Religi Expo, Cara Banjarmasin Merawat Toleransi

BANJARMASIN – Puluhan stan pamer berdiri menjejali area wisata Siring Menara Pandang Jalan Piere Tendean, Kota Banjarmasin. Aneka stan pamer itu tidak sekedar menyuguhkan produk-produk komersial. Mayoritas dari peserta pameran justru menampilkan materi keagamaan, seperti Islam, Hindu, Kristen, bahkan penghayat kepercayaan Balian.

Maklum, tempat itu sedang menggelar Religi Expo 2017 yang dibuka pada 17-19 November 2017. “Kami ingin mengkampanyekan keberagaman di Kota Banjarmasin,” kata Ketua Pelaksana Religi Expo 2017, Muhammad Isya Azhari di sela pameran, Jumat (17/11/2017).

Menurut dia, Banjarmasin sudah tiga kali menggelar Religi Expo, dimulai sejak 2015. Pada iven tahun ini, ada 35 peserta yang terdiri atas komunitas keagamaan dan produk komersial yang mengisi stan pameran. Dari angka peserta sebanyak itu, 70 persen dari komunitas agama dan 30 persen produk komersial.

Ia menuturkan, gelaran semacam itu sangat penting di tengah ancaman disintegrasi bangsa. Isya berasumsi, toleransi beragama di Banjarmasin sejatinya cukup bagus. Namun, mengutip hasil riset BNPT di Kalimantan Selatan, Isya mengaku miris, karena toleransi beragamanya cukup mengkhawatirkan.

Itu sebabnya, ia mengajak komunitas keagamaan se-Kalimantan Selatan, turut ambil bagian di ajang Religi Expo 2017. “Maka, kami ingin menonjolkan komunitas keagamaan. Mereka bisa berkampanye nilai-nilai positif sesuai agama dan kepercayaannya. Intinya, kami ingin mengajak perdamaian,” katanya.

Salah satu peserta Religi Expo 2017 adalah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Selatan, yang mengusung komunitas penghayat kepercayaan Balian. Aliran kepercayaan Balian ini berkembang di masyarakat Dayak yang menghuni sepanjang lereng Pegunungan Meratus.

Lanskap Meratus membentang dari utara-selatan melintasi Kabupaten Tabalong, Balangan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Selatan, Banjar, Tanah Bumbu, dan Kotabaru.

Alhasil, AMAN Kalsel menyuguhkan aneka properti yang menggambarkan adat budaya Dayak dan kepercayaan Balian, seperti Bawang Dayak, anyaman akar-akaran, dan foto dokumentasi kehidupan warga Dayak Meratus.

Ketua AMAN Kalsel, Palmi Jaya, menuturkan suku Dayak Meratus lewat kepercayaan Balian sejatinya membawa misi perdamaian dan kelestarian alam. Menurut Palmi, Balian suatu keyakinan adat yang dianut Daya Meratus dalam kehidupan sehari-hari. Kepercayaan ini diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang Dayak Meratus.

“Kegiatan keagamaan Balian selalu melekat pada masyarakat adat dalam ritual-ritual adatnya untuk mendekatkan diri kepada Nining Bahatara (Tuhan Yang Maha Esa) dan leluhurnya,” kata Palmi Jaya.

Selain memuja kepada Tuhan dan nenek moyang, menurut Palmi, Dayak Meratus melaksanakan kepercayaan Balian untuk ritual pengobatan, penanaman padi, kelahiran, kematian, perkawinan, aruh adat, dan tolak bala. Setiap ritual upacara adat dipimpin oleh Gurujaya. Upacara Balian pun menyisipkan pesan-pesan kelestarian alam dan gotong royong antar sesama manusia.

“Ada juga Dewata sebagai ilmu kajian aruh adat dengan ritual sakralnya yang diwariskan leluhur untuk memberkati hasil panen. Balian itu bukan Kaharingan,” kata Palmi Jaya, menegaskan.

Palmi mengakui ada silang pendapat soal kepercayaan Kaharingan di masyarakat Dayak Meratus. Sebab, kata Palmi, mayoritas Daya Meratus sejatinya tidak mengenal Kaharingan—aliran kepercayaan mayoritas suku Dayak di Kalimantan Tengah.

“Masyarakat Loksado (sebuah Kecamatan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan –red) sebagian besar tetap menganut Balian. Kaharingan itu di Kalteng, bukan Kalsel, hanya penyebarannya (Kaharingan) sampai Kalsel. Masyarakat Loksado tidak  paham apa itu Kaharingan,” kata Palmi Jaya.

Lihat juga...