NEW YORK – Harga minyak dunia mengalami penurunan pada akhir sesi perdagangan Selasa (30/1/2018) atau Rabu (31/1/218) pagi Waktu Indonesia Barat (WIB). Penurunan diakibatkan oleh sikap para investor menunggu laporan data persediaan minyak mentah Amerika Serikat.
Badan Informasi dan Energi AS (EIA) akan merilis data persediaan minyak mentah AS dalam laporan mingguannya pada Rabu (31/1/2018). Para analis memperkirakan data resmi tersebut akan menunjukkan penambahan stok, setelah turun selama 10 minggu berturut-turut.
Sementara itu, Badan Energi Internasional (IEA) mengatakan pada awal bulan ini diperkirakan produksi AS melebihi Arab Saudi. Diperkirakan produksi akan naik di atas 10 juta barel per hari pada 2018.Kondisi tersebut menjadi kekhawatiran terbaru atas membanjirnya pasokan global membebani pasar.
Para analis khawatir bahwa pertumbuhan produksi minyak mentah dari AS, Kanada dan Brasil akan lebih dari sekedar memenuhi proyeksi pertumbuhan permintaan global untuk sisa tahun ini. Patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Maret turun 1,06 dolar AS menjadi menetap di level 64,50 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.
Sementara itu, patokan global, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Maret, turun 0,44 dolar AS menjadi ditutup pada 69,02 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange.
Sementara itu ExxonMobil pada Selasa (30/1/2018) mengumumkan, bahwa pihaknya berencana meningkatkan produksi harian hingga tiga kali lipat. Jika dilakukan maka jumla produksinya akan mencapai lebih dari 600.000 barel.
Dikatakan dalam siaran persnya, perubahan terbaru dalam tarif pajak AS menciptakan lingkungan untuk meningkatkan investasi modal di masa depan. Termasuk rencana ExxonMobil membelanjakan lebih dari dua miliar dolar AS untuk infrastruktur transportasi guna mendukung operasi Permian.
ExxonMobil adalah salah satu operator paling aktif di Cekungan Permian. Untuk membantu mencapai pertumbuhan ini, jumlah rig horizontal di Permian diperkirakan akan meningkat lebih lanjut sebanyak 65 persen dalam beberapa tahun ke depan. Perusahaan tersebut telah melipatgandakan panjang bor per harinya di sumur-sumur horizontal di Permian sejak awal 2014 dan mengurangi biaya pengeboran per kaki sekitar 70 persen.
Presiden anak perusahaan ExxonMobil, XTO Energy Sara Ortwein mengatakan, bahwa mereka dapat memberikan produksi yang menguntungkan. “Dan kami memiliki keunggulan logistik dan teknologi dibandingkan pesaing kami,” tandas Ortwein. (Ant)