Fasilitas Air Bersih Minim, Warga Kelawi Gunakan Air Sungai
LAMPUNG – Warga Dusun Kubang Gajah, Desa Kelawi, masih mengeluhkan kondisi akses air bersih untuk kebutuhan sehari-hari di antaranya keperluan mandi, mencuci sehingga masih memanfaatkan air dari sungai Kubang Gajah.
Menurut Kholifah (35) salah satu ibu rumah tangga di dusun tersebut, sebagian warga yang mampu disebutnya mampu membuat sumur dalam. Sebagian membuat sumur bor meski membutuhkan biaya mahal.
Sebagian warga termasuk Kholifah memanfaatkan air bersih dengan mempergunakan mesin sedot meski dalam saat hujan sungai tersebut kondisi air keruh dan kotor. Warga harus melakukan proses pengendapan air tersebut di bak-bak khusus. Selain air yang kotor Kholifah dan anak-anaknya menyebut kerap mengalami gatal-gatal pada bagian kulit seusai mandi di sungai tersebut.
“Air sungai Kubang Gajah semula memang bisa dipergunakan untuk mandi dan mencuci namun semenjak ada proyek jalan tol Sumatera sungai yang kami manfaatkan kerap tertimbun dengan pasir bahkan berwarna kecoklatan,” terang Kholifah, salah satu warga Dusun Kubang Gajah Desa Kelawi Kecamatan Bakauheni, saat ditemui Cendana News, Jumat (19/1/2018).

Kholifah menyebut lebih baik mengeluarkan uang untuk membeli air bersih galon dengan harga Rp5.000 per galon berisi 19 liter untuk pemakaian selama tiga hari. Faktor kesehatan disebutnya mendorong dirinya lebih baik membeli air galon karena semenjak tiga tahun terakhir warga sudah tak bisa memanfaatkan air dari sungai yang sebagian dibuat belik-belik kecil untuk disalurkan ke bak-bak di dalam rumah.
“Semenjak ada limbah tol berupa material tanah dan pasir warga harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membeli air bersih sementara kebutuhan air bersih sangat vital,” beber Kholifah.
Selain di dusun Kubang Gajah, menurut Juanda, salah satu warga setempat, masyarakat di sekitar Sungai Kubang Gajah di antaranya di Dusun Serungku dan Dusun Kepayang juga memperoleh bantuan sumur bor dengan sistem penyaluran air bersih mempergunakan pipa-pipa pvc dan disambungkan ke perkampungan penduduk dengan sistem membayar Rp3.000 per kubik. Sistem tersebut diakuinya cukup membantu karena air yang dipakai lebih bersih dibandingkan memanfaatkan air sungai.

Juanda berharap kondisi air sungai Kubang Gajah yang biasa dimanfaatkan warga akan kembali normal karena ia menyebut saat musim hujan sungai tersebut tertimbun pasir dan sebagian belik milik warga tergenang pasir.
Meski air sungai sudah tidak dimanfaatkan secara maksimal oleh masyarakat namun menurut Juanda sebagian warga masih bisa mendapatkan hasil dari menjual pasir dengan harga Rp45 ribu per kubik.
Hasil penjualan pasir tersebut dimanfaatkan oleh warga untuk keperluan sehari-hari termasuk membeli air bersih dengan mempergunakan galon. Sebagian warga bahkan harus mengambil air bersih dari bak penampungan air komunal dengan proses mengambil air bersih untuk keperluan sehari-hari secara gratis. Sebagian warga bahkan membeli air bersih dari pemilik sumur bor pribadi dengan harga Rp2.000 per jerigen berkapasitas 20 liter.
