tapi ini kosong, tidak ada stok sama sekali. Hanya tinggal 2 sak, itu pun sudah laku,” ujar pengurus KUD Harapan, Harjo, Senin.
Menurut Harjo, kosongnya stok pupuk bersubsidi di KUD Harapan sudah berlangsung sejak seminggu terakhir. Hal itu disebabkan karena kiriman pupuk bersubsidi dari distributor belum datang hingga saat ini.
“Kita sebenarnya sudah minta 3 ton pupuk. Tapi sejak seminggu belum juga dikirim. Tidak tahu kenapa,” katanya.
Akibat tidak adanya stok pupuk bersubsidi, dikatakan Harjo, banyak petani harus kecewa karena tidak bisa mendapatkan pupuk bersubsidi. Padahal saat ini merupakan musim tanam sehingga banyak petani membutuhkan pupuk.
“Hampir setiap hari banyak petani yang datang mau membeli pupuk. Tapi karena barangnya tidak ada ya mau bagaimana lagi,” tuturnya.
Dijelaskan Harjo, KUD Harapan Temon sendiri selama ini menjadi agen penyalur pupuk bersubsidi untuk tiga wilayah desa di Kecamatan Temon yakni Desa Temon Wetan, Temon Kulon dan Kalidengen. Pengadaan pupuk bersubsidi dilakukan sesuai dengan kebutuhan pupuk di masing-masing kelompok.
“Jadi kelompok mengajukan berapa jumlah kebutuhan pupuk untuk petani. Nanti kita pesankan ke pihak distributor. Setelah itu dikirim ke kita untuk disalurkan ke kelompok,” katanya.
Namun, meski telah mengajukan ke distributor sebanyak 3 ton, hingga saat ini pupuk untuk kebutuhan sejumlah kelompok tani di 3 desa tersebut belum juga dikirim. Pihak KUD maupun kelompok petani pun tak bisa berbuat banyak.
“Kita masih menunggu, walaupun belum tahu kapan akan dikirim,” pungkasnya.