JAKARTA – Mempertahankan kesenian tradisional di zaman sekarang semakin penuh tantangan. Teknologi informasi yang semakin canggih membuat kesenian tradisional semakin tersisih. Dibutuhkan kegigihan untuk tetap semangat mempertahankan kekayaan budaya bangsa yang semakin tergerus gelombang zaman.
Omah, salah seorang pelestari kesenian tradisional, kini berjuang habis-habisan.
Kepala Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih itu memang harus gigih untuk tetap mempertahankan kesenian tradisional, yang memang tidak memberi masukan berarti. Tapi tugasnya tentu sangat berat mempertahankan kesenian tradisional di tengah membanjirnya kesenian yang beredar bebas tampil di Youtube.
Dulu sewaktu muda perannya menjadi primadona, tapi sekarang perannya antagonis. Cucu pendiri Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih ini memang harus tetap semangat dan gigih agar kesenian tradisional tetap eksis.
“Saya baru tahun 2017 menjadi kepala Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih. Sebelumnya saya hanya menjadi pemain saja. Mudah-mudahan saya bisa membimbing kemauan seniman di sini, “ kata Kepala Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih Saripah Rohmah yang juga akrab disapa Omah kepada Cendana News, di lantai 2 hunian seniman Miss Tjitjih di Jalan Kabel Pendek, Cempaka Baru, Jakarta Pusat, beberapa waktu yang lalu.

Lebih lanjut, perempuan kelahiran Jakarta, 14 Agustus 1968 yang sudah punya cucu satu itu menerangkan, “Menurut bapak saya, kalau pemain sandiwara ya harus hanya menjadi pemain sandiwara saja. Beliau benar-benar cinta dan sangat perhatian pada sandiwara. Tapi semua kebutuhan pemain dijamin oleh bapak saya pribadi.”
Menurut, Omah, sapaan akrab Saripah Rohmah, “Kalau kemarin kita dapat subsidi atas jasanya Pak Ali Sadikin. Subsidinya dari jaman Pak Ali Sadikin sampai sekarang ini alhamdulillah terus ada.”
Dulu Gedung Miss Tjitjih di daerah Angke kemudian pindah ke daerah Cempaka Baru, Jakarta Pusat. Daripada hilang kesenian tradisional maka dirangkul sama Pemerintah atas kerja sama Pemda DKI Jakarta dengan Pemda Jawa Barat karena ini merupakan kesenian Sunda.
“Kita di Miss Tjitjih sekarang ada juga Bharata, Gedung Kesenian dan Planetarium dalam satu atap naungan Unit Pelaksana (UP) pimpinan Pak Imam yang kantornya di Taman Ismail Marzuki,“ ungkapnya.
Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih memang tidak memberi devisa, tidak memberi masukan keuntungan pada pemerintah, tapi melestarikan kesenian tradisional. “Beda dengan pariwisata yang memang memberikan masukan devisa. Jangan dianggap seperti itu karena kita memang melestarikan kesenian tradisional,“ ungkapnya lagi.

Omah bersama anggota Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih menempati hunian dua lantai yang letaknya persis di belakang Gedung Kesenian Sunda Miss Tjitjih. Hanya saja sudah over kapasitas sehingga satu hunian ditempati dua-tiga kepala keluaga (KK).
“Di sini ada 20 pintu. Saya saja di sini dua KK. Anak saya sudah punya istri tinggal di sini juga. Harusnya satu KK satu hunian. Kalau bukan pemain sandiwara tidak boleh menempati hunian ini,“ bebernya.
Selain main sandiwara, anggota Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih sering mendapat pekerjaan main film pendek mahasiswa IKJ yang membuat film pendek untuk tugas akhir kuliah. “Mereka bikin film pendek di sini,” ucapnya bangga.
Harapan Omah, Miss Tjijtijh jangan padam, terus ada dan tetap dilestarikan sampai kapan pun tetap akan diperjuangkan.
“Kita sekarang saingan dengan Youtube. Itu saingan kita, yang tanpa harus jalan sudah ada di hp. Kalau dulu hp belum ada belum ada You tube, sebenarnya persaingan sudah ada mulai dari tv swasta,“ ungkapnya.
Siapapun boleh menggunakan Gedung Miss Tjijih tapi tentu harus ijin dulu. “Tapi hanya untuk tempat pertunjukan kesenian. Kalau untuk acara pernikahan itu tidak diperbolehkan, “ tegasnya.
Kelompok Sandiwara Sunda Miss Tjitjih akan pentas untuk memperingati 90 Tahun Miss Tjitjih pada 23 April 2018 di TIM. Miss Tjitjih dimakamkan di Sumedang dan kalau mau pentas mereka ziarah dulu ke sana. 90 tahun eksis, meski kembang kempis, dalam mempertahankan kesenian tradisional, tentu patut kita apresiasi bersama.
