MATARAM — Dinas Kesehatan Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, saat ini masih menangani empat kasus gizi buruk yang merupakan sisa penanganan pada 2017.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr H Usman Hadi di Mataram, Sabtu, mengatakan, pada 2017 terdapat tujuh kasus gizi buruk dengan tiga kasus di antaranya sudah tertangani atau keluar dari status gizi buruk.
“Empat kasus yang kami tangani saat ini memiliki penyakit bawaan yakni jantung dan gangguan ginjal,” katanya.
Dikatakan, empat kasus gizi buruk tersebut sudah menjalani rawat inap di rumah sakit dan sekarang melakukan perawatan di rumah masing-masing namun tetap dipantau oleh petugas kesehatan dari puskesmas setempat.
Para penderita gizi buruk ini secara berkala mendapatkan bantuan makanan dan sembako yang disebut formula 100 dan formula 75 yang berisi susu, minyak goreng, biskuit, margarin dan lainnya.
“Usia penderita gizi buruk ini rata-rata di bawah lima tahun, dan saat ini mereka sedang menunggu usia cukup untuk dilakukan operasi penanganan penyakit bawaan agar bisa bebas dari status gizi buruk,” katanya.
Sementara menyinggung tentang gizi kurang, Usman mengatakan berdasarkan data sementara kasus gizi kurang di Mataram tercatat sekitar 60 kasus.
“Data ini masih data awal yang belum divalidasi lagi,” katanya.
Untuk penanganan balita gizi kurang, Dinkes Mataram menerapkan budaya “bekerayanan” atau makan bersama. “Penerapan ‘bekerayanan’ ini cukup efektif meningkatkan nafsu makan anak yang secara otomatis meningkatkan gizi balita,” katanya.
Ia mengatakan, pola mengatasi anak dengan gizi kurang atau balita dengan status gizi di bawah garis merah (BGM), dengan “bekerayanan” yang merupakan salah satu tradisi di Pulau Lombok, telah dicoba di tiga puskesmas.
Tiga puskesmas itu adalah Puskesmas Karang Pule, Pejeruk dan Puskesmas Mataram, yang sudah berjalan dan hasil evaluasi cukup bagus.
Bahkan untuk di Puskesmas Karang Pule mereka memiliki program tambahan sendiri yakni “beriok tinjal meriri gizi” yang artinya bersama saling dukung memperbaiki gizi.
Menurut Usman, dalam pelaksanaan kegiatan “bekerayanan” ini, anak-anak BGM, hasil identifikasi di posyandu dikumpulkan pada hari tertentu untuk makan bersama (bekerayanan).
“Untuk makanan tidak kita siapkan, tapi mereka membawa sendiri-sendiri dari rumah dan hanya datang untuk makan bersama bahkan anak-anak bisa sambil bermain,” katanya. [ant]