Pancaran Cahaya Spiritual Try Soetrisno dalam Pandangan Batin GPH Djati Kusumo
Sebagian orang mungkin tidak percaya bahwa dalam diri setiap manusia memiliki pancaran cahaya spiritual. Namun, tingkat kekuatan pancaran itu ada yang kecil, ada yang sangat besar. Khususnya pada diri Jenderal Purnawirawan Try Soetrisno, cahaya spiritual kepemimpinannya, ketika dilihat oleh orang yang memiliki penglihatan batin, tergolong sangat kuat memancar.
Jika tidak percaya tentang cahaya spritual atau aura seseorang, di dunia paramedis modern sekarang ini, telah ditemukan alat untuk memotret aura. Alat potret aura ini bisa melihat beraneka ragam cahaya yang menyelimuti sekujur tubuh manusia. Karena telah ditemukannya alat ini, “aura” telah menjadi hal yang ilmiah, karena keberadaanya sekarang telah bisa diukur, dilihat, dan diamati.
Beberapa ahli menyatakan, aura manusia berasal dari emosi individunya. Karena, berdasarkan observasi, warna aura yang menyelimuti manusia berubah, seiring dengan perubahan emosinya. Semisal, saat individu merasa tenang, rileks, dan santai, maka warna aura yang muncul adalah cenderung kehijauan. Kebalikannya, saat individu (yang sama) merasakan marah, jengkel, dan dongkol, maka warna aura yang terlihat adalah cenderung merah pekat. Namun, sumber warna dari aura yang menyelimuti manusia, tidak hanya berasal dari faktor emosi saja.
Ada sebuah hipotesis ahli yang menyatakan, aura yang menyelimuti tubuh manusia tersebut tempat muaranya adalah “cakra”. Cakra adalah titik pusat energi yang ada di dalam tubuh bioplasmik manusia. Pengetahuan tentang cakra ini, sebenarnya berasal dari timur. Negara-negara barat, termasuk Eropa, pada awalnya tidak menganut keyakinan ini dan tidak percaya dengan adanya cakra. Namun, seiring berkembangnya ilmu pengetahuan, baik di bidang kesehatan, kedokteran modern atau bela diri, orang-orang barat mulai setuju dengan konsep titik cakra dalam tubuh manusia.
Dalam khazanah Islam, aura manusia atau cakra ini sempat disebut dalam Alquran Surat An-Nur ayat 35 yang menyatakan, “Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah (pada alam semesta dan hambanya—Red), adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Pertalian Spritual antara Try Soetrisno dengan GPH Djatikusumo
Dalam konteks perbincangan tentang aura manusia, tidak banyak orang tahu, bahwa Jenderal Purnawirawan Try Soetrisno banyak mendapatkan kemudahan dan keistimewaan hidup karena pancaran cahaya spiritual yang sangat kuat dalam dirinya. Beberapa orang yang waskita merasakan, Try Soetrisno memiliki pancaran cahaya spiritual kepemimpinan. Salah satu yang bisa merasakan keistimewaan tersebut adalah Gusti Pangeran Haryo (GPH) Djati Kusumo yang lebih dikenal sebagai bagian dari Trah Kasunanan Surakarta Hadiningrat. GPH Djati Kusumo juga merupakan Jenderal TNI Angkatan Darat dan dinobatkan sebagai Pahlawan Bangsa. Jika bukan karena penglihatan batin GPH Djati Kusumo, bukan tidak mungkin, Try Soetrisno hampir gagal menjadi tentara.
Sebagai seorang Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, GPH Djatikusumo satu angkatan atau seumuran dengan pahlawan nasional Slamet Riyadi yang gugur di Ambon ketika berjuang menegakkan kedaulatan NKRI. GPH Djati Kusumo dibesarkan di lingkungan Kraton dan merupakan anak dari Paku Buwono X. Ketika Republik Indonesia berupaya mempertahankan proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, GPH Djatikusumo turut serta memanggul senjata, berani berperang melawan penjajah Belanda.
Setelah perang kemerdekaan selesai, GPH Djati Kusumo melanjutkan pengabdiannya sebagai TNI Angkatan Darat yang berjuang bagi nusa, bangsa, dan negara Indonesia. Jabatan tertinggi GPH Djati Kusumo di TNI AD adalah Kepala Staf Angkatan Darat, dengan pangkat terakhir Letnan Jenderal TNI. GPH Djati Kusumo juga sempat menjadi Duta Besar RI untuk Singapura (1958—1960), Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja I (1959—1960), Menteri Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja II (1960—1962), serta Menteri Muda Perhubungan Darat dan Pos, Telegraf dan Telepon Kabinet Kerja III (1962—1963). Berkat berbagai pengabdian dan pengorbanannya, GPH Djati Kusumo mendapat gelar kepahlawan dari Pemerintah Republik Indonesia. Ia tercatat sebagai Trah Kraton Kasunanan kelima yang diberi gelar Pahlawan Nasional. Salah satu jasa GPH Djati Kusumo bagi bangsa Indonesia dan TNI AD adalah mendirikan Corps Zeni Angkatan Darat (salah satu kesenjataan dalam kesatuan TNI yang memiliki dua fungsi tugas sebagai tentara yang memiliki keahlian dalam pemanfaat bahan peledak dan memiliki kemampuan dalam arsitektur pembangunan bagi pelaksanaan tugas pokok TNI AD).
Tak bisa dipungkiri, GPH Djati Kusumo menjadi seseorang yang sangat penting dalam penentuan langkah awal kesuksesan seorang Try Sutrisno yang lahir pada 15 November 1935 di Surabaya, Jawa Timur. Try Soetrisno memiliki Ayah bernama Subandi, seorang sopir ambulans. Sedangkan ibu dari Try Soetrisno bernama Mardiyah, seorang ibu rumah tangga.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, ketika Belanda kembali untuk mengklaim kembali Indonesia sebagai koloni mereka, Try Sutrisno dan keluarganya sempat pindah dari Surabaya ke Mojokerto. Ayahnya yang bekerja sebagai petugas medis untuk Batalyon Angkatan Darat Poncowati, memaksa Try Sutrisno untuk berhenti sekolah dan mencari nafkah sebagai penjual rokok dan penjual koran.
Perjalanan pahit menjadi pedagang asongan itu, membuat Try Soetrisno disepelekan banyak orang dalam perjalanan hidupnya. Dengan tekad mengubah hidupnya yang pahit, pada usia 13 tahun, Try Sutrisno mencoba bergabung dengan Batalyon Poncowati yang melawan Belanda. Namun, tidak ada satu pun komandan Batalion yang menanggapi Try Soetrisno dengan serius. Pada momentum tersebut, Try malah dipekerjakan sebagai kurir.
Di Batalyon Poncowati, tugas Try Sutrisno sebagai kurir, hanyalah mencari informasi ke daerah-daerah yang diduduki oleh tentara Belanda, serta mengambil obat untuk Angkatan Darat. Akhirnya, pada 1949, Belanda mundur dan mengakui kemerdekaan Indonesia. Try Sutrisno dan keluarganya menjadi bisa kembali ke Surabaya. Setelah pulang, Try melanjutkan pendidikan SMA-nya, dan berhasil lulus pada 1956.
Sebagai Warga perumahan Corps Zeni Angkatan Darat, setelah lulus dari SMA, Try Sutrisno ingin melanjutkan pendidikannya di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD). Dalam proses seleksi, Try Sutrisno ikut dalam ujian test psikologis di Bandung, Jawa Barat. Dalam proses seleksi menjadi tentara ini, merupakan momentum pertemuan penting antara GPH Djatikusumo dan Try Soetrisno.
Saat itu, kebetulan, GPH Djatikusumo menjabat sebagai DIRZIAD yang sedang menghadiri sebuah kegiatan seleksi penerimaan siswa ATEKAD. Sebagaimana yang dilakukan pimpinan, GPH Djati Kusumo duduk di belakang meja dan melakukan pengawasan ujian ATEKAD pada 1956 tersebut. Setelah ujian selesai, pengumuman siapa yang lolos dan gagal, langsung diumumkan.
Saat itu, panitia seleksi ATEKAD menyatakan, bahwa nama Try Sutrisno dianggap gagal dalam menjalani test seleksi. Setelah menerima pengumuman kegagalan tersebut, Try Sutrisno sempat lemas, lalu langsung meninggalkan ruangan tempat berlangsungnya seleksi. Namun, jalan yang dilintasi pada saat meninggalkan ruangan ujian, ternyata tepat di depan GPH Djati Kusumo yang sedang duduk. Diam-diam, GPH Djati Kusumo mengamati sosok Try Soetrisno.
Selang beberapa saat Try Soetrisno melintas, GPH Djati Kusumo langsung terhenyak dari duduknya. Lalu, entah mengapa, GPH Djati Kusumo langsung menyuruh panitia untuk memanggil calon siswa yang bernamaTry Sutrisno. ”Panggil anak itu! Biarkan Dia Lulus. Karena Dia akan menjadi pemimpin bangsa,” kata GPH Djati Kusumo kepada panitia seleksi ATEKAD.
Keanehan keputusan dari GPH Djati Kusumo ini, membuat penulis sempat bertanya secara langsung kepada GPH Djati Kusumo saat penulis menghadiri berbagai acara di Kraton Kasunanan Surakarta. Ternyata, jawaban dari GPH Djati Kusumo sangat menarik. Dengan pelan, GPH Djati Kusumo menerangkan, ”Ada sinar terang yang menyinari Try Soetrisno dalam penglihatan saya saat menyeleksi calon siswa ATEKAD. Sinar itu seperti lazimnya yang saya ketahui dan saya lihat dalam kepemimpinan Keraton dan lingkungan Bangsawan.”
Ternyata, GPH Djati Kusumo melihat Try Soetrisno dengan penglihatan mata batin. Maka, berdasarkan rekomendasi GPH Djati Kusumo tersebut, pemuda bernama Try Sutrisno diterima menjadi siswa di ATEKAD pada tahun 1957. Inilah uniknya orang tua pada zaman dahulu. Ketika berbicara dan memprediksi, selalu terwujud di kemudian hari. Apa yang dikatakan GPH Djati Kusumo, ternyata menjadi kenyataan. Try Soetrisno ternyata betul-betul menjadi seorang pemimpin. Berdasakan pemahaman atas kewaskitaan prediksi orang tua, anak anak di masa dahulu tidak ada yang berani membantah arahan atau perintah orang tua. Sementara, ironisnya, pada zaman sekarang, orang tua yang mengarahkan kepada kebaikan, malah dijuluki tidak demokratis dan memaksakan kehendak.
Try Sutrisno menyelesaikan pendidikan militernya pada tahun 1959, lulus dari ATEKAD.
Namun, sebelum lulus, pengalaman militer pertama Try Sutrisno adalah tahun 1957, ketika ia ditugaskan berperang melawan Pemberontakan PRRI. Pemberontakan PRRI adalah kelompok separatis di Sumatera yang ingin membentuk pemerintahan alternatif selain Presiden Soekarno.
Corps Zeni Sebagai Berkah Try Soetrisno dalam Pembangunan
Bagi penulis, di balik masalah, selalu ada berkah. Dan di balik musibah, selalu ada anugerah. Kalimat bijak tersebut, mungkin tepat untuk disematkan kepada Try Sutrisno. Melalui Corps Zeni, justri ia bisa menjadi Jenderal dan pemimpin bangsa Indonesia. Seandainya saja ia mendaftar sebagai seorang Infantri, justru mungkin belum tentu berhasil menjadi seorang pemimpin yang berkontribusi dalam pembangunan.
Padahal, pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto, bangsa Indonesia memprioritaskan bidang pembangunan sebagai upaya perubahan. Dalam proses masa pembangunan, Coprs Zeni-lah yang dipandang tepat dan sesuai menerima tugas tersebut. Pilihan tanggung jawab kepemimpinan pembangunan itu, salah satunya diberikan kepada pribadi Try Sutrisno. Bagi saya, Try Sutrisno bukan hanya tokoh militer, melainkan juga budayawan dan politikus cendekiawan.
Bukan tidak mungkin, sejarah akan berkata lain ketika Try Sutrisno yang memiliki kemampuan tangguh sebagai prajurit Zeni, tidak menjadi siswa ATEKAD. Yang patut disyukuri, yaitu peranan Try Soetrisno dalam kehidupan pembangunan kebangsaan Indonesia. Hubungan pertalian spiritual antara Try Soetrisno dengan GPH Djati Kusumo, hanya bisa dipahami oleh orang yang memiliki kesadaran spiritual.
Pertemuan antara GPH Djati Kusumo dan Try Soetrisno adalah sejarah tersendiri yang menjadi bagian dari perjalanan Bangsa Indonesia. Boleh dikata, peristiwa spritual tersebut cukup unik, sederhana, namun memiliki wawasan yang luas dan memiliki dampak pengaruh cukup besar bagi kehidupan kebangsaan Indonesia.
Tanpa hadirnya intervensi GPH Djati Kusumo dalam kehidupan Try Sutrisno saat itu, belum tentu perjalanan kepemimpinan dan kondisi bangsa Indonesia seperti sekarang ini. Bagaimanapun, peranan GPH Djati Kusumo dan Try Soetrisno memiliki arti yang tidak ternilai bagi bangsa dan negara Indonesia. Keduanya sama-sama memiliki kekuatan spiritual. Memang, faktanya, lebih terkenal Try Sutrisno bila dibandingkan dengan GPH Djati Kusumo. Karena, selain dari masa yang berbeda, lingkup peranan yang lebih luas membuat Try Sutrisno menjadi terkenal. Terlebih, Try Sutrisno pernah menjabat Panglima TNI dan menjadi wakil Presiden di masa pemerintahan Presiden Soeharto.
Barangkali, menjadi lucu ketika kita berandai-andai atas apa yang mungkin terjadi pada diri Try Soetrisno. Namun, kenyataannya, GPH Djatikusumo dapat menyaksikan, anak yang diharapkannya menjadi pemimpin, dapat mewujudkan apa yang menjadi perkataannya. Orang tua mana yang tidak bangga dan tidak bahagia ketika menyaksikan anak yang diharapkannya menjadi sukses? Yang jelas, Saat itu, bangsa Indonesia sedang membangun dan memerlukan keterlibatan TNI AD dalam program pembangunan. Melalui figur, kecerdasan, kemampuan, serta kepemimpinan Try Soetrisno, TNI secara menyeluruh menjadi mampu menjawab tantangan dalam proses pembangunan.
Setelah pemilihan Presiden 2014 kemarin, mata rohani saya sebagai penulis menjadi terbuka atas peranan Jenderal Purnawirawan Try Soetrisno. Mata hati saya seolah mendapat perasaan baru, pengetahuan baru dalam alam pemikiran sejarah. Perilaku politik pemerintahan sekarang ini, menjadi terkontrol oleh Try Soetrisno yang karier politiknya justru berakhir pada 1997. Setelah 20 tahun, barulah penulis bisa mengambil hikmah, mengapa kepemimpinan Try Soetrisno berakhir hanya sampai Wakil Presiden.
Menurut amatan penulis, ada indikasi yang dapat kita jadikan bukti dari catatan sejarah nasional Indonesia. Ketika ada masalah besar bangsa Indonesia yang terjadi di tahun 1997, saat reformasi menurunkan Soeharto, memang membuat langkah Try Sutrisno dalam berpolitik, terhenti. Bahkan, kepemimpinan Habibie hanya menjadi jalan atas lepasnya Timor Timur.
Ketika penulis melihat dokumen penerbitan Majalah Tempo tahun 1997 yang menyebutkan Try Sutirisno sebagai Wapres tidak berguna, harus diwaspadai. Ternyata, majalah Tempo menjadi sarana untuk memecah belah, agar kekuatan politik pada masa itu tidak solid lagi. Majalah Tempo mempertentangkan dan mengadu domba antara Soeharto dan Try Soetrisno.
Saat itu, langkah para reformis selanjutnya, yaitu mendiskreditkan Try Sutrisno dan Benny Moerdany dengan kasus HAM Priok. Hal itu dilakukan, agar ada alasan untuk menghambat karier politik keduanya, setelah reformasi berhasil. Bagaimanapun, Try Soetrisno dan Benny Moerdani dianggap sebagai bagian dari politik Soeharto.
Di lain pihak, berbagai cara dibuat oleh media massa untuk memuluskan Habibie sebagai Wakil Presiden. Karena Habibie dianggap dapat dijadikan korban dan alat untuk memuluskan niat buruk dari para pendukung reformasi. Terbukti, ketika Habibie menjadi Presiden, Timor Timur lepas dari Pangkuan Ibu Pertiwi.
Berakhirnya aktifitas Jenderal Try Sutrisno dalam kancah politik nasional yang seolah terhenti, bagi saya, justru membuatnya selamat dari berbagai situasi krusial. Bagaimanapun, jabatan Wakil Presiden adalah sebuah jabatan yang sangat terhormat di Negara Indonesia. Tetapi, di balik jasa dan perjuangan Try Soetrisno selama ini, ada tiga generasi penerus yang saat ini memiliki kedudukan tinggi di Indonesia. Antara lain, Ryamizard Ryacudu, menantu Try Soetrisno yang saat ini menjadi Menteri Pertahanan Republik Indonesia. Kedua, yaitu anak dari Try Soetrisno yang menjadi perwira tinggi di Kepolisian Republik Indonesia. Ketiga, yaitu anak Try Soetrisno lainnya yang menjadi perwira tinggi di Angkatan Darat.
Harapan saya, Jenderal Purnawirawan Try Sutrisno akan selalu memberikan sumbangsihnya bagi kehidupan bangsa Indonesia yang lebih cerah di masa depan. Suri tauladan yang ditorehkan Try Soetrisno dalam tinta emas sejarah nasionalisme Indonesia, akan selalu menjadi inspirasi dan kreatifitas pemuda Indonesia dimasa sekarang ini. Hanya dengan belajar sejarah, kita tahu jasa para pahlawan dan pendahulu kita, serta jati diri bangsa Indonesia. Try Soetrisno dan GPH Djati Kusumo adalah kaca benggala teladan bagi Bangsa Indonesia
*Eko Ismadi adalah Pengamat Sejarah dan Militer
DAFTAR PUSTAKA
1. ^ “Try Sutrisno”. pdat.co.id.
2. ^ “Try Sutrisno, 6th Vice President of the Republic of Indonesia”. Tokohindonesia.com. Diakses tanggal 20017-11-28.
3. ^ a b c “Kasus-Kasus Pelanggaran Berat HAM: Tragedi Tanjung Priok”. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi. Diarsipkan dari versi asli tanggal 28 Oktober 2017. Diakses tanggal 20017-11-28.
4. ^ Quoted in Carey, p. 52. A slightly different wording (“…and we will shoot them”) is quoted in Jardine, p. 17.
5. ^ “Timor: Try Sutrisno’s Bullshit”. Indonesia Publications/Taskforce. Diakses tanggal 20017-11-28.
6. ^ Lane, Max (24 Februari 1993). “Suharto vs. ABRI at MPR – 1”. Green Left.
7. ^ “Soeharto Picks Try As V-P”. Radio Republik Indonesia. 28 Februari 1993.
8. ^ “” Wapres Hanya Ban Serep Yang Tak Terpakai “”. Tempo. 2 Januari 1998.
9. ^ Manoharan, Moses (23 April 1992). “President Try Sutrisno?”. Reuter.
10. ^ “”Usai Dikritik, Wapres Kalla Temui Try “”. Pikiran Rakyat. 25 September 2005. Diarsipkan dari versi asli tanggal 9 Mei 2007.
11. ^ G.P.H Djatikusumo, Sosok Prajurit Sepi Ing Pamrih Rame Ing Gawe. Bandung: Dinas Sejarah Angkatan Darat. 2009.
12. ^ Profil Kepala Staf Angkatan Darat. Bandung: Dinas Sejarah Angkatan Darat. 2011.