Petani Cabai Kulonprogo Kembangkan Pengairan Sistem Infus
YOGYAKARTA – Seorang petani cabai asal Dusun Pripih, Hargomulyo, Kokap, Kulonprogo, Edi Santosa, berhasil mengembangkan inovasi pengairan sistem infus di lahan pertanian cabai miliknya.
Sistem pengairan ini dinilai sangat efektif, karena dapat menghemat tenaga maupun biaya produksi. Inovasi berupa sistem infus ini diterapkan dengan memanfaatkan air sumur/air tanah yang dibuat di sekitar lahan pertanian. Air dari dalam sumur bor dialirkan ke sebuah bak penampungan dengan menggunakan mesin pompa air.

Dari bak penampungan, air kemudian dialirkan menggunakan selang-selang plastik yang dihubungkan ke masing-masing bedengan tanaman cabai. Selang plastik yang telah dilubangi kecil-kecil ditanam di dalam mulsa sehingga tidak terlihat.
“Untuk menyiram tanaman, kita hanya perlu menghidupkan kran pompa air dengan tenaga diesel. Secara otomatis selang akan memampat dan air akan memancar ke segala arah lewat lubang kecil yang telah dibuat,” katanya, Senin (08/01/2018).
Dengan sistem baru ini, Edi mengaku tidak perlu mengeluarkan tenaga sama sekali setiap kali menyiram tanaman cabai. Proses penyiraman juga jauh lebih cepat dibandingkan dengan sistem penyiraman manual. Keunggulan lainnya, air juga menjadi lebih merata tersiram ke tanaman.
“Penyiraman jadi lebih merata, karena berada di dalam mulsa. Untuk lahan 850 meter persegi penyiraman bisa selesai dalam waktu setengah jam. Tinggal menghidupkan mesin diesel saja, setelah itu bisa kita tinggal,” katanya.
Dalam pengembangannya, Edi juga memanfaatkan pengairan sistem infus ini untuk proses penggaraman atau pemupukkan. Yakni, dengan mencampurkan pupuk ke dalam bak penampungan air, sehingga pemupukkan bisa dilakukan sekaligus bersamaaan dengan proses penyiraman.
“Jadi, di samping bak penampungan itu sudah kita siapkan bak khusus untuk mencampurkan pupuk menggunakan pipa paralon. Pada pipa paralon terdapat bukaan yang dapat diatur seberapa besar pupuk cair dialirkan,” katanya.
Menurutnya, salah satu kendala yang biasa dihadapi dalam pengairan sistem infus ini adalah tersumbatnya lubang pada selang. Untuk mengatasi hal itu, Edi biasa melubangi selang dengan jarum kasur yang lebih besar dibandingkan jarum biasa, sehingga aliran air tidak macet.
“Biaya awal untuk modal pengairan sistem infus ini juga tidak mahal. Cukup membeli selang sepanjang 200 meter seharga Rp85 ribu. Itu bisa digunakan untuk 5 kali masa tanam. Yang penting jarak bedengan harus dibuat sama, tidak berubah-rubah,” pungkasnya.