LONG HUBUNG – Perkebunan sengon rakyat di Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, menjadi favorit petani setempat dalam beberapa tahun terakhir, karena pemeliharaannya tidak rumit dan hasilnya besar meskipun perlu waktu bertahun-tahun.
“Tanam sengon ini lumayan besar hasilnya dan tidak besar biaya operasionalnya, namun harus punya pekerjaan lain untuk biaya makan kita hari-hari, karena sengon baru ideal dijual setelah berumur lima tahun atau lebih,” ujar Lawing, pemilik kebun sengon di Kampung Mata Libaq, Long Hubung, saat ditemui pada Minggu (12/11/2017).
Untuk sengon yang sudah bisa dipanen atau ditebang, jelas Lawing, harganya mencapai Rp300.000 per kubik, sementara untuk sengon yang berumur sekitar 4 tahun mampu menghasilkan rata-rata 3 kubik per pohon dengan diameter sekitar 50 cm.
Sedangkan dalam 1 hektare dengan jarak tanam ideal, jumlah sengon yang ditanam bisa mencapai sekitar 500 pohon. Ini berarti dalam tiap hektare kebun sengon, dalam jangka 4-5 tahun petani mendapat penghasilan kotor mencapai Rp450 juta. Penghasilan sebesar ini diperoleh dari harga sengon Rp300.000 dikalikan 3 kubik per pohon dan dikalikan 500 pohon.
Penghasilan mencapai Rp450 juta itu jika petani hanya memiliki kebun sengon seluas 1 hektare, sedangkan rata-rata pekebun di daerah ini memiliki lebih dari 2 hektare kebun sengon yang merupakan salah satu tanaman bahan pembuat kertas.
Menurut Lawing, penghasilan kotor Rp450 juta itu masih harus dipotong biaya operasional menebang pohon, sehingga keuntungan bersihnya tinggal dipotong untuk biaya buruh potong atau biaya minyak dan sewa mesin pemotong jika mau menebang sendiri.
“Rata-rata warga sini menebang sendiri dan dibantu beberapa orang, sehingga satu pohon menghasilkan bersih rata-rata 3 kubik. Tapi, saya tidak mau repot menebang, jadi ketika ada pembeli datang, mereka saya suruh tebang sendiri, kemudian satu pohon yang seharusnya isi 3 kubik, saya hanya hitung 1 kubik. Biarlah mereka dapat untung juga,” ucapnya.
Ia menjelaskan, kebun sengon yang dimiliki ada 2 hektare dan ditanam sekitar empat tahun lalu. Lahan sengon tersebut sebelumnya merupakan kebun karet yang sudah ia tebang, karena harga karet mentah terlalu anjlok.
“Dulu saya punya kebun karet 7 hektare, kini tinggal 5 hektare, karena yang 2 hektare sudah jadi kebun sengon dan sudah panen. Saya juga punya sengon di lahan lainnya yang kini berumur 1,5 tahun dengan diameter sekitar 20 cm. Meski baru 20 cm, tapi sudah ada yang menawar, namun saya tidak mau jual karena masih terlalu kecil,” tutur Lawing. (Ant)