Di 2025, Mayoritas Penduduk Tinggal di Perkampungan Kota
YOGYAKARTA – Diprediksikan pada 2025 mendatang, 68 persen penduduk Indonesia akan tinggal di perkampungan kota. Prediksi tersebut disampaikan Dosen Jurusan Pendidikan Teknik Sipil dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Sativa.
Hanya saja Sativa menyebut, kepadatan penduduk yang diikuti dengan kepadatan bangunan di kampung kota akan memiliki dampak. Efek yang terjadi bagi penduduk bisa terjadi dari sisi fisik maupun non fisik terutama bagi perkembangan anak.
“Di perlukan ruang sosial bagi anak untuk melakukan proses interaksi dengan teman sebayanya. Pasalnya kemampuan anak untuk bersosialiasi akan menentukan kesuksesan masa depannya,” ujarnya dalam alam ujian terbuka promosi doktor Ilmu Arsitektur Fakultas Teknik UGM, Selasa (30/01/2018).
Sativa secara khusus melakukan riset mengenai ruang sosial anak dengan meneliti keberadaan ruang sosial anak di kampung Ngampilan, Kota Yogyakarta. Riset dilakukan dengan pendekatan rasionalistik dan penggalian data menggunakan metoda Environmental Behavioral Studies yakni observasi lapangan, place centres map, physical traces dan wawancara.
Dari hasil penelitin tersebut, Sativa mendapatkan gambaran, bahwa wujud ruang sosial anak di kampung Ngampilan merupakan ruang fisik di dalam area kampung yang biasanya digunkan anak-anak untuk saling berinteraksi. Keberadaannya terbentuk secara organik.
Wujud tersebut dipengaruhi oleh kepadatan penduduk dan bangunan yang tinggi, batas kampung yang tegas serta lokasi kampung yang berada di bantaran sungai. “Secara fisik ruang tersebut memiliki variasi yang dapat dikategorikan berdasarkan derajat keterbukaan ruang, derajat kenaturalan ruang, dan derajat fiksasi elemen ruang,” katanya.
Namun begitu Sativa menyebut, perilaku anak dalam pemanfaatan ruang sosial anak sangat bervariasi. Kegiatannya tergantung jenis aktivitas dan pola pergerakan yang dipengaruhi oleh aspek fisik dan non fisik. “Hasil interaksi antara anak dan orang tua serta komunitas kampung dapat terwujud dengan adanya atribut ruang sosial anak yang sesuai dengan kebutuhan anak yakni sosialitas, aksesibilitas, teritorialitas, adaptibilitas, oportunitas, kenyamanan termal, tantangan, kenyamanan visual, keselamatan dan privasi,” paparnya.