Berburu Berkah Gunungan Garebeg Maulud Kraton Surakarta

SOLO – Garebeg Maulud Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat selalu menjadi daya tarik bagi ribuan masyarakat di Solo dan sekitarnya. Hampir saban tahun, warga tidak akan melewatkan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Meskipun harus menempuh perjalanan jauh maupun menunggu berjam-jam.

Begitulah yang dirasakan sebagian besar pengunjung Garebeg Maulud Kraton Surakarta. Ribuan warga, baik dewasa, anak-anak, laki-laki maupun perempuan, tumpah ruah di halaman Masjid Agung. Guyuran hujan ringan seakan menjadi pelepas lelah di tengah menunggu dua pasang Gunungan Garebeg Maulud yang dikirab dari kraton menuju Masjid Agung untuk didoakan terlebih dahulu sebelum diperebutkan.

Suasana berpeluh dan kondisi perut kosong karena lupa makan, membuat seorang nenek dari Eromoko, Wonogiri terpaksa harus dibopong tersebab pingsan. Perempuan lansia itupun mendapat perawatan di sudut masjid sisi utara, sebagai pos kesehatan di Masjid Agung.

Sarmin, warga Ampel, Boyolali yang mendapatkan jerami dan ketela pohon. Foto: Harun Alrosid

“Mbah Parinem berangkat sejak Subuh tadi, sampai sini belum sarapan. Mungkin karena lelah menunggu dan perut kosong jadi pingsan,” kata Joko Sugiri, tetangga Parinem kepada awak media, Jumat (1/12/2107).

Bagi mereka yang usianya sudah mulai senja, Garebeg Maulud yang akrab dikenal sebagai tradisi Sekaten tak hanya sebagai rangkaian perayaan dalam kalender Islam. Jauh dari itu, Garebeg Maulud menjadi hal yang sakral, untuk bisa mencari berkah dari gunungan yang berisi hasil bumi dari Kraton Kasunanan Surakarta yang sebelumnya telah didoakan.

Tak heran, warga pun rela menempuh belasan maupun puluhan kilometer dengan sepeda angin atau berjalan kaki untuk bisa mengikuti tradisi yang satu kali digelar dalam setahun tersebut. “Iki mou do ngontel kok le (Ini tadi pada naik sepeda, Nak,” ucap Paini salah satu warga Waru, Baki, Sukoharjo, yang kira-kira jaraknya sekitar 15 kilometer dari lokasi Garebeg.

Perempuan 56 tahun ini mengaku setiap tahun pasti datang di Garebeg Maulud Kraton Kasunanan Surakarta. Jauh-juah datang ke kompleks Masjid Agung Surakarta tak lain untuk ngalap berkah dari Gunungan Garebeg Maulud. “Golek berkat. Kalau dapat sayuran atau hasil bumi lain seperti cabai, kacang panjang atau ketela pohon bisa untuk pertanian agar subur dan panennya banyak,” aku Paini.

Sutini, salah satu warga Boyolali. Foto: Harun Alrosid

Berbeda lagi yang dikatakan Sarmin. Warga Ampel, Boyolali ini meyakini jika apa yang didapatkan dari berebut gunungan Garebeg Maulud akan mendatangkan berkah tersendiri. Bahkan sekedar jerami sisa-sisa dari gunungan yang ia dapatkan sengaja akan dibawa pulang.

“Kalau jerami ini untuk petarangan ayam. Biar bertelur dan beranak banyak. Kalau daun ditaruh di sawah biar panennya banyak. Begitu juga ketela juga mau saya tanam,” jelasnya kepada Cendana News.

Kendati demikian, tak sedikit pula mereka yang ikut berebut gunungan hanya ikut-ikutan. Sejumlah warga mengaku hanya ingin mendapatkan apa yang kebanyakan orang dapatkan dari berebut gunungan.

“Tidak tahu untuk apa. Pokoknya dibawa pulang saja. Siapa tahu dapat berkah,” tambah Sutini, yang mengaku warga Boyolali.

Garebeg Maulud sendiri sudah digelar sejak abad ke-14 pada zaman Kerajaan Demak. Garebeg Maulud yang rutin dilaksanakan setiap tanggal 12 Robiul Awal dalam kalender Islam ini menjadi salah satu kalender iven di kota Solo, Jawa Tengah.

Lihat juga...