Pertemuan Presiden Soeharto dengan Pangeran Bernhard Berbuah Pelestarian Alam

JAKARTA — Jika dua tokoh dari dunia negara bertemu pasti selalu menghasilkan sesuatu. Begitu juga pertemuan Presiden Soeharto dengan Pangeran Bernhard yang berbuah pelestarian alam. Pangeran Bernhard banyak memegang jabatan-jabatan, antara lain ia yang mendirikan WWF (World Wide Fund for Nature).

Sebuah organisasi non-pemerintah internasional yang menangani masalah-masalah tentang konservasi, penelitian dan restorasi lingkungan,. Selain itu antara tahun 1946 dan 1976 ia merupakan inspektor-jendral tentara Belanda.

“Saya tadi menyampaikan ucapan selamat kepada Presiden karena berkat pengertiannya yang mendalam mengenai pelestarian maka upaya pembangunan di negara anda tetap memperhatikan bidang pelestarian alam,” kata Pangeran Bernhard setelah bertemu dengan Presiden Soeharto, di Bina Graha Jakarta, sebagaimana yang dilansir dalam Soeharto.co.

Berita Presiden Soeharto menerima kunjungan Pangeran Bernhard dan Ratu Juliana itu masuk dalam buku “Jejak Langkah Pak Harto 29 Maret 1978 – 11 Maret 1983”, yang ditulis oleh Team Dokumentasi Presiden RI, Editor: G. Dwipayana & Nazarudin Sjamsuddin dan diterbitkan PT Citra Kharisma Bunda Jakarta Tahun 2003.

Juga masuk dalam buku “Presiden RI Ke II Jenderal Besar HM Soeharto dalam Berita”, Buku X (1988), yang diterbitkan Antara Pustaka Utama, Jakarta, 2008

Pangeran Bernhard dari Belanda mengharapkan Indonesia terus mempertahankan kelestarian badak Sumatera, meskipun pendiri Dana Margasatwa Dunia (WWF) itu mengakui upaya tersebut tidak mudah.

“Kita tidak mengetahui apakah binatang yang tinggal beberapa ekor itu berkembang biak atau tidak,” ungkapnya.

Mengenai perlindungan badak Jawa di Ujungkulon, Jawa Barat, bekas ketua WWF itu menilainya “sangat aman”.

Ia juga mengharapkan perlindungan lebih ketat terhadap orangutan Kalimantan. “Meskipun dikatakan tidak ada bahaya kepunahan, tapi kami menganggap harus dilindungi, termasuk monyet berhidung panjang,” ujar suami Ratu Juliana dari Kerajaan Belanda itu.

Dalam kaitan itu ia berpendapat perlunya Pemerintah Indonesia melarang perdagangan binatang tersebut, termasuk anak-anaknya. Namun secara umum Pangeran Bernhard memuji usaha Pemerintah Indonesia dalam melestarikan kekayaan flora dan faunanya.

Ketika ditanya dana WWF yang disalurkan ke Indonesia, Pangeran yang usianya menjelang 77 tahun itu mengaku tidak ingat jumlahnya yang pasti.

“Dalam beberapa tahun terakhir ini jumlahnya beberapa juta gulden dan uang itu praktis berasal dari Belanda,” katanya.

Ia mengemukakan, WWF setiap tahun menyediakan dana untuk hutan-hutan suaka margasatwa, riset dan sebagainya. Belanda sendiri tentu tidak dapat menyediakan dana itu seluruhnya, sehingga WWF melakukan kerjasama dengan Australia dan Amerika Serikat.

Dalam waktu dekat, katanya, suatu komite koordinasi Indonesia-BeIanda akan melakukan pertemuan di Jakarta untuk membahas rencana-rencana yang dapat dijalankan dalam lima tahun mendatang.

Ia menghargai upaya Pemerintah Indonesia dalam menetapkan hutan-hutan suaka dan taman hutan baru, yang dinilainya sangat berhasil dalam menjaga kelestarian alam. “Di sini lebih banyak taman yang perlu dipertahankan kelestariannya,” tambah Bernhard.

Setelah bertemu dan melakukan pembicaraan dengan Presiden Soeharto di Bina Graha Jakarta, Pangeran Bernhard melakukan pembicaraan dengan Menteri KLH Emil Salim, Mendagri Supardjo Rustam dan Menteri Kehutanan Soedjarwo dan Menristek B.J. Habibie.

Pangeran Bernhard dan Ratu Juliana tiba di Lapangan Udara Kemayoran, Jakarta pada 26 Agustus 1971. Keduanya disambut oleh Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto.

Setelah jamuan santap malam kenegaraan, esoknya Pangeran Bernhard dan Ratu Juliana berkunjung ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan perkuburan serdadu Belanda di Menteng Pulo. Mereka melakukan penghormatan dan peletakkan karangan bunga.

Kunjungan berikutnya, Pangeran Bernhard dan Ratu Juliana datang ke sebuah acara pameran pembangunan di sekitar Monas. Selanjutnya, mengunjungi kampus UI, Istana Bogor, Bandung, Yogyakarta, Borobudur, Bali dan juga Sumatera Utara.

Lihat juga...