JAKARTA – Maraknya berita-berita hoax yang mewabah di masyarakat sekarang ini tak luput dari kurangnya pendidikan mengenai penggunaan internet secara baik dan benar. Dampak adanya penyalahgunaan media sosial ini sangat rentan menyerang anak-anak. Bahkan ada anggapan yang mendidik anak-anak bukan hanya guru, bukan hanya orang tua tapi juga media sosial. Kekuatan media sosial memang sangat mempengaruhi anak-anak.
“Jangan keliru, yang mendidik anak-anak kita sekarang bukan hanya guru, bukan hanya orang tua tapi media sosial, kekuatan keterbukaan dan media sosial sangat mempengaruhi anak-anak,” kata Presiden Joko Widodo (Jokowi) seusai memberi sambutan di acara ‘Simposium Nasional Kebudayaan’ di Balai Kartini, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Senin (20/11/2017).
Lebih lanjut, Jokowi cemas dengan pendidikan politik yang buruk diajarkan ke generasi penerus. Menurut dia, banyak elite politik yang justru ajarkan pendidikan politik tak baik dan hanya teriak-teriak saja. “Banyak elite politik kita memberikan pendidikan politik yang tidak baik kepada anak-anak kita,” ungkapnya.

Jokowi menyampaikan agar para senior dan tokoh lebih mengajarkan persatuan bangsa. Nilai-nilai kerukunan dan toleransi harus dicontohkan. “Banyak yang masih teriak-teriak, mulai antek asing, mengenai PKI bangkit. “Kalau saya, PKI bangkit gebuk saja, sudah gampang. Wong payung hukumnya jelas, kenapa harus bicara banyak soal ini,” tegasnya.
Jokowi heran mengapa masih ada yang bilang dirinya anti-Islam hingga anti-ulama. “Padahal kita menjalankan politik yang santun, “ pungkasnya.
Dian, salah satu peserta ‘Simposium Nasional Kebudayaan’ mengatakan, pembangunan karakter bangsa memang harus digalakkan agar setiap warga dapat melestarikan dan menyejahterakan negara Indonesia berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
“Anak-anak sekarang agak kurang ditanamkan cinta kebangsaan. Baiknya anak-anak diberikan pendidikan kebangsaan agar cinta tanah air,” harapnya.
Menurut Dian, media sosial sekarang terlalu bebas dan kebablasan. “Harus ada pendidikan bagaimana menggunakan media sosial yang baik dan benar. Kalau jaman dulu agak terlalu bebas langsung ada tindakan-tindakan,“ katanya.
Dian berharap agar media sosial lebih tertata dan ada batasan-batasannya.
“Agar supaya mereka tidak kebablasan, “ tandasnya.
Acara Simposium Nasional Kebudayaan diselenggarakan oleh Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan dan Putra-Putri TNI-Polri (FKPPI), PPAD, dan Yayasan Suluh Nasional Bangsa (YSNB). Mengusung tema ‘Pembangunan Karakter Bangsa untuk Melestarikan dan Menyejahterakan NKRI Berdasarkan Pancasila dan UUD 1945’. Acara tersebut juga dihadiri sejumlah menteri dan para purnawirawan TNI.