Pemkab Lebak Diminta Sediakan Fasum Disabilitas

LEBAK — Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, diminta menyediakan sarana fasilitas umum untuk penyandang disabilitas guna memberikan kemudahan dalam melakukan kegiatannya.

“Kami berharap fasilitas umum (Fasum) untuk warga difabel dapat dipenuhi,” kata Deni Budiani Permana (40), seorang difabel warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak, Minggu (3/12/2017).

Permintaan fasum difabel itu sehubungan memperingati Hari Disabilitas Internasional.

Selama ini, masyarakat penderita difabel kesulitan jika melakukan kegiatan karena banyak gedung bangunan yang tidak menyediakan sarana fasum khusus difabel.

Misalnya, kata dia, Gedung Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), Gedung Kantor Pemkab Lebak, Gedung RSUD Adjidarmo juga Gedung SMAN 1 Rangkasbitung tidak menyediakan tangga khusus untuk penyandang difabel.

Selain itu juga pembangunan penataan trotoar, jalan, terminal dan stasiun kereta api.

“Kami sebagai warga penyandang difabel itu sangat berharap fasum khusus difabel dipenuhinya,” kata dosen AMIK Rangkasbitung itu.

Menurut dia, selama ini penyandang disabilitas kesulitan untuk mendatangi gedung pemerintah daerah maupun pelayanan rumah sakit,terminal dan stasiun, karena tidak disediakan kemudahan sarana itu.

Semestinya, pemerintah daerah memberikan kemudahan untuk penyandang difabel, seperti jalur khusus atau kursi roda.

Ia juga meminta Gedung Perpustakaan juga menyediakan tangga khusus untuk penyandang disabilitas.

“Kami minta pmerintah daerah ke depan agar melaksanakan pembangunan yang ramah terhadap penyandang disabilitas,” katanya menjelaskan.

Ia juga mengatakan, warga penyandang disabilitas di Kabupaten Lebak jumlahnya cukup banyak sehingga perlu mendapat perhatian pemerintah daerah.

Mereka para penyandang itu masih “dianaktirikan” sebagai warga negara dalam menerima fasum maupun pekerjaan.

Sejauh ini, kata dia, para penyandang disabilitas masih diskriminasi dalam penerimaan pekerjaan maupun jabatan lainya.

“Kami dulu tes ujian lowongan PNS pada tahap pertama ujian kompetensi lulus, namun tes berikutnya tidak lulus,” kata alumni IPB itu.

Begitu pula, Samsudin, seorang penyandang disabilitas warga Rangkasbitung Kabupaten Lebak mengaku dirinya kesulitan jika naik kereta api, karena pihak stasiun setempat tidak menyediakan roda khusus untuk penyandang cacat tubuh.

“Kami jika naik kereta api mendapat bantuan penumpang lain untuk naik ke atas gerbong hingga turun dari gerbong,” katanya.[Ant]

Lihat juga...