Poktan Canti Tanam Sengon untuk Investasi dan Reboisasi

LAMPUNG — Peran serta masyarakat dalam penghijauan lingkungan dan pelestarian alam terus digalakkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), melalui Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Way Seputih Way Sekampung (BPDAS-WSS), dengan persemaian permanen di Desa Karangsari, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan.

Salah satu petugas di pusat persemaian permanen, Nano (33), mengungkapkan pihaknya memfasilitasi masyarakat dalam penyediaan bibit dengan catatan masyarakat, kelompok tani, instansi melakukan proses penanaman bukan diperjualbelikan.

Nano menyebut, pola kemitraan persemaian permanen dengan masyarakat semenjak persemaian permanen tersebut dibangun pada 2011 dan mulai bisa menyediakan bibit sejak 2012 dilakukan dengan membagikan bibit ke sejumlah instansi, sekolah, desa untuk ditanam, meski program tersebut kurang efesien dan selanjutnya diubah menjadi sistem permintaan.

Permintaan dengan syarat tersebut, dilakukan agar bibit tertanam dengan baik sesuai peruntukan dan lahan yang akan ditanami benar-benar nyata, bukan fiktif sehingga potensi penyalahgunaan bibit untuk dikomersilkan bisa diminimalisir seperti untuk diperjualbelikan.

Nano, petugas di persemaian permanen BPDAS-WSS Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. [Foto: Henk Widi]
Menurut Nano, saat ini persemaian permanen menyediakan 39 jenis tanaman kayu-kayuan dan multy purpose tree system (MPTS) dengan rincian 24 jenis bibit tanaman kayu-kayuan dan 15 jenis tanaman MPTS yang disediakan secara gratis. Sepanjang 2017, sebanyak 2.500.000 bibit telah diproduksi dan terdistribusi sebanyak 1.084.551 atau masih tersisa sebanyak 1.415.449 bibit yang belum terdistribusi.

“Bibit kayu-kayuan dan tanaman lain sengaja masih disisakan untuk alokasi kebutuhan tahun depan, dengan tujuan persemaian permanen masih memiliki stok bibit, sehingga tidak terus-menerus dikeluarkan untuk ditanam masyarakat”, terang Nano, yang tengah mengawasi para pekerja melakukan proses perawatan bibit di persemaian permanen termasuk melakukan proses penyiraman dengan tekhnik pengairan otomatis, Minggu (5/11/2017).

Konsep menyisakan produksi bibit tersebut di persemaian permanen dikatakan Nano, memperhitungkan pola musim atau cuaca dengan memperhitungkan prakiraan cuaca dari Badan Metorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam memprediksi curah hujan yang berperan penting dalam penanaman pohon.

Permintaan bibit cenderung akan dipenuhi saat menjelang musim hujan, terutama saat musim hujan. Pemberian kebutuhan bibit kepada masyarakat tidak cukup efektif, baik untuk kebutuhan pribadi, instansi maupun keperluan lain yang justru berisiko bibit akan mati dalam kondisi kekurangan air.

Permintaan cukup tinggi dan dipenuhi terjadi bulan November dan Desember dengan prediksi curah hujan lebih banyak dan potensi hidup bibit tanaman berbagai jenis akan hidup, bahkan tanpa melakukan proses penyiraman buatan.

Abu Bakar, anggota kelompok tani yang akan menanam tanaman sengon sebagai investasi dan reboisasi lereng Gunung Rajabasa. [Foto: Henk Widi]
Abu Bakar (50), warga Desa Canti, Kecamatan Rajabasa yang tinggal di lereng Barat Gunung Rajabasa, mengaku telah mengajukan bibit sebanyak 5.000 batang untuk kebutuhan kelompok tani Tunas Mandiri yang akan ditanam sebagai tanaman investasi dan reboisasi.

Permintaan tersebut juga sekaligus dilakukan pascapanen tanaman sengon sebelumnya berumur enam tahun yang merupakan pembagian dari program Kebun Bibit Rakyat (KBR) Kementerian Kehutanan di era Zulkifli Hasan.

“Kami sengaja memilih tanaman sengon, karena pertumbuhannya cepat sekaligus sebagai investasi dengan rata-rata hasil cukup menguntungkan untuk dijual sebagai bahan palet”, terang Abu Bakar.

Pada lahan seluas satu hektare dengan tanaman sekitar 500 batang saja, dengan estimasi harga per batang Rp100.000, dirinya dan kelompok tani di lereng Gunung Rajabasa yang berada di luar kawasan hutan lindung bisa memperoleh hasil di atas Rp50 juta. Akses jalan yang baik ke perkebunan membuat proses distribusi kayu yang sekaligus sebagai tanaman reboisasi tersebut kini lebih mudah diangkut.

Sebelum memutuskan menanam sengon, Abu Bakar sebelumnya di areal perkebunan miliknya menanam berbagai jenis tanaman MPTS, di antaranya kemiri, durian, jengkol serta tanaman lain. Namun, kurang menghasilkan.

Selain sengon, ratusan tanaman pinang bahkan sengaja ditanam olehnya sebagai tanaman pagar pembatas dan bisa dipanen buahnya yang bernilai ekonomis dengan harga Rp4.000 per kilogram di tingkat pet

“Kami mengakui banyak tanaman kayu bisa jadi bahan reboisasi, namun banyak warga tidak sabar dengan tanaman menahun, sehingga menanam tanaman kayu yang bisa cepat dipanen, salah satunya sengon”, beber Abu Bakar.

Jenis tanaman durian, diakui Abu Bakar yang kini masih tumbuh dan dipertahankan bahkan merupakan tanaman sang kakek yang masih berbuah. Sementara, hasilnya mulai kurang memuaskan dan harus diremajakan dengan ditebang.

Penanaman kembali di kaki dan lereng Gunung Rajabasa yang masuk wilayah hutan lindung Register 3 diakuinya harus melibatkan masyarakat, agar masyarakat tidak merusak kawasan hutan dengan sosialisasi dan kemudahan memperoleh bibit kayu untuk ditanam, salah satunya dari persemaian permanen.

Lihat juga...