Rombongan dari Papua Barat Belajar Pengolahan Gaharu ke Lampung
LAMPUNG — Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat melakukan studi banding ke Lampung untuk mempelajari tata cara pengolahan gaharu. Rombangan yang terdiri dari 44 orang tersebut di antaranya anggota kelompok tani serta perwakilan dari Manokwari, Sorong, Maybrat serta kabupaten lain.
Baca Juga: KLHK Distribusikan 1,8 Juta Bibit Pohon untuk Lampung
Pendamping rombongan dan Kepala Bidang Pembinaan Hutan dan Perhutanan Sosial Dinas Kehutanan Provinsi Papua Barat, Ir. Herman Remetwa menyebutkan, mereka memilih Lampung karena keberadaan petani gaharunya produktif. Hal tersebut terlihat saat pameran yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) beberapa waktu lalu.
“Kita tertarik mempelajari cara pengolahan gaharu karena setelah kita survei ke beberapa provinsi di Indonesia hanya Lampung yang sudah mulai melakukan produksi gaharu hingga ke pemasaran,” terangnya kepada Cendana News di Kecamatan Ketapang Lampung Selatan, Rabu (1/11/2017).
Studi banding tersebut akan mengunjungi Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, Balai

Dalam kunjungan ke Persemaian Permanan BPDAS-WSS KLHK, peserta mendapat kesempatan melihat lokasi persemaian permanen seluas 3 hektar termasuk proses pembuatan media semai cetak dengan bahan baku kompos, cocopeat, tanah yang dicetak untuk penyemaian bibit.
Sementara itu, Manager Persemaian Permanen BPDAS-WSS Karangsari Kabupaten Lampung, Slamet menyebutkan, sepanjang tahun 2017 persemaian permanen telah memproduksi sebanyak 2.500.000 bibit untuk tanaman kayu dan tanaman multy purposes tree system (MPTS).
“Sebagian besar bibit sudah dibagikan kepada masyarakat secara cuma cuma dengan syarat benar benar ditanam dan bahkan bisa dimanfaatkan untuk reboisasi sekaligus memiliki nilai ekonomis,” terang Slamet.
Baca Juga: Sudah Gaharu Sejahterakan Petani Lampung Pula
Salah satu peserta mengaku Puryadi (50), warga Distrik Mariat Kabupaten Sorong menyebutkan, ia telah menanam pohon gaharu 80.000 batang di lahan seluas 18 hektar sejak tahun 2012 dan dalam dua tahun ke depan akan dipanen.

“Meski tujuan utama kami ingin belajar pengolahan gaharu namun banyak ilmu kami dapat di antaranya membuat media semai cetak agar meminimalisir penggunaan polybag,” beber Puryadi.