MOGADISHU – Somalia mengupayakan tindakan mendesak mencegah perekrutan dan penggunaan tentara anak-anak dalam konflik bersenjata di negara Tanduk Afrika tersebut.
Pernyataan bersama wakil penting dari pemerintah dan negara bagian anggota federal yang dikeluarkan di Mogadishu, perekrutan dan penggunaan anak-anak adalah keprihatinan keamanan utama dan memiliki potensi untuk merusak upaya yang ditujukan untuk mewujudkan perdamaian yang langgeng di Somalia.
Penasehat Perlindungan Anak di Misi Uni Afrika di Somalia (AMISOM) Musa Gbow menekankan, pentingnya untuk mengajukan peta jalan yang akan diterjemahkan menjadi dokumen kebijakan dan dilaksanakan di tingkat regional serta federal.
“Tujuan kami ialah memiliki strategi keluar-peralihan yang mulus, tapi kita tak bisa membiarkan kevakuman. Kita harus memastikan pemerintah federal dan negara bagian anggota federal terus bekerjasama terutama berkaitan dengan penanganan pencegahan perekrutan dan penggunaan anak-anak sebagai tentara dalam konflik di Somalia,” kata Bow dalam pertemuan perwakilan negara-negara di Afrika tersebut.
Bermacam perangkat internasional di seluruh dunia menjadikan perekrutan dan penggunaan anak-anak dalam konflik bersenjata sebagai perbuatan pidana. Data statistik yang tersedia juga memperlihatkan bahwa 70 persen anak dalam konflik bersenjata di Somalia direkrut oleh kelompok garis keras Ash-Shabaab.
Selama pertemuan yang diselenggarakan oleh AMISOM, juga dilakukan pembahasan cara mencegah perekrutan dan penggunaan anak-anak dalam konflik bersenjata. Forum tersebut menyediakan tempat bagi berbagai departemen pemerintah termasuk Sektor Keamanan untuk campur-tangan bersama militer AMISOM, untuk tampil dengan penyelesaian nyata bagi masalah itu.
Deputi Wakil Khusus Ketua Komisi AU (DSRCC) Simon Mulongo mengatakan, misi AU sedang menangani masalah penggunaan anak sebagai tentara dalam konflik bersenjata sebagai bagian dari pengaturan peralihannya. “Itu-lah ketika kami beralih dari kegiatan yang dikelola dan diawasi oleh AMISOM, kami ingin mempersiapkan rakyat Somalia untuk menangani program ini sendiri,” kata Mulongo.
Laporan Dewan Keamanan PBB mengenai Anak-Anak dan Konflik Bersenjata di Somalia yang dikeluarkan pada Januari, 5.933 anak lelaki dan 230 anak perempuan direkrut sebagai tentara bocah antara 1 April 2010 hingga 1 Juli 2016.
Data statistik memperlihatkan peningkatan antara 2012 dan 2014, tapi jumlah itu naik tajam pada 2016, ketika 1.092 anak digunakan sebagai tentara bocah dalam enam bulan pertama. (Ant)