Harga Jual Cabai Capai Rp38 Ribu, Petani Justru Gagal Panen
YOGYAKARTA — Saat harga jual cabai di pasaran melonjak cukup tinggi, sejumlah petani di kawasan pesisir selatan Kulonprogo justu harus mengalami kerugian akibat gagal penen. Seperti dialami Kemino (53) warga dusun Karangwuni, Wates, Kulonprogo, Yogyakarta.
Lahan cabai seluas 1000 meter persegi milknya mengalami gagal panen cukup parah. Ia pun tak mampu memanen tanaman cabai miliknya sedikit pun, akibat serangan hama berupa penyakit vurus kekek atau jamur serta serangan lalat buah.
“Banyak lahan cabai di kawasan ini mengalami gagal panen. Semua karena serangan kekek dan lalat buah. Termasuk saya sendiri. Sejak awal tanam bulan Oktober sampai sekarang, saya belum sempat lanen sama sekali,” katanya Senin (15/01/2018).
Banyaknya lahan cabai yang terserang hama penyakit itu menurut Kemino disebabkan karena pengaruh cuaca buruk beberapa waktu lalu. Hujan deras selama berhari-hari mengakibatkan tanaman mudah terkena hama penyakit dan akhirnya rusak.
“Biasanya dari lahan ini saya paling tidak bisa panen sampai satu kwintal cabai. Tapi ini gagal total. Belum sekalipun saya bisa panen dan jual,” keluhnya.
Kemino mengaku lebih kecewa karena harga jual cabai di tingkat petani saat ini sedang melonjak cukup tinggi. Yakni mencapai Rp38 ribu per kilogramnya.
Lonjakan harga cabai itu sendiri disebabkan karena memang stok ketersediaan barang dipasaran minim, akibat banyaknya petani mengalami gagal panen.
“Memang menanam cabai saat musim penghujan seperti saat ini resiko gagal panen cukup tinggi. Namun petani tetap menanam cabai karena mengejar harga jual yang bisasanya selalu naik. Karena otomatis saat musim penghujan, lebih banyak petani memilih menanam padi,” ujarnya.
Melihat kegagalan panen cabai kali ini, para petani termasuk Kemino sendiri mengaku hanya bisa pasrah. Pasalnya serangan berupa virus kekek merupakan penyakit yang menjadi momok petani cabai selama ini, karena belum ada obat yang mampu mengobati.