LEBAK — Produksi kedelai di Kabupaten Lebak, Propinsi Banten, selama awal Januari 2018 melimpah sehingga menguntungkan pendapatan ekonomi petani di daerah itu.
“Produksi kedelai itu melalui program upaya khusus (upsus) padi,jagung dan kedelai atau pajale dan Lebak tahun 2017 mendapat bantuan seluas 3.000 hektare,” kata Kepala Seksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Lebak, Deni Iskandar di Lebak, Minggu.
Produksi kedelai melalui bantuan program upsus yang digulirkan Kementerian Pertanian cukup menggembirakan karena memenuhi kebutuhan pasar lokal.
Saat ini, permintaan kedelai di Pasar Rangkasbitung cenderung meningkat,bahkan pembelinya datang dari luar daerah.
Para konsumen kedelai tersebut untuk dijadikan bahan baku usaha kerajinan masyarakat, seperti minuman susu kedelai, makanan camilan dan kedelai rebus.
Selain itu juga bahan baku makanan tempe dan tahu.
Pihaknya terus mengembangkan kedelai untuk meningkatkan produksi karena cukup meningkatkan kesejahteraan petani.
Saat ini, harga kedelai di pasaran dengan kisaran antara Rp 8.000 sampai Rp 9.000 per kilogram.
“Kami minta petani memperluas untuk mengembangkan tanaman kedelai dan tidak mendatngkan dari luar daerah,” katanya.
Menurut dia, pemerintah daerah optimistis kedepan Lebak menjadi swasembada kedelai melalui program upsus pajale itu.
Sebab, kata dia, potensi lumbung kedelai sangat berpeluang karena didukung lahan begitu luas baik lahan darat juga lahan persawahan.
Di samping itu, pemerintah daerah bekerjasama dengan perusahaan BUMN di antaranya PTPN VIII dan Perum Perhutani guna mendukung swasembada pangan.
Lahan perusahaan BUMN tersebut nantinya dimanfaatkan oleh kelompok tani agar dikembangkan tanaman kedelai dengan pola tumpang sari.
Pengembangan budidaya tanaman kedelai itu dapat menjadikan peluang usaha agribisnis dalam upaya menanggulangi kemiskinan dan pengangguran.
“Kami berharap pengembangan kedelai dapat meningkatkan ekonomi petani juga dapat memenuhi pasar lokal,” katanya menjelaskan.
Udin (50) seorang pedagang di Pasar Rangkasbitung mengatakan dirinya mendatangkan kedelai dari berbagai daerah di Kabupaten Lebak karena memasuki musim panen.
Bahkan, dirinya setiap hari menampung kedelai antara 10 sampai 12 ton per hari.
Mereka pembeli kedelai ke sini kebanyakan para pelaku usaha kerajinan aneka makanan untuk dijadikan makanan camilan dan kedelai rebus.
Pihaknya sangat kewalahan melayani permintaan,selain permintaan lokal juga dipasok juga ke Pasar Kebayoran, Jakarta.
Namun, beruntung produksi kedelai memenuhi permintaan karena tibanya musim panen serentak diberbagai wilayah di Lebak.
“Kami berharap Lebak kedepan bisa menjadikan andalan produksi kedelai sehingga bisa memenuhi permintaan luar daerah,” katanya.
Kusnadi (55) seorang petani Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak mengaku dirinya kini panen kedelai seluas dua hektare dan dipasok ke Pasar Rangkasbitung dengan harga Rp7.000/Kg.
Ia mengembangkan kedelai itu bantuan program upsus pajale dengan produktivitas sebanyak 2,27 ton per hektare.
“Kami memperkirakan panen kedelai ini bisa meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga,” katanya. [Ant]