Presiden Soeharto Sangat Peduli Kesenian Tradisional

JAKARTA – Beberapa waktu yang lalu, Cendana News mewawancarai salah seorang penggiat kesenian tradisional yang mengeluhkan kurangnya perhatian pemerintah sekarang pada kesenian tradisional.

Ia dengan anggota grup kesenian tradisionalnya menempati hunian di belakang gedung kesenian yang berjejal-jejal, dimana satu unit hunian ditempati dua sampai tiga KK yang artinya terdiri tiga keluarga dalam satu unit hunian.

Ia merasa pemerintah sekarang mengembangkan kesenian tradisional itu sebagai pemborosan dan tidak memberi masukan devisa pada negara sehingga tidak mempedulikan.

Kesenian Tradisional, Investasi Kultural

Hal itu sangat berbeda sekali dengan kepedulian kesenian tradisional pada zaman Orde Baru, sebagaimana yang dilansir dalam Soeharto.co.  Mengutip buku ‘Jejak Langkah Pak Harto 16 Maret 1983 – 11 Maret 1988’ yang ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT. Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003, Presiden Soeharto meresmikan pembukaan Pesta Kesenian Bali Tahun 1987 di panggung Jayasabha Gubernuran di Denpasar, Bali, 13 Juni 1987.

Dalam amanatnya, Presiden Soeharto mengatakan bahwa usaha mengembangkan kesenian tradisional atau kesenian daerah sama sekali bukanlah pemborosan. “Kesenian tradisional mempunyai nilai investasi kultural yang sangat penting, “ ungkapnya.

Menurut Presiden Soeharto, kesenian tradisional mempunyai nilai investasi kultural, yang artinya, bukan saja bagi kehidupan sosial budaya itu sendiri, tetapi juga bagi kehidupan sosial ekonomi bangsa kita.

“Sebab kekayaan budaya bangsa kita, lebih-lebih aneka corak keseniannya, mempunyai daya tarik yang kuat untuk mengundang gelombang wisatawan dari luar negeri datang ke negeri kita, “ paparnya.

Lebih lanjut, Presiden Soeharto menerangkan, bahwa usaha untuk mengembangkan dan menjajakan kesenian bangsa kita itu tentu saja tidak boleh dilakukan dengan merendahkan nilai seni itu sendiri.

“Kita harus mencegah jangan sampai kesenian kita terbawa oleh arus komersialisasi, sebab hal ini justru akan menciderai nilai hakiki dari kesenian itu sendiri, “ tegasnya.

Kesenian sebagai Kekuatan Nasional

Saat memberikan sambutan di depan para peserta Rapim BKKNI (Badan Koordinasi Kesenian Nasional Indonesia) di Istana Merdeka, Presiden Soeharto menegaskan, pembangunan kesenian penting artinya karena dalam melaksanakan pembangunan kita bertekad untuk membangun manusia Indonesia yang utuh.

Lebih lanjut, Kepala Negara menerangkan bahwa ini berarti dalam melaksanakan pembangunan tidak cukup hanya membangun segala sesuatu yang serba benda.

Pembangunan yang serba benda hanya akan membuat kehidupan manusia terasa pincang.

“Manusia akan merasa bahagia jika ia juga merasakan kepuasan dalam kehidupan kejiwaan dan kerohaniannya itu,” kata Kepala Negara.

Di lain pihak, demikian kata Presiden, maju dan tingginya mutu kesenian akan mempunyai arti yang penting bagi pembangunan secara keseluruhan. Kesenian selalu mengandung unsur-unsur keindahan, kehalusan dan kemanusiaan.

“Karena itu, makin dalam pengaruh kesenian di kalangan masyarakat, secara tidak langsung akan ikut memberi warna yang indah, halus dan manusiawi pada jalannya pembangunan,” papar Presiden.

Jiwa seni masyarakat kita sangat kuat dan mempunyai akar-akar yang dalam. Tidak terbilang banyak kesenian daerah yang beraneka ragam, yang satu lebih indah dari yang lain.

Menurut Kepala Negara, kesenian umumnya mengandung falsafah dan ajaran-ajaran mengenai sikap hidup pribadi dan sikap bermasyarakat yang luhur.

“Kebesaran bangsa kita, bukan semata-mata karena kita memiliki jumlah penduduk yang nomor lima besarnya di dunia dan bukan pula hanya karena kita mendiami wilayah nusantara yang luas dan kaya raya. Kebesaran bangsa kita adalah karena kita juga kaya akan kesenian yang indah dan beraneka ragam tadi,” papar Presiden Soeharto.

Presiden Soeharto mengatakan, kesenian merupakan milik bersama, dan merupakan salah satu kekuatan nasional yang tidak ternilai harganya. Karena itu perlu dipelihara sebaik-baiknya. Inilah yang menurut Kepala Negara merupakan salah satu tugas penting dari BKKNI.

Pada bagian lain dari sambutannya, Kepala Negara juga mengajak para peserta Rapim BKKNI untuk memanfaatkan kesenian dalam ikut serta pada pembangunan bangsa.

“Melalui kesenian, kita dapat menggelorakan semangat dan kegairahan pembangunan di kalangan masyarakat,” kata Presiden Soeharto.

Apresiasi Besar

Denny Malik dalam buku ‘Pak Harto The Untold Stories’ (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama, 2011), menuturkan, tidak ada yang memberi apresiasi sebesar Pak Harto. “Saya terkenang akan kebiasaan Pak Harto dan Ibu Tien yang selalu menyempatkan diri menyalami para penari dan penyanyi di akhir acara pergelaran kesenian d Istana Negara,“ tuturnya.

“Apalagi kalau ada anak-anak kelompok Swara Mahardhika, Pak Harto dan Ibu selalu menyapa mereka,“ ungkapnya bangga.

Denny Malik mengawali karir sebagai penari dan koreografer pada kelompok Swara Mahardhika yang dipimpin putra Bung Karno, Guruh Sukarnoputra. Banyak yang memanas-manasi, mengatakan hal-hal yang tidak benar mengenai hubungan antara anak-anak Bung Karno dan Presiden Soeharto.

“Padahal saya menyaksikan sendiri komunikasi antara Mas Guruh dengan putra-putri Pak Harto terjalin dengan baik. Tidak mengherankan jika Swara Mahardika mendapat tempat tersendiri di pemerintahan Pak Harto. Itu karena kami dipandang sebagai seniman, terpisah dari ranah dan kepentingan politik,“ bebernya.

“Pesan Pak Harto, tari dan kebudayaan daerah harus terus dikembangkan,” tegasnya.

Tak pernah terpikir di benak Denny Malik bahwa keluarga Pak Harto begitu memperhatikan dirinya. Sungguh, ia luar biasa terkesan ketika Pak Harto dan keluarga memberikan hadiah menikah gratis di Masjid At-Tin untuk dirinya dan istri.

“Kehadiran putra-putri Pak Harto pada saat bersejarah itu sangat membanggakan saya dan keluarga besar kami,“ pungkasnya sumringah.

Pak Harto, duduk sejenak di ruang adat Peusejuk, Aceh. Foto: Istimewa/Soeharto.co
Lihat juga...