Produk Olahan Bawang Inovasi Warga Brebes

BREBES  — Brebes identik dengan bawang. Bahkan Brebes dijuluki ‘Kota Bawang’. Tapi harga bawang yang selalu tidak menentu membuat para petani di Brebes mengeluh. Karena menanam bawang kini lebih sering merugi dengan rendahnya harga bawang.

Berangkat dari keprihatinan ini, sejumlah warga Brebes berinisiatif membuat olahan bawang menjadi krupuk bawang dan stik bawang. Hal itu tentu dilakukan agar bawang lebih mempunyai nilai jual.

“Harga bawang yang selalu tidak menentu, bahkan lebih cenderung rendah harganya, membuat kami para petani di Brebes sering merugi,” keluh Suparno, petani bawang Brebes kepada Cendana News, beberapa waktu lalu.

Adapun, Mobinta Kusuma, pendamping program/mentor usaha Brebes, mengatakan, “Saya mentoring usaha di Desa Larangan, Brebes, desa kelahiran saya. Ini inisiatif kita membuat olahan bawang menjadi krupuk bawang dan stik agar bawang lebih mempunyai nilai jual. “

Lebih lanjut, Mobinta menerangkan, “Nama kegiatannya PKUR (Program Ketrampilan usaha rakyat), penyokong dananya dari Yayasan Baitul Mal BRI Pusat Jakarta senilai 79 juta rupiah. Uang sebanyak itu untuk pembelian alat, pelatihan, ijin PiRT dan modal produksi.”

Menurut Mobinta, jumlah pesertanya 17 orang ibu-ibu mustahik. “Mustahik itu adalah orang yang berhak menerima zakat, “ ungkapnya.

Tujuan Yayasan Baitul Mal BRI memberi modal kepada orang ibu-ibu mustahik untuk meningkatkan ketrampilan mustahik melalui usaha. “Sehingga bisa mandiri, produktif dan lebih sejahtera, “ bebernya.

Mobinta menyampaikan, pencairan dananya September 2017, sedangkan pelatihannya Oktober 2017. “Jenis usaha olahan bawang merah, yaitu krupuk bawang, stik bawang dan aneka roti,” urainya.

Ketika ditanya, kenapa pilihannya produk krupuk bawang, stik bawang dan roti? Dengan tenang, Mobinta memberikan jawaban, “Peluang di desa masih tinggi terhadap konsumsi produk, sehingga cash flow produk bisa dihitung harian.”

Pemasarannya masih di lokal desa. Strategi pemasaranya, melalui media sosial Facebook, WhatsApp, hingga warung kecil, swalayan, dan toko oleh-oleh.

Alhamdulillah, omzet mingguannya sampai November berkisar 500 ribu hingga satu juta rupiah per minggu. Permintaan produk mulai direspon masyarakat, “ tuturnya penuh rasa syukur.

”Program ini ditunjukkan pedagang kecil dan masuk kategori miskin. Jadi, YBM-BRI tidak memberikan ikan, tetapi memberi kail yang artinya kami berharap bisa berupaya mandiri menggerakkan ekonominya,” tandasnya.

Produk hasil olahan bawang merah /Foto: Istimewa/Akhmad Sekhu.
Lihat juga...