PADANG — Cukup banyak ragam budaya di Minangkabau, Sumatera Barat. Mulai dari budaya keseniannya, budaya dalam hidup bermasyarakat, dan lainnya, termasuk budaya dalam berpakaian.
Bicara pakaian, di Minangkabau ada pakaian khas bagi kaum perempuannya. Sesuai dengan filosofi di Minangkabau, Adat Basandi Sarak, Sarak Basandi Kitabullah (ABS-SKB), maka pakaian perempuan Minang harus menutup aurat sesuai dengan ketentuan di dalam ajaran agama Islam.
Seperti yang dikatakan oleh Ketua Bundo Kanduang Sumatera Barat, Puti Reno Raudha Thaib, pakaian perempuan Minang pada intinya merupakan pakaian yang menutup aurat. Namun, pakaian yang dikenakan tidak hanya sekedar pakaian biasa, tapi memiliki filosofi yang berdasarkan karakter dari masing-masing nagari di Sumatera Barat.

Ia menyebutkan, setidaknya ada sekira 600 model pakaian perempuan Minang yang tersebar di sejumlah nagari di Sumatera Barat. Adanya perbedaan model pakaian perempuan Minang ini, karena pengaruh tempat tinggal atau karakter dari masyarakatnya.
Seperti untuk masyarakat Minang yang tinggal dekat dari pantai, yakni Kota Padang, Kabupaten Padangpariaman, Kota Pariaman, Pasaman Barat, dan Kabupaten Pesisir Selatan, maka pakaian perempuannya lebih dominan berwarna merah, di mana hiasan dan pernak-perniknya ada ukiran ikan.
“Kenapa berwarna merah, karena yang namanya di pantai, warna merah merupakan warna yang mencolok untuk dipandang, sehingga sangat mudah dikenal. Apalagi, merah melambangkan keberanian, sementara perhiasannya emas, yang memperlihatkan perempuan Minang merupakan orang yang berpunya,” jelasnya, Minggu (5/11/2017).
Sedangkan, untuk masyarakat Minang yang tinggal di daerah dataran tinggi (darek), seperti di Solok, Agam, Padangpanjang, Bukittinggi, Payakumbuh, Limampuluh Kota, dan Solok Selatan, pakaian perempuan Minang dominan berwarna hitam, dan perhiasan yang digunakan juga terbuat dari emas, dengan ukuran yang berbeda.
Menurutnya, meski ada perbedaan model pakaian perempuan Minang, pada intinya makna atau filosofi yang terdapat pada pakaian perempuan ini sama. Berbeda model, akibat dari pengaruh daerah, seperti di darek cenderung suhu udara dingin, sementara di pantai suhu udara cenderung panas.
“Jadi, supaya saat mengenakan pakaian khas perempuan Minang ini tidak merasa gerah atau malah kedinginan, maka untuk kondisi berpakaian pun jadi menyesuaikan situasi dan kondisi,” ucapnya.
Bundo juga mengatakan, saat ini yang baru terdokumentasikan baru sekira 201 model pakaian perempuan Minang. Ia mengaku akan mendata atau mendekomentasikan pakaian-pakaian perempuan khas Minang itu, berdasarkan dari masing-masing nagarinya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat, Taufik Effendi, menyampaikan pakaian perempuan Minang merupakan salah satu Warisan Budaya Tak Benda. Namun, untuk mengumpulkan dan mencari informasi-informasi model dan keberadaan pakaian perempuan Minang itu, maka pemerintah bersama Bundo Kanduang melakukan pendokumentasian pakaian perempuan Minang melalui sebuah kegiatan.
“Kita di Dinas Kebudayaan menyebutkannya kegiatan dokumentasi pakaian perempuan Minang. Target kita nantinya khusus dari dokumentasi ini, akan melahirkan sebuah buku budaya yang berbicara pakaian perempuan khas Minang,” ungkapnya.
Menurutnya, selain sedang melakukan pendokumentasian model pakaian perempuan Minang, ke depan dokumentasi akan dilakukan terhadap pakaian pria khas Minang, dan dilanjutkan dengan Silek Minangkabau.
“Selama ini, dokumentasi dari budaya-budaya di Minangkabau ini masih sangat minim. Yang ada hanya sebagian kecil, sehingga pemahaman orang terhadap pakaian perempuan Minang pun menjadi setengah-setengah,” ujarnya.