JAKARTA – Turnamen Princess Sirivannavari Thailand Masters 2018 yang dimulai Selasa (9/1/2018) menjadi pembuka tur dunia (turnamen Grade 2) bulu tangkis pada musim 2018.
Berdasarkan laman resmi Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) yang dipantau di Jakarta, Selasa, Thailand Masters merupakan satu dari 11 turnamen Super 300 (Level 5) yang menawarkan total hadiah 150 ribu dolar AS.
Selepas Thailand Masters, pada Januari 2018 tur dunia akan diikuti oleh tiga turnamen Super 500 (Level 4) yang akan dilangsungkan di Malaysia, Indonesia dan India.
Februari akan menjadi bulan yang “sepi” tur dunia karena di saat bersamaan sebagian besar pemain top akan sibuk mewakili negaranya dalam kejuaraan konfederasi benua masing-masing (perorangan dan beregu). Satu-satunya tur dunia pada bulan ini adalah Swiss Terbuka (Level 5) di pekan ketiga.
Tur dunia berlanjut ke Benua Eropa pada Maret dengan Jerman Terbuka (Level 5) pada 6-11 Maret, All England (Level 2/Super 1.000) pada 14-18 Maret.
Pada April, tidak ada tur dunia, hanya ada satu tur Level 6 (Super 100) yakni China Level 6 pada 10-15 April. Tur dunia tersebut baru ada lagi pada bulan Mei, dimulai oleh dua turnamen Level 5 yang dilangsungkan di Selandia Baru (1-6 Mei) dan Australia (8-13 Mei).
Pada Mei juga ada Kejuaraan Beregu Piala Thomas dan Uber (turnamen Grade 1) yang akan dilangsungkan di Bangkok pada 20-27 Mei.
Tur dunia berlanjut ke Amerika Utara pada Juni dengan turnamen Amerika Terbuka (Level 5) pada 12-17 Juni sebelum kembali ke Benua Asia dengan Malaysia Terbuka (Level 3/Super 750) pada 26 Juni hingga 1 Juli.
Selepas dari Malaysia, turnamen berlanjut dengan turnamen Indonesia Terbuka (Level 2) pada 3-8 Juli, Thailand Terbuka (Level 4) pada 10-15 Juli, Singapura Terbuka (Level 4) pada 17-22 Juli. Bulan ini ditutup dengan turnamen Grade 1, Kejuaraan Dunia yang akan dilangsungkan di Nanjing, China, pada 30 Juli hingga 5 Agustus.
Pada bulan Agustus, para pemain top akan memiliki kesempatan untuk beristirahat selepas Kejuaraan Dunia. Tur dunia pada bulan ini hanya ada Spanyol Terbuka (Level 5) mulai 28 Agustus hingga 2 September.
Pada September ada tiga tur dunia lagi dengan jadwal yang cukup padat yakni Jepang Terbuka (Level 3) pada 11-16 September, dilanjutkan China Terbuka (Level 2) pada 18-23 September serta Korea Terbuka (Level 4) pada 25-30 September.
Pada Oktober, ada empat turnamen tur dunia yang juga akan memadatkan musim 2018 yakni Taiwan Terbuka (Level 5) pada 2-7 Oktober, Denmark Terbuka (Level 3) pada 16-21 Oktober, Prancis Terbuka (Level 3) pada 23-28 Oktober dan ditutup oleh turnamen Makau Terbuka (Level 5) pada 30 Oktober hingga 4 November.
Di bulan November, lagi-lagi ada empat jadwal tur dunia yang dimulai oleh China Masters (Level 3) pada 6-11 November, Hong Kong Terbuka (Level 4) pada 13-18 November, Syed Modi International (Level 5) pada 20-25 November dan Korea Masters (Level 5) pada 27 November hingga 2 Desember.
Tur dunia musim 2018 akan ditutup oleh turnamen berhadiah total 1,5 juta dolar World Tour Finals (Level 1) di Guangzhou pada 12-16 Desember.
Dengan jadwal yang cukup padat tersebut, tentu dibutuhkan kejelian dari para pemain untuk memilah mana turamen yang akan mereka ikuti sebagai strategi untuk menjaga performa terbaik mereka, terlebih untuk pemain yang termasuk kategori “senior” seperti pasangan Indonesia Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.
Apalagi, BWF mengeluarkan regulasi yang mewajiban pemain tunggal di jajaran peringkat 15 besar dunia, serta pemain ganda di 10 besar dunia, pada musim 2018 harus mengikuti 12 turnamen dalam setahun yang terdiri dari tiga turnamen level 2, lima turnamen level 3, serta empat dari tujuh turnamen level 5.
Pasalnya, pasangan yang masih menjadi andalan Indonesia tersebut, memiliki fokus untuk berprestasi di pergelaran Asian Games 2018 di Indonesia di mana pada empat tahun lalu di Asian Games Incheon 2014, Tontowi/Liliyana hanya mendapat medali perak.
“Untuk musim 2018, lawannya itu-itu saja sebenarnya, paling beda partner. Kami mesti lebih siap lagi, pemain selevel kami harus lebih selektif dalam memilih turnamen. Agak mikir juga tahun 2018 ada 12 turnamen yang wajib diikuti, cukup berat buat kami. Kalau ikut saja sih bisa, tetapi bisa nggak hasilnya maksimal?,” tutur Liliyana, dalam keterangan PP PBSI. (Ant)