Lestarikan Area Gunung Rajabasa, Warga Tanam Pohon
LAMPUNG – Upaya menjaga kelestarian wilayah hutan Gunung Rajabasa terus dilakukan oleh masyarakat yang tinggal berdekatan dengan kawasan hutan Gunung Rajabasa melalui program penanaman multy purpose tree species (MPTS).
Dalom (60) salah satu warga Desa Penengahan Kecamatan Penengahan menyebut, beberapa desa penyangga berdekatan dengan hutan register 3 Gunung Rajabasa sangat tergantung dengan keberadaan hutan yang sekaligus memberikan banyak manfaat bagi masyarakat.
Salah satu manfaat paling penting keberadaan sungai Kham Kawokan yang memiliki mata air di hutan Gunung Rajabasa adalah juga membentuk kawasan daerah aliran sungai yang melintasi perkebunan warga.
Upaya mencegah perambahan hutan disebutnya telah dilakukan dengan keberadaan Kesatuan Pengelolaan Hutan XIII Gunung Rajabasa-Way Pisang-Batu Serampok yang dikelola oleh Dinas Kehutanan Provinsi Lampung.
“Ada petugas yang selalu mengawasi kegiatan masyarakat yang tinggal di kawasan dekat hutan sehingga konsep perhutanan sosial terus digalakkan. Salah satunya dengan keberadaan kebun bibit rakyat untuk penyediaan bibit agar bisa ditanam lagi oleh masyarakat di dekat kawasan hutan,” terang Dalom, salah satu warga Desa Penengahan saat ditemui Cendana News di dekat aliran sungai Kham Kawokan, Rabu (24/1/2018).

Ia menyebut dengan adanya penebangan hutan yang pernah terjadi selain mengurangi debit mata air yang mengalir ke sungai, material pepohonan yang mengalir ke sungai menjadi sampah penyumbat aliran sungai dan merusak sejumlah saluran irigasi pascamusim hujan.
Upaya mempertahankan DAS Kham Kawokan yang mengalirkan air dari hutan Gunung Rajabasa bahkan terus dilakukan oleh Dalom dan warga sekitar dengan penanaman kayu multimanfaat di antaranya jenis tanaman bambu, kayu produktif jenis buah-buahan serta tanaman bahan bangunan yang bisa diregenerasi setelah dipanen.

“Rumpun bambu yang saya tanam ratusan rumpun kerap saya panen untuk dijual sebagai bahan pembuatan ajir menanam cabai, bahan pemasangan pagar tambak dan bahan bangunan dengan nilai ekonomis cukup menjanjikan,” terang Dalom.
Menanam bambu di daerah aliran sungai dengan manfaat mencegah kerusakan sepadan sungai di dekat kawasan hutan Gunung Rajabasa disebutnya memberi keuntungan secara ekonomis sekali panen.
Memanen sekitar 100 batang saja dengan harga bambu per batang mencapai Rp4000 dirinya bisa mendapatkan penghasilan Rp400 ribu. Belum termasuk saat musim buah durian dan rambutan yang sebagian dijual dengan sistem borongan per pohon mencapai Rp600 ribu hingga Rp1 juta.

Ali menyebut sebagian tanaman kayu tersebut merupakan hasil program kebun bibit rakyat (KBR) Kementerian Kehutanan RI yang membantu dengan adanya penyediaan bibit.
“Bantuan bibit yang ditanam dari program KBR Kementerian Kehutanan sebagian sudah dipanen sementara kini kami bisa meminta bibit dari Persemaian Permanen,” terang Ali.
Pemanfaatan kawasan sepanjang daerah aliran sungai di bawah hutan Gunung Rajabasa dengan hasil maksimal dari hasil nonkayu di antaranya cengkih, durian, cabai Jawa dan beragam jenis tanaman lain diakui oleh Ali ikut membantu masyarakat dalam memperoleh pendapatan ekonomi.
Dampaknya masyarakat yang sudah memiliki kesejahteraan tersebut tidak berniat merusak kawasan hutan terlebih masyarakat difasilitasi oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui penyediaan bibit secara gratis.
