BEIJING – Hujan salju di wilayah tengah China sejak Rabu (4/1/2018) hingga Sabtu (6/1/2018) menyebabkan jatuhnya korban jiwa. Sementara dilaporkan kejadian tersebut juga menyebabkan adanya kerugian materi dalam jumlah besar.
Biro Urusan Sosial Masyarakat Pemerintah Provinsi Hubei melaporkan, seorang warga setempat tewas dan 510.000 jiwa terdampak hujan lebat salju. Pemprov Hubei terpaksa mengevakuasi 682 warga. Sementara 286 unit rumah warga rata dengan tanah, 826 unit rumah rusak, dan 31.380 hektare areal pertanian dipastikan gagal panen sehingga total kerugian akibat bencana tersebut mencapai 723 juta RMB atau seiira Rp1,5 triliun.
Ketebalan salju akibat hujan salju lebat mencapai 30 centimeter. Dan huljan salju lebat terpantau masih terlihat di beberapa kota di Provinsi Hubei, di antaranya Xiangyang dan Suizhou. Di Provinsi Jiangsu, 13 jalur kereta api cepat masih ditutup karena rel dipenuhi salju sehingga kereta rawan tergelincir. Jiangsu merupakan jalur kereta api paling strategis dan padat karena menghubungkan dua kota besar yakni Beijing dengan Shanghai.
Sementara itu, 51 lokasi wisata yang tersebar di sembilan kota di Provinsi Anhui ditutup untuk alasan keamanan para pengunjung. Kantor Pemprov Anhui menyatakan, bahwa hujan salju pada awal tahun ini merupakan peristiwa terburuk sejak 2008. Sembilan tahun lalu huljan salju menewaskan 13 orang sehingga menyebabkan kerugian perekonomian senilai 1,26 miliar RMB atau sekira Rp2,6 triliun dan kerugian yang diderita oleh para petani mencapai 790 juta RMB atau setara dengan Rp1,6 trliun.
Selain Hubei, Anhui, dan Jiangsu, beberapa provinsi lain di wilayah tengah dan utara daratan Tiongkok, seperti Henan, Hunan, dan Shaanxi juga dilanda hujan lebat salju. Badan Meteorologi China (NMC) memperkirakan hujan salju deras akan terjadi di wilayah selatan, seperti Guangxi Zhuang, Jiangxi, Hunan, Fujian, dan Guangdong, mulai Minggu (7/1/2018) pukul 08.00 waktu setempat.
Karena situasi yang cukup buruk, NMC merekomendasikan pemerintah setempat untuk mengambil tindakan yang diperlukan, seperti memutus aliran listrik di daerah rawan untuk menghindari bencana. “Beberapa provinsi tersebut akan mengalami hujan lebat dengan intensitas 120 milimeter dalam kurun 24 jam,” ujar NMC dalam pernyataan prakiraan cuaca, Minggu (7/1/2018). (Ant)